My Queen Mafia

My Queen Mafia
Siapa Gilang?



Gilang menaruh semua masakannya di atas meja kecuali makanan penutup karena saat itu masih dalam pendingin dan baru akan siap sekitar 5 jam lagi untuk dimakan.


"Ayo makan!" ajak Gilang, namun Raisa menggelang dan memperhatikan bagaimana wajah Gilang yang nampak begitu mempesona.


"Ayo nikah!" ajak Raisa menarik tubuh Gilang hingga hampir pria itu menghentak tubuh Raisa namun Gilang Refleks menahan tubuhnya menggunakan tangan pada meja hingga akhirnya dirinya tidak terjatuh menimpa tubuh Raisa.


"Ayo! sekarang?" tanya Gilang menatap mata hijau yang nampak berkilau.


"Ya, sekarang!" jawab Raisa pasti, dia memang gadis yang dosanya sudah hampir memenuhi langit dan bumi, tapi dia tidak ingin bila hubungannya dengan Gilang menjadi sebuah dosa kembali, dia ingin sebuah kesucian dalam pernikahannya.


Raisa tersenyum lembut dan memasukan ayam dengan Sambal yang pedasnya luar biasa ke dalam mulutnya hingga akhirnya Raisa melotot dan bibir nya langsung memerah merasakan sambal di mulutnya yang menggeluncah pedas.


"Pedes banget! Air ...?" ucap Raisa mengibas ngibaskan tangannya ke wajah dan dengan cepat Gilang memberikan air dalam gelas, Raisa meneguk air itu dengan cepat.


"Pedes banget ya ampun!" ucap lagi Raisa melihat ayam yang kini tinggal ayam saja dan sambal yang sudah habis dia makan.


"Kalo makan makanya di lihat, aku sudah buat cantik cantik piringnya biar yang makannya enak melihat, eh malah matanya kemana mulutnya ke mana, jadi deh begitu!" ucap Gilang terkekeh menyksikan ekspresi kaget Raisa.


"Sambelnya abis ih..!" rengek Raisa dan sontak saja membuat Gilang gemas dan memberikan pring jatahnya pada Raisa dan menarik piring Raisa untuk dia makan.


"Hati hati makannya, kalo gak hati hati nanti kejadian tadi terulang lagi." ucap Gilang duduk di samping Raisa dan makan bersama.


"Iya iya." ucap Raisa cemberut namun dengan mata berbinar menatap makanan cantik yang kini ada di depan matanya.


Beberapa pelayan nampak kembali dan terkejut melihat ke kacauan yang ada di dapur yang nampak seperti kapan pecah, Gilang dan Raisapun tak luput dari sorotan lensa mata mereka yang nampak sangat acak acakan dengan terigu memenuhi tubuh mereka, meski beberpa hal sudah di bersihkan Gilang namun mereka juga cukup terkejut karena kini ayam geprek dengan jumlah hampir 20 porsi sudah siap dalam piring yang nampak begitu cantik.


"Kalian semua makanlah, dan itu buatan Gilang jadi baik baik berterima kasih padanya." ucap Raisa mempersilahkan para pelayannya makan bersama dengan para penjaga di depan yang sudah di panggil pelayan lainnya.


Gilang menatap bagaimana para pelayan yang satu meja dengan majikannya menyaksikan bagaimana Raisa yang nampak angkuh itu memperlihatkan sifat aslinya yang penyayang dan rendah hati.


"Terima kasih banyak tuan muda." semua orang menunduk dan Gilangpun kikuk di buatnya, dan tersenyum lembut.


"Sama sama, kalian juga pekerja keras, ayo makan bersama." ucap Gilang dan akhirnya mereka makan bersama dengan candaan candaan para pelayan dan penjaga dan sesekali di timpali Raisa memperlihatkan bagaimana Raisa yang keras dan tukang marah marah namun memberikan solusi dan memberikan kontribusinya bagi para pekerjanya.


Gilang amat kagum dengan Raisa dan melihat sekilas bagaimana Raisa tertawa akibat candaan para pelayannya dan tidak menampakkan sama sekali sifat ganas yang semula sering muncul di wajah Raisa.


Makan siangpun berjalan baik dan semua pelayan sudah bekerja pada bagiannya masing masing, Gilang masih menatap Raisa dengan tatapan kagum dan penuh makna, andai saja dirinya bisa mengutarakan segalanya mungkin Raisa akan marah besar kepadanya saat ini.


Sekilas Raisa melihat arloji di tangannya dan menghubungi sang bunda dimana Gilang sendiri mendengarkan percakapan keduanya.


"Assalammu'alaikum Ica!" ucap sang buda dan tawapun terdengar dari mulut Raisa.


"Hahahah. Iya bun wa'alaikumus salam. Bunda, Ica mau pulang sore ini dan mau bawa calon suami ke sana. Jangan tanya tanya lagi." ucap Raisa yang menyadari bila Alika pasti akan bertanya lebih banyak padanya bila dia tidak to the poin.


"Calon suami? Ca.." belum selsai bunda Raisa atau Alika menyelsaikan ucapannya Raisa sudah menutup teleponnya dan tersenyum puas, dimana kini mungkin bundanya tengah kalang kabut dan mundar mandir kesana kemari dengan seabrek pertanyaan yang siap dia dengarkan di rumah nanti.


"Feet, bunda pasti terkejut banget deh!" ucap Raisa dan menggenggam tangan Gilang kemudian.


"Aku mandi duluan, habis ini kita ke salon." ucap Raisa menarik tangan Gilang menuju kamarnya.


"Tunggu aku selsai mandi." ucap Raisa dan memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dengan senandung senandung kecil yang terlontar dari bibirnya.


Panas dingin kini di rasakan Gilang, bagaimana tidak dia akan bertemu dengan paman dan sepupunya sendiri saat itu dan akan di kenalkan sebagai calon menantu di keluarga itu, wajah Gilang menjadi pias dan tubuhnya membeku seketika merasakan bagaimana dia akan menghadapi semuanya.


Di sebuah makas Rahasia Rama sudah mulai membuka lembaran lembaran kertas yang baru tiba di markasnya, matanya membulat saat melihat cv seseorang yang baru tiba di datanya.


"Jadi dia orangnya?" tanya Rama pada salah satu ajudannya yang kini berdiri tegap di samping Rama.


"Benar tuan, menurut laporan dari si mbok di kediaman utama dialah orangnya dan semua data dan kecocokannya sudah seratus persen." ucap pria itu yakin.


Rama mengepalkan tangannya kesal, dan membanting kursi yang sempat di dudukinya hingga akhirnya sambungan telpon masuk ke dalam handphone nya.


"Assalammu'alaikum sayang?" ucap Rama berubah lembut saat sang isteri menelponnya yang kini terdengar amat cemas.


"Wa'alaikum salam, sayang Ica..tadi dia bilang..." belum selsai Alika menuntaskan kalimatnya, Rama sudah tahu apa yang akan di laporkan sang isteri.


"Aku sudah tahu sayang, jangan gugup! Aku akan pulang sekarang." ucap Rama berusaha menenangkan sang isteri dengan sura lembut dan penuh sayang.


"Baiklah, cepatlah pulang." ucap Alika, Ramapun mengangguk dan merasakan rindunya yang besar meski baru dua hari itu dirinya dan sang isteri tidak bertemu.


"Iya, aku akan pulang sayang." ucap Rama penuh sayang, hingga akhirnya rasa resah di hati Alikapun menghilang dan mengangguk faham.


"Baiklah, wasalammu'alaikum suami." ucap Raisa dengan penuh ketenangan dan berharap laporan dari mbok padanya itu dapat menguatkannya dan semua hal yang ada di pikirannya bisa luntur dan berubah membaik.


"Wa'aaikum salam isteri." sambunganpun terputus kini Alika dan Rama sudah tahu siapa sesungguhnya Gilang, dan mereka seakan sudah saling faham apa yang harus mereka lakukan tanpa harus saling berucap.


Bersambung...