
Raisa terbangun, tingkat kesadaran Raisa yang tinggi dan dia selalu melatih jantungnya untuk tidak terkejut membuatnya menyadari posisinya malam ini "Selamat pagi suami, ayo bangun sholat dulu." Raisa mengecup kening suaminya.
Leonard menggeliat dan memeluk istrinya, "disini dulu ciumnya." Leonard menunjuk bibirnya dan tersenyum lembut.
Cup, Raisa mengecupnya lembut dan bangkit dari tidurnya, Leonard terkekeh melihat gelagat istrinya yang langsung menghilang dari kamar, Leonard menunaikan sholat subuh dengan keheningan, Raisa memasak di dapur dan menyibakkan gorden melihat remang remang cahaya yang mulai terlihat.
Rentetan cahaya yang mulai padam menandakan malam mulai beranjak dari peraduan, pagi yang biasa bagi sebagian manusia namun tidak dengan Leonard, dia merasakan hatinya terbang menatap indah wajah teduh yang menyihirnya untuk jatuh cinta tanpa jeda, lagi lagi dan lagi, dia kembali dan terus berulang kali jatuh cinta pada wanita di upuk matanya.
Leonard menatap pujaannya di ambang pintu, berjalan dan duduk di kursi makan memperhatikan langkah isterinya, yang membuatkan teh hangat untuknya, Leonard tersenyum hal yang paling di impikan dalam hidupnya benar benar terjadi, kini tidak ada lagi alasan untuknya untuk tidak bersyukur atas apa yang menimpanya.
"Terima kasih isteri" Leonard tersenyum saat isteri nya membawa teh dan sebuah kue basah yang terlihat baru di buatnya.
"Sama sama suami." Raisa kembali ke dapur dan melihat nasi bekas tadi malam, dia mengambilnya hingga habis dan dihangatkan di atas kompor, tak lupa Raisa menyiapkan beberapa bahan untuk membuat menu sarapannya pagi ini hingga matahari terlihat, Raisa menata masakannya di atas meja yang serba sedikit tapi cukup beragam.
Leonard terus tersenyum memandangi isteri nya yang tidak berhenti bergerak "Mau tanya boleh?" Leonard menatap gerakan istrinya yang terus mondar mandir menata makanan, "Boleh, tanya saja." jawab Raisa masih dalam keadaan mondar mandir.
"Kenapa kamu seperti tidak terkejut dengan kehidupan baru kita?" Raisa mengangkat alisnya tak mengerti meminta penjelasan lebih terperinci "Begini sayang biasanya wanita yang baru menikah akan condong lebih terkejut dengan dunia barunya, contohnya saat bangun tidur akan teriak dan berdiri lalu bertanya, kenapa kamu tidur di ranjangku? atau saat terkejut karena aku memelukmu diam diam atau sejenisnya gitu, maaf kalo gak jawab juga gak papa aku cuma penasaran." Leonard tersenyum lembut.
"Hmmm.. Mudah si aku memiliki ingatan yang sedikit tajam dan tingkat kesadaran tinggi meski aku sangat terpaku pada kebiasaan tapi aku sudah sangat bersiap untuk menjadi isteri mu, jadi aku memang terpaku karena kebiasaan namun aku sudah cukup persiapan, seperti itu, nah contohnya begini kenapa kakak juga tidak terkejut saat aku tiba tiba ada disini bukankah itu hal yang sama? jadi tingkat kesadaran dan ingatan kakak juga sangat sensitif sehingga tidak berteriak seperti yang kakak katakan." Raisa menafsirkan pikiran dirinya yang sebenarnya, awalnya memang sedikit takut bersama orang baru berada satu atap, namun melihat sifat manis Leonard dia pun dapat menyimpulkan baik dirinya atau Leonard memiliki banyak kesamaan dan itu cukup memudahkannya untuk membuat suasana menjadi tidak canggung.
"Hmm... Ya masuk akal, aku hanya terkejut saat melihat kamu tanpa kerudung dan tengah memasak dengan nyaman, kamu juga tidak memberikan penolakan bila aku sentuh, tidak seperti biasanya." Ucap Leonard mengambil piring untuknya.
"Kalo kakak gak suka aku gak pake kerudung, aku akan pakai kerudung dimanapun bila begitu, tinggal bilang aja yang tidak kakak sukai dari aku kak, biar aku bisa memperbaiki diri sendiri." ucap Raisa berdiri dari duduknya untuk mengambil kerudungnya di kamar.
"Mau kemana?" tanya Leonard penasaran.
"Ambil kerudung, kakak gak suka kan liat aku kaya ginikan." ucap Raisa berjalan melewati Leonard.
"Bukan begitu sayang, aku suka kamu seperti ini, bahkan sangat suka." Leonard berhasil menarik lengan Raisa dan mendudukkannya di paha kokohnya.
"Terus apa yang tidak di sukai?" Raisa menaikan alisnya tidak mengerti.
"Semuanya aku suka, sangat suka, dan aku tidak tahu harus mengatakan rasa cintaku sekarang bagaimana sayang, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan hidup bersama sampai tua itu saja." Leonard mengecup kening istrinya lembut.
"Cuma sampe tua? simple banget, aku maunya lebih tau." Raisa menyunggingkan bibirnya.
Leonard mengangkat alisnya, "Lebih? maksudmu sayang?" Leonard masih belum mengerti maksud terselubung Raisa.
Raisa tersenyum lembut, " ayo kita bangun surga kita di akhirat suami?" Raisa memeluk suaminya dan di barengi anggukan dari Leonard, Leonard terasa menjadi pria paling sempurna di dunia memiliki isteri yang dapat memahaminya dan tidak mengeluh dengan apapun, bahkan dengan kondisi rumah yang acak acakan pun Raisa tidak mengeluh dan merapikannya.
"Terima kasih isteri" Leonard menyelipkan rambut yang terjuntai ke telinga Raisa.
Raisa tersenyum dan mengangguk, mereka mengawali sarapan mereka dengan hikmat, hingga semua makanan di atas meja habis semua, Leonard yang tidak biasanya makan banyak kini malah makan banyak.
Pagi hari Raisa mencari tanah untuk mengisi potnya yang ternyata sangat sulit, hingga diapun mengurungkan niatnya untuk bercocok tanam.
Siangnya Leonard bekerja online jadi dia berada di dalam kamar, berbeda dengan Raisa yang terus merias rumah barunya menempatkan barang barang yang semestinya namun masih terlihat minimalis, Raisa menata rumah barunya dengan sangat baik, merawat suaminya dengan baik.
Dua hari berlalu Raisa mendapati paket yang dipesan suaminya, sebuah kardus berukuran sangat amat besar dan mungkin seukuran lemari pendingin dua pintu, Raisa amat kesulitan memasukan benda itu kedalam rumahnya.
"Sayang.. Paketnya susah di masukin." Raisa berteriak menjaga paketnya di ambang pintu.
Leonard terkekeh tak kala menatap isterinya tengah berpikir agar paket di depannya dapat di masukkan, "butuh bantuan?" Leonard memeluk isteri nya mengecup kening terkasihnya.
"Paketnya harus gimana? susah sayang." Raisa bermanja bergelayut di leher kokoh Leonard.
Raisa sigap menutup bibir sensual di hadapannya dan memalingkan wajahnya memberi jarak tubuhnya, " paketnya gimana?" tanya lagi Raisa penuh penasaran.
"Buka aja kardusnya masukin dalemnya aja ke rumah" Leonard tersenyum simpul mengerti dengan dirinya yang mang haruskannya tahan dan berpuasa untuk menahan nafsunya.
Raisa manggut manggut dan membuka kardus besar di depan matanya, dia terbelalak bukan main menatap sebah gaun pengantin yang sangat indah, mulutnya menganga dengan tangan kiri sebagai penutupnya dan tangan kanan berusaha menyentuh gaun yang masih tersegel rapih.
"4 hari lagi pernikahan kita akan di umumkan dan resepsi besar besaran akan di gelar di hotel AT, ini untukmu sayang." Leonard menjelaskan maksud gaun itu dan menggenggam tangan lembut yang mempu membuatnya terhanyut.
Raisa tersenyum dengan butiran mutiara menjelajahi pipinya, pelukan hangat dia berikan pada pria tercintanya, "terima kasih sayang" Raisa memeluk penuh haru.
Leonard tersenyum lembut dan menggapai kedua pipi manis istrinya, mengecup keduanya dan membisikan sebuah kata manis di rasa dan lembut di telinga, " kemanakah aku mencari bara api, ketika bara hati padam? kamulah asal api itu bermula dan kamu pula cinta ini bersemayam, tak perlu ada bara untuk membakar cukup kehangatan yang dapat menetap agar selalu tinggal." leonard kembali mengecup kening Raisa.
Cinta yang dijaga Raisa berbuah manis saat dia dewasa, rindu yang selalu mengancamnya tiap kali angin kesunyian datang tak pernah memadamkan api cinta di dadanya.
Jadi mana mungkin api hati akan musnah bila sumber api itu terjaga dan terpelihara dengan sempurna, maka kini dia harus terus menjaganya hingga usia menutup kehidupannya.
4 hari berlalu, hari ini Leonard memastikan acara resepsi yang akan di gelar di sebuah hotel ternama di ibu kota.
Setelah isya Raisa sudah siap dengan gaun yang di siapkan suaminya di bantu MUA untuk meriasnya dengan sangat cantik, wajahnya berbinar bak rembulan malam yang sangat terang.
Raisa memberanikan dirinya berjalan melihat cermin dan terlihat dirinya yang sangat sempurna, bunda Elfie sudah menunggu Raisa di ruang tamu beliau sangat mengagumi kemampuan Raisa merawat rumah yang sangat apik bahkan di rumah itu tidak ada debu sedikitpun, Leonard memberi tahu ibunya bila Raisa yang melakukan semuanya.
Bunda Elfie melihat Raisa yang sudah berdiri di ambang pintu kamar matanya tak berkedip menatap wajah cantik yang kini terlihat di depan retinanya.
"Apa ini putri bunda, cantik sekali." bunda Elfie mendekat dan menggenggam tangan Raisa dengan lembut.
Raisa bersemu kemerahan pandangannya di jatuhkan ke lantai rasa malu mulai menjalari tubuhnya.
"Pantesan si Leo gak kemana mana tujuh hari ini rupanya dia mengunci bidadari di tempat persembunyiannya!" bunda Elfie tertawa geli saat dia tidak dapat menghubungi puteranya dan mendapatkan pesan dari sang putera bila dia ingin beternak manusia.
"Bentar, kamu beneran udah di sentuh Leo?" bunda Elfie melihat Raisa dari ujung kepala sampai ujung kaki dan tidak melihat kelainan sebagaimana perawan yang di ambil kesuciannya, bahkan bunda Elfie yang bisa menilai orang dengan tajam itu masih melihat bila Raisa belum di sentuh oleh Leonard.
Raisa menggeleng pelan, dia meremas tangannya yang terasa dingin dengan keringat yang membasuhi sela jemarinya.
"What! jadi Leo.." bunda Elfie mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Bunda sebenarnya aku datang bulan malam itu jadinya.." belum selsai kalimat terakhir yang akan Raisa katakan gelak tawa terdengar dari bunda Elfie.
"Wuahahahha .. Feet.. Hahah.. Jadi.. Hahaha.." bunda Elfie memegangi perutnya yang terasa sakit, senang rasanya dapat menertawakan kesialan puteranya sendiri.
"Kak.. Huft.. Huuh.." seorang wanita berkerudung merah muda dengan gamis yang menutupi tubuhnya datang dengan nafas tersegal.
"Afifah Atikah" Raisa tersenyum melihat kedua sahabatnya yang tiba begitupun bunda Elfie.
"Assalammu'alaikum Bunda" Atikah mengecup punggung tangan bunda Elfie dan diiringi dengan saliman dari Afifah sesudahnya.
"Wa'alaikum salam, waah, kalo bunda kumpul sama kalian terasa jadi ema ema yang punya banyak anak gadis yang harus di jaga!" bunda Elfie tersenyum pada keduanya.
"Oh ya ayo berangkat, kasian pak supir sudah menunggu lama." bunda Elfie menggandeng tangan Raisa, sedangkan Afifah dan Atikah menghembuskan nafasnya kasar, mereka baru sampai dan harus berlanjut ke perjalanan selanjutnya.
Bersambung...