
Pagi tiba nampak mentari yang malu malu mulai keluar menyingsingkan ronanya, Raisa menggeliat dan melihat bundanya yang sudah tidak ada di samping pembaringan.
Dengan malas Raisa mulai menginjakkan kakinya dan terasa hawa dingin merasuki kaki putihnya, namun Raisa terus berjalan keluar dari kamar yang sempat dia tempati malam itu. Dengan langkah pelan, rambut acak acakan dan iler yang berserakan, Raisa masuk kembali ke kamarnya dan menyungkurkan tubuhnya ke atas kasur.
Bugh.. Alika tersungkur namun aneh yang dia rasakan bukan seperti empuk atau sejenisnya, tangannya meraba raba kasur yang terasa aneh di tidurinya.
"Sudah bangun?, nyenyak tidur sama isteri orang!" terdengar suara yang amat familiar di telinga Raisa. Mata Raisa yang semula malas terbuka kini membulat sempurna melihat sang ayah yang tengah dia himpit.
"Papi!, ngapain papi di sini sana keluar Ica mau tidur jangan ganggu Ica, hush.. Hush.." raisa mengusir sang ayah untuk keluar dari kamarnya.
"Ngusir lagi!, kaya anti banget sama bapak sendiri kamu!" Rama menyindir dengan nada yang ketus.
"Emang anti aku pi, sana sana.. Siang ini Ica mau ada misi penting, jadi jangan ganggu ica!" Raisa menarik lengan sang ayah untuk turun dari ranjangnya.
"Misi penting?" Rama terkejut, memang dia tahu Raisa sering keluyuran, dan sangat berbeda dengan anak anak seusianya, Raisa memang sering melakukan hal yang memang di luar espektasi namun dia tidak tahu sama sekali mengenai kehidupan puterinya itu.
Raisa menutup mulutnya merasa keceplosan, dia berdecak kesal dan niatnya untuk tidur lagipun gagal, Raisa mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi dan memilih memulai mandi saja, menghindari dari introgasi ayahnya yang mungkin akan sangat lama dan merepotkan baginya.
Rama terdiam masih di atas ranjang puterinya, dia berpikir sebenarnya apa misi yang di maksud oleh puterinya, apakah itu juga alasan mengapa dirinya enggan sekolah, Rama bahkan sebelumnya pernah berpikir untuk menjaga Raisa dari orang luar dengan cara menguncinya di sebuah ruangan. Namun jiwa seorang ayahnya tak rela bila dirinya harus menyakiti sang puteri kecil yang sangat mirip dengannya itu.
Raisa keluar dari kamar mandi dan di dapati ayahnya yang masih terduduk merenung di atas ranjangnya, Raisa menghampiri sang ayah dan menggenggam tangan yang sudah memberinya hidup itu.
"Jangan khawatir pi, Ica janji akan baik baik menjaga diri Ica akan berusaha melindungi papi." Raisa menundukkan wajahnya di lantai kemudian mengangkat wajahnya dan melihat sang ayah yang kini tengah mentapnya.
"Apa papi gak boleh tahu?" Rama mentap mata hijau Raisa yang nampak bersinar sama persis seperti miliknya.
"Gak boleh pi!, tapi Ica janji setiap hari jum'at Ica akan pulang dan bersama kalian", Raisa menggenggam tangan ayahnya memberi kepercayaan, namun mata Raisa seketika terperanjat mentap leser yang yang tersorot ke kepala ayahnya.
Dengan sangat kencang Raisa menarik lengan sang ayah hingga akhirnya mereka terjatuh.
Csst.. Suara berdesus dari tembok yang nampak berlubang, Rama yang tidak mengerti apa apa lantas menatap Raisa yang terlihat panik.
"Ayah diam saja, lihat baik baik pembuktian yang akan aku perlihatkan!" Raisa menatap tajam ke arah boneka yang dia pegang dan dengan hati hati dia melihat cermin di dalam kamarnya yang memperlihatkan jarak mereka yang sangat jauh bahkan hampir tidak terlihat, Rama yang masih kebingungan memperhatikan kegiatan puterinya.
"Binggo!" Raisa menekan tombol di jari jempol boneka itu dan cust... Sebuah tembakan melesat dengan sangat cepat dan mengenai seseorang yang nampak sembunyi di atara batang pohon di luar area rumahnya.
"Owh cuma bermain solo toh!" Raisa lantas berdiri, dan mendekati ayahnya.
"Lihat kemampuan Ica lebih baik dari papi, hampir kan nyawa papi melayang!" Raisa berjalan ke arah tembok yang nampak berlubang begitupun Rama, ada puluhan pertanyaan yang kini mengganggu kepala Rama. Dia yang merasa sudah mengetahui semua hal rahasia di dunia bahkan tidak tahu apa apa mengenai puterinya sendiri.
"Kamu belajar dari mana?, sejak kapan kamu mempelajari hal berbahaya semacam ini Ica?" Rama tergugu menatap puteri kecilnya yang masih berusia anak anak.
"Itu emang gak rahasia si, Ica belajar sendiri sejak usia 4 tahun, sejak tahu bila keluarga Ica di bantai habis oleh mereka." Raisa nampak kesal dan mengepalkan tangannya hingga bergetar.
Rama menundukkan pandangannya, benarkah dirinya belum mampu melindungi keluarga sendiri untuk hal ini, apakah benar yang di katakan puterinya bila dia telah belajar sejak balita. Segudang rasa bersalah kian menggeliat memenuhi jiwa dan hati yang seakan hancur.
"Aku tahu papi mampu untuk menjaga kami tapi papi sendiri bagaimana? Apa papi mampu melindungi diri papi sendiri?. Pi Ica tahu papi sangat menyayangi kami tapi cobalah faham bila Ica juga mampu! Ica tahu usia Ica masih sanagt belia tapi Ica janji sama papi bila Ica akan melindungi papi. Dan papi jagalah keluarga kita." Raisa dengan hati teguh menggenggam tangan ayahnya.
"Suatu hari apakah kamu tidak akan menyalahkan aku untuk hal ini?" Rama menatap Raisa yang tepat berada di sampingnya.
Raisa menggelang dan memeluk Rama penuh dengan rasa sayang, tanpa terasa air mata Rama mengalir memeluk puterinya yang nampak terdiam. Raisa sendiri hanya diam tanpa menitikan sedikitpun air mata karena semua hal yang dia lakukan tak perlu penyesalan karena itu adalah keputusannya sendiri.
Di balik pintu Raina mendengarkan percakapan yang di lakukan oleh ayah dan Raisa. Raina amat hancur mendengar keputusan adiknya, dia sangat takut bila adiknya itu akan mengalami hal buruk di luar rumah, bagaimanapun Raina dan Raisa memiliki perasaan yang hampir sama hanya saja mereka mengambil jalur berbeda dalam hidup mereka.
Pandangan Raina tertuju pada lantai yang kini di jatuhi air garam dari matanya, 'maafin aku de aku janji akan menjadi kakak yang baik dan aku juga janji akan membanggakan mereka, semoga keputusanmu benat de!' batin Raina penuh harap.
"Jangan kecewakan papi dengan keputusanmu sekarang Ica!, papi janji akan melindungi keluarga kita agar tetap utuh, jagalah dirimu baik baik. Bila butuh modal Ica bisa minta saja jangan sungkan." Rama menegakan duduknya dan menepuk pundak kecil Raisa.
Bersambung...