
Malam hari tiba dimana Gilang dan Raisa akhirnya sampai di kediaman mereka, Raisa berusaha menyembunyikan keluh dan resah di hatinya. Sebisa mungkin dia akan menyembunyikan apa yang tengah gundah melanda dan merajai pikirannya saat itu.
Di depan gerbang nampak para pengawal Rama membuka pintu pada mereka pandangan mereka tertuju pada kursi belakang dimana Gilang dan Raisa berada, mereka menunduk tak kala mobil mewah itu melintas dan kembali menutup pagar besi yang menjulang tinggi.
Di depan pintu nampak sang bunda, yaitu Alika dan Raina tengah menunggu kedatangannya, Gilang sudah faham bila kedatangannya pasti sudah di ketahui mereka dan sangat tahu bila mereka akan menyambutnya.
Raisa keluar mobil bersamaan dengan Gilang, tanpa ragu Raisa melingkarkan tangannya di tangan Gilang menggandeng pria yang kini sudah menjadi tambatan hatinya meski dalam hati kecilnya masih terselip ragu akan perasaan itu.
"Siapa dia? " Tanya Rama yang tiba tiba keluar dari dalam rumah saat melihat Raisa menggandeng tangan Gilang begitu mesra.
"Pih, kenalin ini Gilang dan d.. " Belum selesai Raisa berucap, rangkulan selamat datang berupa bogem mentah di layangkan Rama pada Gilang, dadanya bergemuruh kesal dengan layaknya ringkikan sakit yang mencekam.
"Kau kurang ajar! Berani sekali kau menodai puteriku! Kau tau siapa aku? " Ucap Rama marah besar, hati seorang ayah yang kini dimilikinya berontak, memberikan kerancuan dalam dadanya menghantamkan rasa sakit di hatinya.
"Pih, papih apa apaan! Itu semua salah aku!" Ucap Raisa berusaha membela Gilang, tangan Rama hendak terangkat dan akan menampar pipi gadis kecilnya, namun tangan besar Rama di hentikan Raisa dengan cepat.
"Ayah berani tampar aku?" Panggilan Raisa berubah dan mata hijau miliknya melotot menghunus tajam hati Rama yang kini tengah berdarah.
Raina yang melihat itu hanya menutup mata dan memalingkan wajahnya, Raina tidak menyangka bila pertemuan mereka pagi itu merupakan sebuah pertemuan ganjil dan sangat membuat otaknya dan hatinya sakit.
"Anak kurang ajar! Kamu berani menentang ayahmu sendiri hah? " Rama kian murka dan dengan sigap Raisa tersenyum getir melemparkan tangan sang ayah.
"Aku kurang ajar? Ayah lebih tidak berguna bagiku! Aku tidak membutuhkan kalian!" Ucap Raisa marah menarik lengan Gilang dan membawanya masuk pada sebuah mobil mewah.
"Jangan bawa apapun dari sini, pergi! " Rama mengibaskan tangannya memerintahkan Raisa meninggalkan rumah. Raisa tersenyum getir menarik lengan Gilang dan keluar dari kediaman megah itu.
Gilang menatap sendu ke arah Raisa ada rasa sesal di hatinya dimana dia malah terbawa birahi dan menyatroni gadis kecil itu, namun dia juga bukanlah orang biasa yang mudah terpancing.
...______________________...
Gilang merupakan seorang mata mata dari Organisasi Eays, dimana di ketuai oleh seorang pria bernama Antonio, Gilang memiliki banyak identitas sama seperti Raisa, saat kecil dia sudah di besarkan oleh seorang pria suruhan ayahnya Nathan.
Namun sebuah tragedi membuat ayah angkatnyapun ikut meregang nyawa dan dia akhirnya di pungut dan di besarkan oleh pria bernama Antonio dan memiliki identitas sebagai anak angkat dari pria tersebut.
Gilang amat sangat benci dengan keluarganya sendiri yaitu keluarga Attahaiya karena dia tahu benar, dirinya kehilangan kakak kakaknya dan kedua orang tuanya akibat keluarga tersebut.
...----------------...
Di suatu sore yang cerah di mana saat itu Gilang tengah berlatih kuda dengan beberapa pelatihnya di sebuah padang rumput di markas besar Eays, dia mendapati kabar bila ayahnya tengah murka karena orang yang telah membunuh ayah angkatnya belum tertangkap juga.
Hal itu amat membuat Gilang marah saat mengetahui semuanya, dia sudah berjanji akan menghancurkan keluarga Attahaiya dengan tangannya sendiri pada ayah angkatnya Antonio.
...----------------...
Gilang menatap Raisa yang nampak lesu berjalan di trotoar entah kemana kini langkah kakinya akan menuju, Gilang berhasil memisahkan tiang penyangga paling kuat dalam keluarga itu, yaitu Raisa.
Raisa nampak sedikit tersenyum saat tiba tiba dari balik jas Gilang mengambil sebuah suntikan, Raisa sudah menunggu saat saat itu sejak awal, dia memang sudah tahu siapa Gilang dari awal.
Clep, jarum suntikan masuk ke tubuh Raisa dan dengan cepat pula Raisa menggigit sebuah obat yang dia sembunyikan di antara sela sela giginya.
Gilang tersenyum iblis memperlihatkan wajah aslinya kini, sebuah mobil berwarna hitam datang menghampiri Gilang dan dengan cepat Gilang mengangkat Raisa dan melemparkan tubuh itu masuk ke dalam bagasi mobil.
"Kamu berhasil nak?" Tanya sang ayah yang tidak lain adalah Antonio saat Gilang masuk ke dalam mobil hitam tersebut.
Gilang tersenyum puas dan memberikan sebuah kunci yang semula di berikan Rayanza pada Raisa, Antonio tertawa penuh kepuasan. Dia sama sekali tidak menyangka bila Gilang akan berguna untuknya dan bahkan mampu menghancurkan keluarganya sendiri hanya dengan sebuah tipu muslihat kecil.
"Kerja bagus nak! Beristirahatlah ayah akan siapkan wanita wanita cantik untukmu malam ini." Ucap Antonio menepuk pundak Gilang tertawa bahagia.
"Rasa gadis itu juga tidak buruk, misi kali ini sungguh membuatku senang ayah." Ucap Gilang, dimana dia sangat suka dengan kenikmatan dan sensasi yang indah saat berhubungan badan dengan Raisa.
"Tahan dulu untuk sekarang, kita akan buat wanita itu menjadi sandraan kita!" Ucap Antonio tertawa penuh bahagia dengan kinerja sang putera angkat.
...----------------...
Mereka akhirnya tiba di sebuah istana megah dengan begitu banyak pelayan dan penjaga, Gilang membuka bagasi mobil dan nampak Raisa yang masih pingsan. Ada perasaan aneh yang kini menghantui hati Gilang, ada perasaan tidak rela dirinya menyerahkan tubuh itu pada Antonio, namun juga ada perasaan aneh dimana dia seakan tidak mengenali sosok yang kini dia angkat.
"Masukan dia ke dalam jeruji besi, dan kita akan minta imbalan yang sepadan untuk gadis itu! " Ucap Antonio pada anak buahnya, dengan berat hati Gilang menyerahkan tubuh itu pada salah satu pengawal pribadi ayahnya dan dengan langkah yang begitu terasa berat dia memasuki rumah megah dengan segala kebutuhannya yang wah.
Beberapa wanita nampak menghampiri Gilang dan menggoda pria itu dengan sentuhan sentuhan erotis mereka, namun sekan bayang terakhir Raisa masih tergambar di ingatannya Gilang sama sekali tidak nafsu melihat wanita wanita itu, dia malah merasa sedikit jijik karenanya.
Namun karena Gilang tidak ingin menyinggung ayah angkatnya terpaksa dia menerima seluruh wanita yang di berikan ayahnya itu padanya, Gilang di giring para wanita itu pada sebuah kamar tertutup dengan aroma obat yang begitu lekat, Gilang mulai merasa gerah namun entah mengapa belalainya tidak kunjung bangun meski dengan rangsangan rangsangan gila sekalipun.
Hati Gilang menjadi kesal saat bayangan terakhir Raisa lagi lagi mengganggunya dan membuatnya tak dapat melupakan sosok gadis yang hanya dia temani selama kurang lebih 24 jam itu.
Sebuah jilatan di lakukan wanita wanita itu pada area tubuh sensitif Gilang namun lagi lagi Gilang tidak merespon dan belalainya tidak juga bangun, Gilang kian merasa kesal dan semakin jijik melihat wanita wanita itu dan membanting mereka semua.
Bersambung...