
Siang itu, seorang pria dengan tubuh kekar berisi otot otot yang memenuhi tubuhnya. Dia mengusap hunusan tajam belati di tangannya, sebuah gesekan antara belati dan asahan terdengar nyaring memenuhi rongga telinga.
"Ternyata dia adalah A, kalian semua bodoh!" ujar pria itu mimicu semburat menantang di lehernya.
"Bawa dia padaku hari ini! pastikan dia tidak bisa lolos!" ucap pria itu lagi melemparkan belati tajam itu pada dada salah satu pengawalnya.
Semua orang di sana bergidik ngeri melihat darah yang mengalir dan memicu rasa ketakutan luar biasa, beberapa pria berbaju hitam menyeret mayat itu dan terlihat darah yang tercecer di lantai dengan bau amis yang menyengat memenuhi hidung.
"Kenapa kalian masih diam? pergi sekarang!" bentak pria itu kembali mengenakan kemeja putih menutupi otot otot besar di tubuhnya. Semua pengawalnya tunduk dan mematuhi keinginan tuannya.
Takut, dan ragu memicu kesetiaan mereka yang kian berkurang, mati atau hidup bagi mereka sama saja bahkan bila mereka bisa memilih mereka lebih baik memilih mati saja.
Dan di siang itu juga Amry tengah bersiap membersihkan pemakaman di sekitarnya, namun dia di buat waspada saat kamera CCTV nya menangkap ketidak normalan di daerah tersebut.
Dan saat itu juga Rama tiba di pemakaman, pria itu lantas melotot, dia tahu bila Rama masih hidup tapi dia tidak tahu apakah dia Rama ataukah bukan dikarenakan keadaannya yang seakan terancam.
Instingnya mengatakan untuk menghabisi Rama dengan sebuah gerakan yang di ajarkan oleh Leonard dan bila mana Rama mampu menghindar itu berarti dia benar benar Rama yang dia kenal.
Dia berbicara dengan bahasa daerahnya, namun nampak Rama yang sangat tidak mencurigakan dan lantas dia mengubah ekspresinya dan sontak sifat Ramapun berubah, namun satu hal yang membuat janggal hati Amry dia melihat Rama yang seperti lebih mementingkan wanita di sampingnya di bandingkan dengan nyawanya sendiri.
Serangan demi serangan di lancarkan oleh Amry dan dapat di hindari oleh Rama sesuai dugaan Amry, dia akhirnya mengalah dan tersenyum sekilas tercipta di bibirnya, namun tak dapat di lihat efek berewok yang menutupinya.
Dan beberapa wargapun tiba yang menjelaskan tentang dirinya.
Amry agak benci di bilang sebagai orang dengan gangguan mental namun itulah identitasnya kini, dia terus mendengarkan setiap ucapan Rama hingga akhirnya dia mampu menarik kesimpulan bila yang di hadapannya adalah benar benar Rama dan bukan para penjahat.
Setelah kepergian para warga dan Rama menyelesaikan do'a nya diapun mendekat dan memberikan disk yang selama ini sudah dia simpan hingga akhirnya baku tembak itupun terjadi.
Awalnya para pembunuh suruhan itu amat ragu di karenakan melihat situasinya yang tidak memungkinkan di tambah sebelumnya warga desa yang baru melintas, dan mereka sama sekali tidak mengenali sosok Rama hingga akhirnya mereka menunda misi mereka dan memilih melihat keadaan terlebih dahulu.
Namun saat mereka melihat Amry mengeluarkan sebuah disk merekapun lantas menyerang, karena benda kecil itulah yang sangat di inginkan oleh tuan mereka, hingga kejadian berdarah itupun terjadi.
Amri membawa Rama dan Alika untuk bersembunyi di tempat dia sering tidur dan menghabiskan waktu di hari hari biasanya di tempat tersebut, dia membawa Rama dan Alika ke sana untuk berlindung.
"Sembunyi!" ucap Amry memberikan jalan pada Rama dan Alika untuk memasuki sebuah pondok batu bata yang yang mana merupakan tempat dia menghabiskan waktu.
"Mereka adalah orang orang dari organisasi Eays" jawab Amry lantas mengacak acak sebuah karpet yang mana di sana tempat dimana dia biasa tertidur di atasnya, dan di sana pula Amry menyembunyikan sebuah benda rahasia, yaitu senjata senjatanya.
"Bisa menggunakan senjata?" tanya Amry pada Rama yang kini tengah setengah berdiri memperhatikan sekelilingnya.
Rama mengangguk dengan cepat meraih sebuah pistol dan mengisi pelurunya dengan cepat, Alila yang memperhatikan mereka lantas terdiam dengan tangan yang bergetar, tak dapat di pungkiri rasa trauma di masa lalunya memang sangat melekat dalam ingatan, Amry agak kebingungan melihat ekspresi yang timbul dari wajah Alika yang nampak sangat ketakutan kontras jauh berbeda dengan sifat Raisa dan bunda Elfie yang sangat berani.
"Ambil ini dan gunakan untuk melindungi diri!" ucap Rama menyerahkan pistol itu kepada Alika. Jelas Alika sangat ketakutan menyentuh benda yang dapat merenggut nyawa itu dengan tangan yang bergetar seakan tak mampu meraih benda itu dia memaksakan ketakutan di hatinya untuk berani, lagi lagi Amry memperhatikan Alika yang nampak sangat ketakutan dan terlihat bukan seperti wanita yang sering dia kenal, dimana biasanya dia sering bertemu para wanita perkasa.
"Jangan takut! Aku tidak akan membiarkanmu kenapa napa!" ucap Rama tersenyum lembut dan memaksakan tangannya memberikan senjata tersebut.
Alika mengangguk dan dengan susah payah dia menelan salivanya yang seakan rasa takut di lidahnyapun hilang. Suasana gaduh dengan suara baku tembak terdengar sangat mencekam, getaran dan rasa takut di dada Alika kian menggebu, Amry akhirnya dapat bernapas lega saat melihat kemampuan menembak Rama yang luar biasa, setidaknya kini Rama dan Alika tidak menjadi beban baginya dan dapat di simpulkan bila Rama bukanlah orang biasa. Meski dia hanya anak angkat keluarga Attahaiya namun melihat potensi dalam diri Rama dia dapat menyimpulkan identitas sesungguhnya dari Rama bila sesungguhnya dia merupakan orang yang tidak biasa.
Beberapa deru kendaraan bermotor terdengar mendekat, mata Rama mengangguk menatap sosok yang berada di atas sepeda motor itu.
"Pak Gunawan! cepat!" seru Rama meminta Pak Gunawan untuk cepat cepat sembunyi.
Dengan gaya aneh bagi mata Amry Pak Gunawan mengangguk dan mendekati ke arah Rama dengan terus berjaga ditakutkan peluru menghantamnya.
Dan benar saja sebuah peluru tepat mengenai dada kiri Pak Gunawan, darah muncrat memenuhi tanah yang kemerahan.
Hal itu sudah sangat biasa terjadi di medan perang begitu pula bagi Amry, kematian kawan baginya sudah menjadi hal biasa.
Namun melihat bertapa histerisnya Alika dia dapat menyimpulkan bila pria yang baru saja tertembak itu adalah salah satu orang yang sangat penting bagi mereka dan juga bagi dirinya.
Bukan tidak tahu, Amry sendiri tahu pasti pria yang baru saja tertembak itu siapa, bahkan mereka sering ngopi bersama saat muda, namun dia tidak ingin kenangan manis itu membuatnya lumpuh dan bersedih.
Dendam sudah pasti tertanam di dadanya, namun dia juga harus berpikir jernih memastikan seluruh hal yang akan dia lakukan itu tidak akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Hingga akhirnya terlihat para pengawal Rama tiba dan merekapun memenangkan peperangan.
Bersambung...