My Queen Mafia

My Queen Mafia
My king



"Ya ampun tuan muda, anda masih bayi saat kejadian itu, mbok benar benar rindu padamu tuan muda." ucap si mbok dengan mata berbinar dan kembali memeluk Gilang.


Ada sebuah rasa yang membuat Gilang tidak enak di perhatikan mereka, tapi bila dia mengatakan segalanya tentulah rahasia yang dia simpanpun akan hancur seketika dan rencananya selama ini juga akan gagal.


"Maaf mbok, aku memang Gilang tapi mungkin mbok salah orang aku bukan Gilang yang mbok maksud, aku seorang anak yatim piatu dan ayah ibuku sudah meninggal saat aku kecil dan bila tidak percaya mbok bisa ke pemakaman ayah dan ibuku." ucap Gilang pasti dan tersenyum tulus.


"Ta...tapi bagaimana mungkin wajah anda begitu mitip dengan tuan muda Nathan?" ucap si mbok dengan air mata berlinang masih tidak percaya.


"Ah mbok ni, kalo orang korea aja semuanya ganteng ganteng dan kata si mbah dulu, wajah mereka sama semua, sesama orang ganteng kayanya mbok makanya aku dan tuan muda yang mbok sangka terlihat mirip." ucap Gilang memamerkan rentetan gigi putihnya.


"Ta...tapi?" mbok masih belum percaya dengan ucapan Gilang namun akhirnya diapun mengalah dan mengusap air matanya seraya berusaha tersenyum akrab.


"Mbok, aku bukan Gilang yang mbok maksud ataupun tuan muda Nathan yang mbok maksud, aku ini Gilang yang insya Allah akan menjadi suaminya Raisa." ucap Gilang pasti, ya meski identitasnya di keluarga itu bukan sekedar seorang menantu tapi setidaknya saat ini status itu juga sudah cukup.


"Oh ya mbok, aku mau membuat ayam geprek buat Raisa apa boleh ikut di dapur dan numpang bahan bahannya." ucap Gilang lagi dengan senyum manisnya.


"Tentu saja tuan, silahkan!" ucap si mbok dan mempersilahkan Gilang untuk ikut serta bersama pelayan lainnya.


Si mbok mengeluarkan ayam beku dari dalam plizer dan menaruh ayam tersebut dalam air hangat, sedangkan Gilang dengan lihai memotong motong sayuran dan menyiapkan terigu dan semua bumbu seperti cabai dan seluruh perlengkapannya.


"Waah tuan muda sangat pandai memasak." ucap salah satu pelayan memuji Gilang yang sangat pandai bergelut dengan benda benda di hadapannya.


"Sudah biasa, dulu aku pernah menjadi tukang masak di sebuah warung makan." ucap Gilang tersenyum lembut.


"Oh jadi tuan ini?" si mbok terkejut dengan penuturan Gilang dan itu tandanya Gilang bukan dari kalangan bangsawan, pengusaha ataupun pejabat.


"Ah iya, aku hanya orang kecil mbok, rumahku di bakar habis tadi pagi oleh calon isteriku dan aku sudah tidak punya tempat tinggal dan akhirnya calon isteriku memintaku tinggal di sini." ucap Gilang tersenyum. Si mbok menggelengkan kepalanya pelan, Raisa memang memiliki watak yang keras dan sulit di ikuti nalar manusia, namun si mbok yang juga merupakan bawahan ayah Raisapun tau bila apa yang di lakukan Raisa itu semua demi kebaikan keluarganya.


"Oh, tapi meski terlihat sadis nona muda juga memiliki hati yang manis dan sangat baik." ucap si mbok memaparkan bagaimana Raisa yang sangat baik terhadapnya dan sangat melindungi orang orang kepercayaannya.


"Tidak kebalik ya mbok?" ujar Gilang dengan senyum di bibirnya hingga akhirnya tawa merekapun terdengar dan mulai semakin akrab.


"Feet .. Tuan muda bisa saja, nona Raisa itu meski ya sedikit sulit di mengerti tapi dia sosok baik hati dan bijaksana." ucap lagi pelayan yang lain, yang tengah memasak bersama mereka membuat hidangan penutup.


Di kamar Raisa meregangkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan melihat kamar tua yang sudah lama di tempatinya, dengan langkah gontai dan sakit pinggang Raisa mulai masuk ke sebuah kamar mandi dan membasuh wajahnya yang cantik.


"Ah, lelah banget badan gue, Astaga! Dimana Gilang?" ucap Raisa terkejut dan buru buru keluar kamar, dan nampak seorang pelayan berjaga di depan kamarnya.


"Kemana Gilang?" tanya Raisa menatap pelayan itu yang kini nampak bergetar ketakutan mendapatkan sentakan dari Raisa.


"Ck, buat orang khawatir aja." ucap Raisa dan mulai berjalan dengan langkah santai menuju dapur.


Raisa melihat Gilang yang tengah tertawa bersama si mbok dan para pelayannya, hatinya menghangat dan sekilas salah satu pelayannya melihatnya namun Raisa menutupkan jari telunjuknya di depan bibir yang bertanda jangan bersuara.


"Raisa memang manis tapi bagiku dia sangat manis." ucap Gilang memuji bagaimana Raisa yang memang sangat manis di matanya.


"Wah tuan muda pandai memuji orang, nona pasti sayang banget sama tuan." ucap salah satu pelayan yang belum menyadari kehadiran Raisa.


"Aku tidak tahu, hati seseorang hanya dirinya sendirilah yang tahu pasti, tapi aku memang sangat sayang padanya." ucap Gilang lirih hingga sebuah tangan melingkar di perutnya dan sontak membuat Gilang terkejut dan melihat orang yang sudah memluknya.


"Keluar semuanya!" seru Raisa memerintahkan para pelayannya untuk meninggalkan mereka berdua. Semua pelayannyapun undur diri dan memberikan ruang bagi Raisa dan Gilang berduaan.


"Eh sudah bangun?" ucap Gilang mengusap air yang masih menempel di kening Raisa dengan tangannya yang di penuhi terigu ayam.


"Eh maaf maaf!" ucap Gilang lagi dan menghapus terigu itu, namun bukan malah berkurang terigu itupun kian membanyak hingga akhirnya membuat wajah Raisa cemong.


"Eh gak sengaja, hahah.." tawa Gilang pecah saat melihat bagaimana wajah Raisa yang penuh dengan tepung Ayam.


"Puas?" tanya Raisa menyilangkan tangannya di dada dan menghentak hentakkan kakinya sebelah ke lantai.


"Belum!" ucap Gilang tertawa dan membuat Raisa merasa ingin tertawa pula melihat bagaimana Gilang yang tertawa lepas.


"Oh Gitu?" ucap Raisa mengambil terigu dari belakang Gilang dan menyiramkan seluruh terigu itu ke wajah Gilang.


"Feet, hahahah... Kamu ganteng bangat! The king of terigu!" ucap Raisa tertawa puas menyaksikan bagaimana wajah Gilang yang tertutupi penuh dengan Terigu.


"Oh sini kamu!" ucap Gilang dan memeluk Raisa hingga terigu di badannya ikut menempel di tubuh Raisa, mereka berdua tertawa lepas hingga sebuah oven yang semula di tinggalakn pelayanpun berbunyi bertanda kue di dalamnya telah matang.


"Udah udah, aku ambil dulu kue." ucap Gilang mengacak acak rambut Raisa yang kini dipenuhi terigu. Raisa mengangguk dan memperhatikan Gilang mengambil kue dari dalam oven dan menghirup aroma mewangi itu.


"Di pakein ice crame enak kayanya tuh!" ucap Raisa melihat kue yang sangat cantik dengan warna merah muda.


"Nanti aku buat dulu semuanya ya! Sekarang baik baik tungguin aku masak." ucap Gilang dengan tubuh di penuhi terigu, mulai mengulangi semua masakannya dan membiarkan Raisa menyaksikan kegesitannya mempersiapkan asupan bagi calon isterinya.


Raisa menatap penuh kagum bagaimana Gilang yang begitu cekatan mempersiapkan segalanya, Raisa sekan terpana dengan tingkah pria yang mungkin kini tengah perlahan mengobati rasa sakit di hatinya akibat penghianatan.


Bersambung...