
"Hei Pak Tua kau bila terus bicara akan aku pastikan mulutmu itu rontok!" Tegas Raisa merasa amat kesal dengan sikap dari Amry.
"Heh! Kau berani menindas ku seperti itu? Akan aku beri tahu pada orang tua mu atas kelakuan mu sekarang!" Ancam Amry, namun sebuah senyum malah terukir indah di bibir Raisa mendapatkan ancaman semacam itu dari Amry.
"Silahkan! Hal itu akan menambah ke khawatiran orang tua ku! Dan itu cukup menguntungkan bagiku!" Raisa tersenyum sekilas nampak jemari tangannya tengah mengcopy sesuatu dan akhirnya sebuah lambaian di berikan Raisa pada Amry.
"Hei hei..! " Amry terkejut saat melihat Raisa berdiri di tepi gedung dan melompat, sesuatu yang sangat tidak terduga bagi Amry di mana kini nampak Raisa sedang bunuh diri atau melakukan akrobat melompat dari atas gedung.
Sebuah parasut terbuka sebelum akhirnya Raisa sampai menapaki tanah dan membuat Amry bernafas lega, sekilas Amry memperhatikan kepergian Raisa dan tersenyum sekilas.
"Semoga tujuanmu tercapai nak!" Lirih Amry membiarkan Raisa berjalan di jalannya sendiri dan menapaki pilihannya yang cukup sulit dan rumit bagi sebagian orang.
...****************...
Gilang melakukan kendaraannya menuju markas utama Raisa, namun tidak dia dapati sosok wanita itu, dia hanya melihat tempat itu yang sama persis dengan siang itu dia datang.
"Sial!" Ucap Gilang menonjok dinding beton di sampingnya, dia menatap layar komputer yang menyala dan memperhatikan aktifitas gadis itu selama ini, hati Gilang menghangat dan secercah rindu kini kembali terbayang akan kenangan gadis itu.
Satu demi satu Gilang mulai mengetahui hal yang sudah di tutupi Raisa. Semua hal tentang Raisa selalu membuatnya terpaku dan terpukau, Gilang yang sadar akan sesuatu langsung menghapus seluruh data komputer.
Gilang keluar dari gorong-gorong itu dan kembali mengendarai mobilnya, dari rimbunan pohon Raisa nampak memperhatikan gerak gerik Gilang dan merasa curiga akan sekelilingnya.
"Heh, kau sangat teledor, tapi aku berharap kamu bisa mengerti." Ucap Raisa dan mengeluarkan sebuah robot tikus dan di biarkan tikus itu masuk kedalam markasnya untuk melakukan hal yang dia inginkan.
Remote control di tangan Raisa nampak dengan lihai di mainkan, dan benar saja akan kecurigaan Raisa di mana beberapa orang nampak masuk ke dalam gorong-gorong tersebut, dari kejauhan Raisa memperhatikan gerak gerik mereka dan tersenyum menatap layar komputer yang sudah mati dan nampak no data membuat Raisa sedikit merasa hangat.
Orang orang yang kemungkinan besar adalah suruhan dari Antonio itu nampak berwajah sangar, Raisa sama sekali tidak melakukan apapun dan nampak mereka yang mengacak acak kamar tersebut hingga akhirnya sebuah ledakan dengan warna jingga menerpa wajah Raisa terdengar.
Raisa mengangkat sudut bibirnya dan menahan senyum dengan kebodohan mereka, nampak ada orang pria yang selamat bersusah payah keluar dari gorong-gorong itu, Raisa berhasil memuluskan rencananya.
Raisa meraih sebuah tas dan menatap sekeliling dan mendapati toilet umum yang cukup sepi, Raisa mengubah penampilannya kulitnya berganti dengan kulit kuning langsat khas asia dan rambutnya menggunakan rambut palsu berwarna merah.
Raisa tersenyum dan mengenakan pakaian sedikit terbuka dengan hills dan tas bermerek layaknya wanita simpanan seorang pejabat atau pengusaha.
Raisa merasa geli dengan penampilannya sendiri namun demi keselamatan dan demi kelangsungan hidupnya dia mulai berjalan dan menaiki sebuah mobil berwarna merah sama dengan warna bibirnya saat itu.
Raisa dengan kecepatan sedang membelah kesunyian kota dan menuju sebuah tempat yang sangat ramai di kunjungi oleh orang orang yaitu bandara.
Dalam paspor tersebut tertera dimana dirinya hanya seorang pendatang yang tengah berlibur dan sudah menjadi hal biasa bila di Negara di tempat asal yang mana tertera dalam paspornya berpakaian seperti itu.
Raisa di izinkan masuk dan berselang satu jam lebih setelahnya diapun lepas dari bandara menuju sebuah negara matahari terbit dengan Sakura lambang bunganya itulah Jepang.
Memang dalam identitasnya kali ini dia bernama cantik yaitu Sakura, entah dari mana dia merasa cocok akan nama itu namun dia sangat kenal dengan Negara itu.
Raisa atau Sakura akhirnya sampai di Jepang dan terlihat seorang pria melambaikan tangan padanya. Raisa menggeleng melihat penampilan pria itu yang hampir sama dengannya dengan begitu banyak aksesoris di tubuhnya dan rambut merah.
"Sakura! Ah kau tiba juga!" Ucap pria tersebut meraih tas kecil Sakura.
"Berhentilah jadi jambret Yoshi!" Keluh Sakura mengibaskan tangannya dan tidak memberikan tas tersebut pada temannya yang kini nampak girang akan kedatangannya.
"Hahaha, oke! Ayo kita ke kemp!" Ucap Yoshi bersemangat namun berbeda dengan Sakura dia mengeluh dan menendang kaki Yoshi kesal, dia merasa sangat kesal akibat pria yang gila kerja itu selalu saja mengajaknya bekerja.
"Aku kesini untuk berlibur bukan untuk bekerja! Kuplak!" Raisa kesal dan berjalan kemudian meraih gagang pintu mobil yang semula di kendarai Yoshi dan membanting pintu itu sangat keras saat dirinya telah masuk.
"Wooi pelan pelan.. Kau berlaku kasar layaknya pada mobil sendiri saja!" Singgung Yoshi marah marah dan berjalan menuju kursi kendali guna menjadi kusir mobil itu.
Yoshi mulai melajukan kendaraannya saat semuanya sudah siap dan mulai membelah kota tersebut, memang benar bila Jepang adalah Negara teraman di dunia dengan tingkat pencarian paling rendah di dunia, namun tempat semacam itulah yang malah di sukai oleh para mafia besar singgah dan melakukan transaksi mereka, meski terkadang akibat kecanggihan teknologi di Negara itu banyak dari para mafia yang justru terbongkar akibat keteledoran.
Bagi para mafia dan beberapa mata mata Jepang juga sangat terkenal di kalangan mereka akan kemampuan berfikir orang orangnya dan banyak di antara mereka yang menjadi mata mata atau detektif Internasional yang berasal dari Negara tersebut.
Sakura sendiri berada di Negara itu sebenarnya bukan untuk menjadi mata mata atau intelejen yang biasanya dia lakukan bersama teman-teman nya menerima misi dari tempat itu, namun kini dia di sana hanya sekedar ingin berlibur saja.
"Kau sungguh hanya ingin berlibur disini? " Tanya Yoshi penasaran, memang selama ini dirinya sudah menaruh rasa kagum pada Sakura.
"Ya, aku akan ambil cuti panjang dan melakukan kegiatan layaknya manusia lain." Ucap Sakura dimana dirinya memang sudah cukup lelah dengan kesehariannya selama ini, dan kini dia ingin membiarkan bagaimana ayahnya bertindak dan memberikan pandangan luas pada mereka akan dunia.
"Apa kau tidak berencana memiliki kekasih? " Tanya Yoshi penasaran, berharap dirinya memiliki kesempatan melindungi wanita yang amat sulit di tebak itu.
Namun nahas bukan jawaban yang di dapati Yoshi namun anggukan dimana Sakura kini sudah tertidur pulas, Yoshi tertawa lembut dan memperhatikan mobil di belakangnya yang sedari tadi terus saja mengikutinya.
Bersambung...