
Perpisahan itu tak terelakkan lagi nampak lambaian tangan yang terakhir dari sang guru sebelum akhirnya Raisa dan Amza kembali berbalik dan hari itu juga dirinya terbang ke tanah airnya.
Raisa menatap seluruh isi pesawat. Tak lama, seluruh isi pesawat itu nampak kabur dan sebuah cairan tergenang di matanya.
"Mom? Are you ok?" Amza nampak khawatir namun dengan tergesa Raisa mengusap air matanya. Kini kepulangannya ke Indonesia dengan identitasnya yang sesungguhnya dan di sana tidak akan ada yang menyambut mereka.
"Ya, Amza harus nurut sama Momy saat di sana ya?" Amza mengangguk mengiyakan, di usianya yang belia Amza memang sudah terbiasa melihat sesuatu yang luar biasa di mata orang lain namun tidak di mata Amza.
Rasa kebebasan atau mungkin tekanan besar kini menghantam dada Raisa saat pesawat itu lepas landas dan terbang, Raisa menatap Amza yang nampak lelah dan menguap.
"Amza tidur saja. Momy akan bangunkan bila kita sudah sampai." Amza mengangguk patuh dalam perjalanan yang entah akan seperti apa itu Amza tertidur.
Di sebuah Bandara saat pesawat sampai di Jakarta Raisa dan Amza akhirnya bernafas lega, entah itu merasa ada beban berat atau melepas beban berat namun Raisa jelas belum tahu apa yang akan di tampakinya kini.
Haruskah dirinya kembali ke dunia masa lalunya dan kembali mengotori tangannya dengan darah, Raisa menggeleng namun apa yang mesti dirinya lakukan dia juga belum tahu pasti. Namun lagi lagi tujuan awalnya kembali tertera, Raisa ingat bila keluarganya membutuhkannya.
"Mom? Aku ingin ke toilet, boleh?" Raisa tersenyum dan menggandeng tangan putranya ke daerah toilet. Raisa membiarkan anaknya masuk sendirian ke toilet pria dan dirinya menunggu di dekat pintu.
"Padadadadadadim beybe.. " Suara Amza mengalun di kamar mandi. Seorang pria nampak menyentuh kepalanya.
"Fokus saat buang air." Ucap pria itu, Amza mengangkat wajahnya dan nampak seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan mata indah dan sesuatu yang terasa familiar dirinya rasakan.
"Paman sangat tampan." Celoteh Amza membuat pria itu nampak tersenyum sekilas dan mata merekapun akhirnya beradu.
"Kamupun sangat manis." Amza dan pria asing itu menyelesaikan kegiatan buang air mereka dan saling bertatap muka.
"Siapa namamu nak?" Tanya pria itu, dirinya mengingat seseorang yang sudah dirinya lukai enam tahun lalu.
"Amza, aku Amza Attahaya." Pria itu seketika melotot mendengar nama bocah itu.
"Kebetulan yang aneh bukan, aku Karel Attahaya." Merekapun saling beradu pandang lagi.
"Maaf paman, Momy menunggu ku di depan toilet aku harus cepat." Karel mengangguk dirinya mengikuti langkah kecil yang keluar dari kamar mandi itu.
"Momy?" Amza tersenyum saat sang ibu masih setia menunggunya. Dan keterkejutan nampaknya terasa di hati Raisa dan pria itu.
"Raisa?" Pria itu akhirnya menyapa lebih dulu menatap wajah yang sangat dirinya gundukan yang bahkan pertemuan terakhir dan pertama mereka itupun hanya selama 24 jam.
"Hai Gilang? Atau mungkin Karel?" Karel tersenyum kecut.
"Mom? Apa Momy mengenal Paman Karel?" Raisa mengangguk dan mengelus putranya. Karel merasa ada sesuatu hal yang ganjil dia merasakan kerinduan itu tertanam nyata dan pelepasan rindu itu seolah malah kian menyiksanya.
"Paman?" Amza menatap Karen yang seolah tengah merasakan sesuatu yang getir, Karel menatap Raisa meminta sebuah penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ada waktu makan siang bersama?" Tawar karel namun Raisa menggeleng.
"Tidak, aku harus cepat." Amza merasa bila Momynya tengah menghindari Karel.
"Kami permisi." Raisa menggandeng tangan Amza dan berbalik meninggalkan Karel sendirian dan menatap punggung wanita yang begitu di rindukannya.
'haruskah aku melepaskannya?' Pertanyaan itu akhirnya kelar dari hati Karel dan seketika sebuah jawaban pasti seolah telah terukir jelas. "Tidak!"
Karel mengejar Raisa dan akhirnya dia menemukan wanita itu dan mendekap Raisa erat dari belakang.
"Raisa jangan pergi lagi." Itulah kata yang di ucapkan Karel, Amza menatap keduanya seolah ada sesuatu yang belum mereka selesaikan sebelumnya.
Raisa berbalik merasakan delapan itu semakin erat memeluknya. Amza kian yakin bila rasa familiar yang sebelumnya dirinya rasakan pada Karel bukan sebuah kebetulan namun memang ada sebuah hal yang mengikat mereka.
"Dedy?" Akhirnya kesimpulan itulah yang bisa di ambil oleh bocah sekecil Amza, menyaksikan bagaimana rindu keduanya beralun.
Karel menatap Amza yang nampaknya apa yang dirasakan bocah itu dan dirinya sama Karel melepaskan dekapannya dari Raisa dan menunduk menatap Amza.
"Ya, maafkan aku sayang." Karel mendekap Amza dan memeluknya hingga sebutir demi sebutir air mata meleleh di matanya dan mulai merasakan kenyamanan yang selama itu selalu di nantikannya.
Amza bisa merasakan bila darah memang lebih kental dari air dan mereka bisa bersama bukan karena hal yang di sebut kebetulan namun sesuatu yang memang sudah pasti dan itu adalah hal yang di sebut takdir.
"Karel, sudah hentikan. Masih banyak hal yang harus aku lakukan ke depannya aku tidak ingin kau mengorbankan putraku untuk tujuanmu saja." Karel tersenyum getir mendengar penuturan Raisa yang seolah tengah membelah luka di dadanya kian membesar.
"Aku tidak akan mengorbankan siapapun." Karel menatap mata Raisa yang kini tak biasa di bohongi lagi mata itu sudah seperti kaca.
"Tapi, aku harus melanjutkan tugasku." Raisa kembali menggenggam tangan Amza dengan penuh sayang.
"Tugasmu hanya satu sekarang." Raisa tertegun dan melihat cairan merembes di mata Karel.
"Tugasmu hanya satu, dan itu adalah bahagia." Raisa tersenyum seolah sudah saling mengerti mereka berpelukan di tengah keramaian orang yang berlalu lalalng.
"Aku merindukanmu Raisa." Karel berucap dan mendekap tubuh itu. Tidak akan pernah dirinya lepaskan seumur hidup.
Kebahagiaan yang seperti apa yang di bayangkan Raisa nyatanya memang sama dengan apa yang ada pada pikiran Karel, Karel dan Raisa merasa sudah sangat lelah menjalani hidup.
"Antonio?" Raisa berucap seolah bertanya tentang pria dengan sejuta muslihat itu.
"Dia di mutilasi oleh rekannya sendiri, mereka membagi bagian tubuh pria itu dan masing masing membawa satu." Raisa tertegun.
"Dan Kau?" Karel mengangkat Alisnya merasa gemas dengan Raisa.
"Apa kau menginginkan nyawaku?" Raisa tersenyum lembut dan mencubit hidung mancung Karel.
"Bukan hanya nyawa, aku juga menginginkan tubuhmu." Karel terkekeh geli mendengar itu, Amza merasa damai mendapatkan orang tuanya yang utuh dan dia sudah bersiap membelah dunia.
"Aku serahkan sepenuhnya." Karel berucap seraya memeluk Raisa penuh damba. Mereka menyatukan perasaan mereka dalam hening sebelum akhirnya sebuah ciuman rindu berbaur jadi satu menyatukan sesuatu yang tertunda dulu.
Bersambung...