My Queen Mafia

My Queen Mafia
Kesambet Cinta



Senja hari tiba cahaya yang bermain di antara buih dan bunga, rangkaian cahaya jingga kemerahan memandikan alam, sejak seluruh siang telah di pintal menuju malam, terlihat lambaian selamat tinggal dari mentari yang kian tenggelam.


"Sayang ayo sholat berjamaah, sudah hampir malam ini." Raisa menarik Leonard yang enggan bangkit di paha indah isterinya.


"Hmmm..." Leonard bangkit dengan agak terpaksa, nampak ketidak mauan untuk bangkit di wajah lesunya.


"Kalo mau sholat harus semangat malah lesu gitu." Cecar Raisa dengan wajah riang memasuki kamar mandi.


Leonard mengerjap ngerjapkan matanya dan meregangkan tubuhnya dari rasa nyaman, dia mengikuti langkah sang isteri menunaikan ibadah magrib dengan hati berseri kembali.


Setelah ritual suci itu Leonard menghadap ke arah Raisa, "Sayang mau tanya boleh?" Leonard bersemangat menggenggam tangan kanan isteri tersayangnya.


"Hmm.." Raisa mengangguk memperbolehkan.


"Ilmu Nahwu itu sulit gak si?" Tanya Leonard penasaran karena melihat Raisa yang amat mudah menguntai kan kalimat suci dan mengetahui setiap kata yang salah dalam bahasa Arab.


"Emang tahu ilmu nahwu apa?" tanya Raisa penasaran yang mungkin suaminya sudah pernah belajar.


Leonard menggeleng tidak tahu, "Heheh gak tau tuh, apa emang ilmu nahwu?" Tanya Leonard sedikit penasaran dengan hal yang ingin dia pelajari.


"Hmm.. Gini deh kalo dalam tata bahasa Arab, ilmu nahwu berperan penting dalam membentuk sebuah kalimat menjadi jelas, ilmu nahwu adalah ilmu yang memperbincangkan dasar dasar dan proses proses pembentukan susunan kata menjadi kalimat."Jelas Raisa namun nampaknya hal semacam itu sudah di ketahui Leonard dan Leonard hanya ingin menggoda isterinya saja.


"Duh, kayanya ada yang ngerjain nih." Raisa terkekeh di selangi tawa Leonard.


Terdengar suara perut Leonard membuat Raisa tertawa dan memasak bersama.


Selesai memasak mereka akhirnya menyelesaikan makan mereka dan mereka masih bersenda gurau.


"Makannya yang banyak sayang" Leonard menegur Raisa yang mana di lihatnya tak pernah makan banyak.


"Gak mau banyak banyak sayang, sedikit aja yang penting berkah" Raisa nyatanya berbohong dia memiliki penyakit yang mana memaksanya untuk tidak makan terlalu banyak karena akan mengakibatkan sesak nafas setelahnya.


Leonard mengangguk mengerti meski dirinya tidak tahu bila Raisa melakukan itu karena penyakitnya, saat hari kian menjadi malam kegiatan tongkat sakti pun terulang, Leonard enggan melakukan hubungan suami istri itu secara berlebihan karena melihat fisik isterinya yang nampak amat kelelahan.


Di sepertiga malam kini sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berdua untuk menghadap kepada sang pencipta, suasana hening dengan riak air di pantai yang terasa damai menyajikan kekhususan tersendiri bagi Raisa dan Leonard, keduanya kini saling memiliki dan sudah pasti saling mencintai.


Pagi itu Raisa akan menyiapkan sarapan, namun entah ada apa dengan dirinya saat membuka lemari pendingin dan melihat wortel dirinya menjadi sangat mual, Raisa susah payah menahan mualnya dengan menutup tangan kirinya ke mulut yang terasa akan muntah, hingga akhirnya dia tidak tahan dan menutup kembali lemari pendingin itu Raisa memilih telur dan ayam untuk dia masak, namun lagi lagi Raisa merasakan mual tak kala mencium bau amis dari keduanya hingga dia tak tahan dan memuntahkan isi perutnya yang belum terisi oleh apa pun.


Leonard yang mendengarkan Raisa muntah di tempat pencucian piring beranjak meninggalkan leptopnya yang masih menyala di ruang kerja.


"Kenapa sayang?" Leonard memijit tengkuk Raisa yang terasa dingin di lengannya.


Raisa merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri dan pusing "Aku pusing sayang," Raisa menahan keningnya yang terasa ngilu.


"Tahan sayang." Leonard mengangkat Raisa yang telah berhenti muntah dan membawanya ke kamar dan membaringkannya.


Dengan cepat Leonard menghangatkan air dan memberikannya pada Raisa, "Di minum sayang" Leonard membantu Raisa bangun dan membiarkan isterinya meminum air hangat.


Raisa merasa lebih baik dengan tangannya yang terus di genggam sang suami.


Raisa terlelap karena merasa pusing akhirnya tertidur, Leonard yang sudah merasa isterinya tertidur menghubungi seorang Dokter, dan dengan cepat Dokter itu tiba setelah mendengar keluhan dari Leonard.


"Dokter?" Leonard mempersilahkan seorang wanita yang berusia 40 tahunan itu memeriksa Raisa dengan dua ajudannya berjaga di depan pintu kamar.


"Sejak kapan nona mual, muntah dan pusingnya?" Tanya Dokter itu mengecek suhu badan dan tensi darah Raisa.


"Baru pagi ini, kayanya dia masuk angin karena kemarin dia belajar berenang di kolam belakang." Ucap Leonard memijit keningnya yang juga terasa berdenyut.


Raisa yang memang sangat mudah terbangun tersadar saat dokter itu memeriksa dirinya, "Dokter?" Raisa terbangun melihat jas almamater khas Dokter di kenakan wanita itu.


"Tenang dulu." Dokter wanita itu mengeluarkan testpec dari tas yang dia bawa, mendengar ucapan Leonard membuat dirinya yakin bila sebenarnya Raisa tengah mengandung.


"Ini masih pagi, coba pakai ini dulu di kamar mandi siapa tahu hasilnya sesuai prediksi saya." Ujar dokter tersebut menyerahkan testpec itu kepada Leonard.


"Saya yang harus pake?" tanya Leonard kebingungan.


Plak, dokter itu menepuk keningnya, "ya istrinya toh, dan di bantu sama tuan muda." Ucap dokter itu menggelengkan kepalanya.


Leonard mengangguk dan mengangkat tubuh Raisa menuju kamar mandi, Raisa terperanjat tersipu merasa malu di perlakukan istimewa di hadapan orang lain.


"Malu? aduh sayang, bagian tubuh mana yang belum aku lihat sudah jangan malu." Leonard menatap wajah Raisa yang nampak kemerahan.


"Kak, berbalik." Raisa merengek membuat Leonard gemas dan mencubit hidung wanitanya itu sembari membalikan badannya.


Raisa memasukan benda yang di berikan Dokter itu ke air yang nampak kemerahan di depannya.


Deg, deg, deg jantung Raisa berdegup amat kencang dan terlihat siluet indah di bibir manisnya, "Sayang, selamat." Raisa memeluk Leonard dan Leonard tersenyum saat melihat hasil yang terdapat di alat tersebut.


"Selamat juga sayang." Tawa menggema tak berapa lama setelahnya, Raisa dan Leonard saling berpelukkan.


Mata Raisa mengeluarkan cairan bening penuh kebahagiaan, "Terima kasih sayang" Leonard mengangkat tubuh Raisa penuh kegembiraan, membawanya kembali ke kamar yang terdapat sang Dokter yang tersenyum lembut, prediksinya pasti benar selain itu dari dalam kamar mandi terdengar tawa, itu sudah pasti seperti yang dia perkirakan.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya dokter itu dengan senyum yang mengembang.


"Alhamdulillah garis dua dok." ujar Leonard penuh semangat, dokter itu tersenyum dan mengulurkan tangannya yang langsung di jabat Leonard.


"Selamat pada tuan dan nona, cepat di periksakan ke dokter kandungan agar bisa di ketahui kondisi bayinya" ujar dokter itu meninggalkan senyuman bagi keduanya, dan melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut.


Raut bahagia tak dapat di sembunyikan dari keduanya terlebih lagi Leonard yang segera menelpon Ibu, Ayah, Nathan dan segera mengumumkan kebahagiaannya di situs kantornya, sontak saja kabar itu menjadi bahan obrolan di setiap mulut dan menjadi viral dengan cepat.


Leonard terus saja cekikkikkan dan tak henti hentinya menghujani kecupan di wajah Raisa, Raisa hanya tersenyum simpul dengan wajah bahagianya juga, namun rasa pusing masih merajai kepala Raisa hingga akhirnya dia tertidur dalam dekapan suaminya.


Tak berselang lama setelah Leonard menghubungi kedua orang tuanya, sebuah hellikopter kembali mendarat di taman hijau, bunda Elfie, ayah Dzikri dan Ridwan turun dari helikopter.


Dengan sedikit berlari bunda Elfie memasuki rumah yang amat asri dan terawat dan berlari ke lantai dua.


"Leo? Ica?" Bunda Elfie nyelonong masuk berteriak teriak di rumah itu.


"Bunda?" Leonard tersenyum keluar dari kamarnya setelah mendengar suara bunda Elfie.


"Di mana Ica?" bunda Elfie setengah berteriak dan celinguk kan mencari keberadaan menantunya.


"Shuut.. Pelan pelan bicaranya Bun, Ica lagi tidur" Leonard megangkat jari telunjuknya di atas bibir sensualnya.


Bunda Elfie tersenyum kikuk dan bahagia, "Ayo bicaranya di bawah Bun." Leonard mempersilahkan Bundanya yang tadi langsung berlari ke lantai dua.


Di bawah sudah ada Ridwan dan Ayahnya yang memperlihatkan wajah bahagia, "Selamat de kamu akan segera jadi om" Ucap Leonard mengacak acak rambut Ridwan gemas.


"Aku jadi kakak aja gak mau jadi om." Ridwan menjawab dengan polos.


"Feet.. Oke deh." mereka semua duduk kecuali Leonard yang langsung ke dapur mengambil teh, susu, dan kopi, yang dia hidangkan bersama kue kering yang dia bawa ke hadapan orang tuanya.


Kedua orang tuanya tertegun dengan sikap Leonard, "Kamu kesambet apa leo?" Bunda Elfie menegur saat Leonard menyuguhkan teh di atas meja tepat di depan matanya.


"Kesambet cinta Bun" Leonard duduk di sebrang bundanya tepat di samping Ridwan.


"Kesambet cinta? Emang ada yang kaya gitu?" Tanya bunda Elfie terkekeh geli.


"Ya malu lah Bun, aku tiap hari terus sama isteri yang baik masa iya aku gak hijrah hijrah, malu nanti sama anak Bun." Ucap Leonard tersenyum bahagia.


"Bagus kalo gitu, ayah juga jadi bahagia lihat kalian bahagia dan kamu terus memperbaiki diri" Ayah Dizri menambahkan.


"Gimana sekolahnya de?" Leonard mengelus rambut Ridwan, entah mengapa dia amat suka menyentuh rambut adiknya itu.


"Bosen, aku mau loncat aja ke kelas enam" Ridwan buka suara dengan mulut besinya.


"Emang bisa kaya gitu?" Tanya Leonard penasaran mengangkat sebelah alisnya, sedangkan Ridwan kembali diam.


"Gak tahu, tapi kata pihak sekolahnya Ridwan bisa loncat kelas bila dia lulus ujian ujian yang akan di ajukan pihak sekolah dan departemen pendidikan" Bunda Elfie menjawab saat melihat Ridwan yang diam saja.


"Bagus de! Kamu harus lulus" Leo memberikan semangat pada Ridwan.


Ridwan hanya diam enggan menanggapi, senda gurau terjadi di ruangan itu, kecuali Ridwan yang hanya terdiam tanpa suara dan lebih memilih memainkan ponselnya.


Bersambung...