
Sebuah pedesaan yang asri namun tidak ketinggalan zaman itu nampak sangat mempesona dengan ukuran ukiran khas Kekaisaran Jepang, Sakura masih belum terbangun. Yoshi sendiri bukan tidak berani membangunkan Sakura namun dia tidak tega melihat gadis kecil yang nampak lemah itu kelelahan.
Wajah Sakura pucat dan tubuhnya nampak jauh lebih kurus dari sebelumnya dia bertemu, rahang Sakura pun nampak lebih jelas terlihat dan sebuah kantung mata berwarna kehitaman nampak tertutup polesan bedak di wajah itu.
"Hoaam! Aduuuh ngantuk banget, Udah nyampe belum? " Tanya Sakura menatap keluar jendela dimana sebuah gapura nampak menyambutnya.
"Yoshi lo gak bangunin gua?" Bentak Sakura memukul kepala Yoshi yang sebelumnya ikut terlelap akibat kantuk.
"Aduuh! Lo kaya palu aja tukang ketok! Sakit tau!" Sungut Yoshi dan sebuah bantingan pintu mobil amat keras di layangkan Sakura saat dirinya keluar dari kendaraan itu.
"Gak ngajak dulu gue mampir?" Tanya Yoshi penuh harap dengan mata berbinar layaknya meminta belas kasihan.
"Lo mau ikut?" Tanya Sakura menatap kembali ke arah jendela mobil yang nampak terbuka, dengan cepat Yoshi mengangguk sebelum akhirnya Sakura berubah pikiran.
"Mimpi!" Ucap lagi Sakura seraya melambaikan tangannya dan memasuki kawasan tersebut, nampak pohon bunga Sakura di depan rumah sederhana itu yang belum berbunga, mata Sakura berbinar melihat rumah sederhana dengan gaya khas Jepang itu.
"Gue sekarang akan jadi orang biasa, ah.. Cape!" Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Raisa atau Sakura mengeluh dia merebahkan tubuhnya dalam papan kayu di balkon rumah tersebut dan menatap langit-langit rumah yang nampak terawat.
Dengan lelah yang ada di tubuhnya Sakura mulai merogoh saku tasnya dan menemukan sebuah kunci, dengan cepat Sakura memasuki rumah tersebut dan melihat sebuah alas tidur dan selimut yang tertumpuk rapih, Sakura langsung berhambur dan memeluk gundukan benda benda halus itu dan kembali tertidur.
Tanpa dia sadari pintu rumahnya masih terbuka, di luar rumah nampak seorang pria dengan wajah tua dan rambut mulai memutih menatap ke arah rumah Sakura, namun tiba tiba sebuah pukulan melayang pada pria itu.
Dengan sangat cekatan pria itu menghindar hingga angin dan dedaunan pun ikut bergerak, Yoshi nampak dengan gayanya yang seorang petinju siap menyerang pria itu, pria itu tersenyum sekilas dan dengan santainya menggaruk tengkuknya.
"Dasar tukang intip! Lo mau apain Sakura?" Tanya Yoshi dengan semburat nampak terukir di lehernya.
Sakura yang mendengar itu lantas keluar dan memperhatikan duel dua orang pria yang sangat dia kenali, Raisa tersenyum saat beberapa kali serangan Yoshi berhasil di tangkis dan alhasil pukulan di berikan pria tua itu.
"Waahh.. Semangat Pak Tua!" Ucap Sakura menepuk nepuk tangannya memberi semangat pada pria yang dia panggil Pak Tua yang tidak lain adalah Amry.
Seketika Yoshi berhenti saat Sakura memberikan semangat pada pria yang dia lawan, kini pikirannya rancau akibat kesalah fahamannya sendiri.
"Kamu kenal dia?" Tanya Yoshi menunjuk pria tua di hadapannya, Sakura mengangguk dan tersenyum kemudian.
"Ya, dia kakek angkat ku." Ucap Sakura melompat dan menepuk pundak Amry.
"Aku tidak punya cucu." Pria itu mengelak dan memukul kepala Sakura dengan kertas yang sejak semula ada di tangannya.
"Hahahah, aku lupa nikah saja kau belum pernah, Dasar gak laku!" Ledek Sakura mengambil kertas dari tangan Amry dan mulai membacanya.
"Dia sangat bodoh!" Ucap Raisa melihat bagaimana kediaman utama keluarga Attahaiya di bakar dan di lalap si jago merah, untunglah para pelayan dan penjaganya berasal dari Academy Military jadi Sakura tidak ambil pusing.
"Calon suami?" Tanya Yoshi penasaran akibat pembicaraan mereka yang baginya amat menarik dan mengusik kehidupan pribadi Sakura.
"Ya, dia secara resmi sudah menikah. Tapi prianya sangat bodoh, tapi saat aku melihatmu.. Eeee.. " Amry nampak berfikir dan membuat Yoshi harap harap cemas.
"Kau lebih bodoh!" Ucap lagi Amry hingga akhirnya seluruh kepercayaan diri Yoshi pun ambruk seketika saat mendapatkan ejekan itu dari Amry.
"Ya, tapi kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya. " Sakura berucap dengan nada yang sedikit di kecilkan dia tersenyum getir menatap bagaimana Gilang yang nampak mengambil buku harian sang nenek dan kakek.
_______________***______________
Pedesaan yang asri mampu membuat siapapun merasa nyaman, di tambah dengan keramah tamahan warganya yang membuat para pendatang kian segan akan tempat tersebut termasuk Sakura.
Dua bulan berlalu Sakura tinggal di sana, di Negerinya kini keluarga Attahaiya dan Organisasi Eays tengah mencarinya.
Pagi itu Sakura dengan rambut aslinya tengah bercocok tanam di taman rumahnya, dia menanam bunga dan segala keindahan di halaman kecil tersebut. Warga desa yang mulai terbiasa akan keberadaan Sakura yang sangat segan akan dirinya.
Sakura saat itu memiliki identitas sebagai seorang isteri dia mengatakan bila suaminya bekerja di luar kota jadi jarang pulang. Tidak ada yang curiga akan hal tersebut para pria pun juga sangat menghargainya dan tidak pernah berbuat macam macam padanya.
Saat itu Sakura merasa tubuhnya yang kuat tiba tiba terasa lemah dan mudah lelah, di tambah dia sering muntah dan tidak berselera makan, memeng hal tersebut sudah di persiapkan oleh Sakura sejak kejadian yang merenggut kesuciannya itu.
"Sepertinya aku benar-benar hamil." Ucap lirih Sakura dan berusaha sekemampuannya berjuang hidup dengan mengendalikan dirinya sendiri, memang hal tersebut sudah hal biasa bagi Sakura. Namun kini dia juga harus menjaga sesuatu dalam perutnya.
Suasana hening kemudian saat Sakura merehatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan sangat sulit di kendalikan, namun hal tersebut bukanlah hal besar bagi Sakura karena dirinya yang sudah terbiasa mandiri.
..._______________***_______________...
Tujuh bulan kembali berlalu, Sakura meminta Amry untuk datang ke kediamannya di Jepang, karena saat itu tidak ada yang lebih bisa dia andalkan kecuali Amry dan Ferry.
Amry tiba di Jepang pada malam hari hari bersama Ferry, berulang kali panggilan datang ke ponsel Amry dan Amry pun bergegas secepat mungkin tiba di kediaman Sakura.
Mata Amry dan Ferry seketika terbelalak saat melihat Sakura yang sudah bersimbah darah dan nampak tengah berusaha melahirkan sendirian.
"Raisa! " Ferry yang memang seorang dokter terkejut bukan main dia langsung menghadap ke arah Raisa dan mulai memberi aba aba baik pada Sakura ataupun pada Amry untuk segera mempersiapkan air hangat.
"Tarik nafas Sa, dan dorong yang kuat! " Ferry dengan hati hati mulai melakukan aba aba, Sakura mulai melakukan perjuangan hebatnya yang mempertaruhkan nyawa tersebut.
Bersambung...