My Queen Mafia

My Queen Mafia
Si miskin



...***...


...___________...


Kejadian jatuh itu sudah membuat Raisa malu setenah mati, dia tidak menyangka bila dirinya akan terjatuh dan Gilang akan cukup sigap meraih tubuhnya.


Raisa kembali bangkit dan mengangkat seprai tersebut dan berlari menuju kamar yang semalam menjadi saksi bisu penyatuannya dengan Gilang.


Raisa menghembuskan nafasnya kasar saat mendapati arliji itu masih hidup dan tiga buah panggilan nampak teserat di deoan layar arlojinya, dengan cepat Raisa menghubungi kembali panggilan itu hingga akhirnya terhubung.


"Raisa... Kemana aja kamu?" teriak wanita dari balik arlojinya dan sontak saja Raisa terkekeh mendengar teriakan sang bunda yang nampak tengah khawatir.


"Kemarin Raina bilang bila kamu akan bertemu pria cupu itu hah? Jangan bilang kalo sekarang kamu mau nikah lari!" ucap lagi bundanya kesal.


"Emang aku mau nikah lari bun, kok bunda tau si? Ah bunda kaya paranormal aja!" ucap Raisa penuh canda hingga membuat bundanya merasa geram.


"Tadi pagi ada telpon ke rumah dan mengatakan kamu di culik, sekarang papimu sedang mencarimu dan sudah mempersiapkan barter!" ucap bundanya terdengar lemas.


"What? Yang bener aja lah bun! Aku itu Raisa loh bun!" ucap Raisa sedikit terkejut namun juga kesal pada musuh musuhnya yang sudah berani menjebak keluarganya.


"Ah karena kamu Raisa bunda khawatir, kalo Raihan mungkin bunda bodo amat!" ucap bundanya sedikit canda agar puterinya tidak begitu khawatir.


"Ya iyalah bun, ngapain ngerisauin Raihan diakan anak orang! Ica nyusul papih deh, bunda diem aja di rumah!" ucap Raisa menatap pria yang kini berdiri di ambang pintu.


Raisa menutup telponnya saat sang bunda berucap salam dan menatap Gilang yang kini nampak tengah memperhatikannya, Gilang mendekati Raisa dan menatap mata hijau itu penuh harap.


"Kenapa?" tanya Raisa menatap Gilang yang menampakkan wajah khawatir.


"Apa tidak ingin meminta bantuanku?" tanya Gilang penuh haraf, Raisa menggeleng dan mengirim pesan pada ayahnya melalui arlojinya hingga kembali pesan sampai di arlojinya itu.


✉ "'Dasar bocah kurang kerjaan.'" isi pesan tersebut hingga akhirnya Raisapun terkekeh dan melemparkan arlojinya ke atas kasur.


"Lihat jari jari cantikku masih kosong! Dan juga bagaimana dengan kekasihmu sekarang? Dia mungkin akan menangis darah bila tahu kamu akan menikah." ucap Raisa terkekeh geli.


"Begitukah? Wanitaku sekarang cuma kamu, untuk apa aku perdulikan orang lain?" ucap Gilang menarik lengan Raisa yang begitu terkesan santai dan sangat nakal.


"Baguslah, karena aku benci penghianat!" ucap Raisa melingkarkan tangannya di leher Gilang.


"Pinjamkan aku baju! Atau belikan aku pakaian! Aku tidak bisa keluar dengan pakaian seperti ini!" ucap Raisa meluhat apa yang kini dia kenakan.


"On the way!" ucap Gilang melepaskan pelukkannya dan mengambil dompet miliknya di balik bantal, Raisa sempat tertawa melihat tempat penyimpanan pria itu.


"Pakai kemejaku dulu dan celanaku, kita belanja!" ucap Gilang melangkahkan kakinya ke luar kamar dan mulai menghitung uang yang tersisa di domoetnya.


"Uuh, limite!" ucap Gilang melihat hanya tersisa lima lembar uang berwarna biru dan uang berwarna hijau saja.


Gilang ke luar ruamah dan melihat sepedanya yang sering di gunakan, Gilang memasangkan dudukan di bagian belakang sepedanya dan mengelap sepeda tersebut hingga kinclong.


"Ayo berangkat!" ajak Gilang menuntun sepedanya, Raisa sejenak mengangkat alisnya, dia tidak menyangka bila pria yang bersamanya benar benar sosok sederhana.


"Naik itu?" tanya Raisa menunjuk sepeda goes yang tenagah di tuntun Gilang.


"Iya, aku orang gak punya, pakai inipun juga sudah bagus di bandingkan jalan kaki!" ucap Gilang, Gilang memang tidak semiskin itu namun uang yang berada di akunnya jarang dia gunakan dan lebih memilih menyumbangkan seluruhnya pada orang orang yang lebih membutuhkan, jauh berbeda dengan sifat serakah yang di miliki Raisa.


"Ya, baiklah!" Raisa mendekat dan duduk di kursi penumpang yang kini di kendarai oleh Gilang.


"Hai Gilang! Mau kemana?" sapa salah satu tetangga Gilang melambaikan tangan menyapa merek berdua.


"Ke pasar bu! Aku pesan satu dus kue ya!" teriak Gilang dan di angguki wanita paruh baya itu.


Tidak pernah terbayangkan sedikitpun di kepala Raisa bila berkendara sepeda akan terasa sangat menyenangkan, Raisa bisa merasakan bagaimana sejuknya pagi itu, trotoar jalan yang pernah dia pijaki laripun kini dia lewati kembali.


Raisa sejenak berpikir, apa nanti kata keluarganya bila semisalkan dirinya menikah dengan pria yang biasa biasa saja dan tidak tergoling ningrat atau kaya raya, dia juga sejenak berpikir kekasihnya sebelumnya saja yang seorang kariyaman di tolak mentah mentah oleh keluarganya, bagaimana dengan pria ini yang bahkan lebih susah dari itu.


"Tidak pernah berkendara sepeda ya?" tanya Gilang melihat bagaimana Raisa yang begitu menikmati perjalananya.


"Ya, aku tidak ada waktu untuk itu, bahkan aku saja tidak ingat bagaimana aku melalui masa kecilku!" ucap Raisa perih, namun dengan ucapan itu malah Gilanglah yang terasa lebih perih.


"Setidaknya kita bisa bahagia di masa depan." ucap Gilang yang kini merasakan tangan Raisa melingkari perutnya.


"Jangan boros boros ya, suamimu ini sanagt miskin!" ucap lagi gilang mengusap tangan Raisa yang berada di perutnya.


"Aku tidak pandai menghemat!" ucap Raisa terkekeh geli dan menempelkan kepalanya di punggung gilang.


"Aku akan bekerja lebih keras bila begitu!" ucap Gilang membawa Raisa memasuki gang dan masuk ke sebuah pasar tradisional di mana kini nampak sayur sayur beriajar diperdagangkan.


"A Gilang? Beli apa?" tanya salah satu tukang sayur pada Gilang.


"Wah ini pacarnya ya? Meni cantik pisan!" ucap wanita penjual sayur itu memuji kecantikan Raisa.


"Terima kasih, bisa buat capcay gak?" tanya Raisa pada Gilang yang kini berdiri di sampingnya setelah memarkirkan sepedanya.


"Bisa, mau capcay?" tanya Gilang menatap lembut Raisa.


Raisa mengangguk dan memperhatikan Gilang yang tengah memilih sayuran, Raisa yang memang tidak begitu mengetahui mengenai sayur sayuranpun lebih memilih diam dan memperhatikan sang suhu yang bertindak.


"Mau apa lagi?" tanya Gilang, namun sekilas Raisa melihat dompet tipis Gilang dan merasa galau setelahnya, dia tidak menyangka bila seorang Gilang memang benar benar orang yang miskin.


Raisa menggigit bibir bawahnya mengondisikan keunagan yang ada, dia pun akhirnya menggeleng meski nyatanya banyak sekali yang dia inginkan, karena untuk pertama kalinya dia bisa berbelanja di pasar tradisional dengan tenang.


"Beli baju aja yo!" ucap Raisa, menarik lengan Gilang menuju begitu banyaj toko toko kecil yang mendagangkan pakaian, Raisa mulai melihat beberapa helai pakaian namun saat mendengar harganya diapun mengurungkan niatnya dengan alasan kebesaranlah, ada yang sobek dikitlah, ada yang kotor dikitlah dan berbagai jenis alasan Raisa berikan, hingga akhirnya diapun membeli sebuah atasan kaos, dalaman dan celana celana pendek saja, dengan total menghabiskan 200 ribu itu tandanya uang Gilang sudah sampai di bawah seratus ribu lagi, saat itu sungguh Alika meremas tangannya sendiri karena untuk pertama kalinya dia merasakan arti sebuah kekurangan.


Bersambung...