
"Aaa.. Tuan muda! " Teriak wanita wanita itu dengan jeritannya,Gilang membenarkan pakaiannya dan merasakan hatinya yang amat terasa sakit.
Duaar....
Sebuah ledakan besar terdengar dari penjara, Gilang terkejut dan berlari ke arah asal suara, dia mendapati penjara itu hancur dan luluh lantah, dari balik reruntuhan nampak Antonio yang keluar dan di penuhi dengan warna darah di tubuhnya.
"Ayah? Apa yang terjadi?" Tanya Gilang penasaran dengan apa yang sedang terjadi di balik reruntuhan itu.
...----------------...
Beberapa saat yang lalu, Antonio membawa tubuh Raisa memasuki jeruji besi dan menyiramkan air pada wajah gadis itu, namun bukanlah sebuah hal yang dia ingin saksikan, seketika tubuh Raisa meledak dan menghancurkan tempat tersebut, darah muncrat memenuhi isi ruangan tersebut.
Antonio amat kesal saat mendapati hal tersebut dia dengan susah payah keluar dari dalam sel tersebut, namun sebuah tragedi lagi lagi membuat pria itu kesal dimana tawanan emasnya yaitu Ferry berhasil melarikan diri dari sel tersebut.
Kesal sudah pasti di rasakan oleh Antonio, dia tidak menyangka bila orang hebat seperti Raisa akan melakukan bunuh diri dengan cara yang paling mengerikan, yaitu Bom bunuh diri.
...----------------...
"Ayah?" Lagi lagi Gilang bertanya memperhatikan bagian tubuh sang ayah dimana terdapat goresan goresan kecil di sana.
"Dia bunuh diri!" Ucap Antonio, ada sebuah rasa aneh yang kini jelas mengganjal hati Gilang, namun dia sama sekali tidak dapat mengeluarkan perasaannya, matanya merasakan desiran lembut dari air garam.
Gilang melihat masuk ke dalam TKP dan mendapati sebuah kehancuran dengan darah yang bergelimpangan, sebuah bunga dari tiara di atas kepala Raisa nampak tergeletak, Gilang menatap sendu tiara itu dan mengambilnya.
Rasa sesal dan sesak kian menjalari hati Gilang, entah apakah dirinya benar benar sudah jatuh cinta pada sosok Raisa, ataukah memang dirinya hanya merasa kasihan.
Namun selama ini dia sudah membunuh ratusan nyawa namun tak pernah merasakan iba sedikitpun di hatinya.
"Gilang? " Ayahnya berseru memanggil nama Gilang dengan cepat Gilang menghapus air matanya yang sempat menetes dan menyimpan tiara itu dalam saku celananya.
"Iya ayah." Jawab Gilang melangkah mendekati sang ayah dan berusaha tersenyum sebisanya.
"Awasi terus keluarga Attahaiya dan laporkan padaku, bila keluarga itu mencari Raisa. Maka, bisa di pastikan bila gadis itu benar benar bunuh diri. Namun bila tidak, aku takut ini hanya sebuah tipu muslihat." Ucap Antonio memberikan aba aba pada puteranya.
"Baik ayah." Tanpa menjawab lebih banyak Gilang lantas berlari, hatinya sama sekali tidak tenang dan berusaha mencari Raisa di segala tempat yang pernah dia singgahi.
Untunglah hari saat itu sudah malam hingga wajah sedih tidak nampak dari ekspresi Gilang dan tidak terlihat oleh siapapun.
...----------------...
Di sebuah tempat di atap sebuah gedung pencakar langit, seorang pria dengan sedikit mengotak atik komputernya menjadikan sebuah persimpangan menjadi sasarannya.
Lampu merah menyala, seorang wanita nampak keluar dari dalam sebuah mobil dan melemparkan tas hingga jatuh tepat di belakang mobil berwarna hitam.
Sebuah tangan keluar dari dalam bagasi mobil dan mengambil tas tersebut, hingga akhirnya mobil itu kembali berjalan dan sampai di lampu merah selanjutnya, seorang wanita sembunyi sembunyi keluar dari dalam bagasi tersebut, tidak ada yang curiga akan hal tersebut karena yang melakukannya adalah Raisa si Ratu mafia, di selangi satu mobil dengan pengawal Antonio dimana tepat di belakang mobil Antonio adalah mobil suruhan Raisa dan di belakangnya lagi adalah mobil pengawal Antonio.
Raisa dengan cepat memasuki kolong mobil di belakangnya dan bersembunyi, tangannya terasa panas karena mesin mobil tersebut sudah mulai jauh berkendara, Raisa bersama dengan mobil itu akhirnya sampai di sebuah parkiran apartemen.
"Kamu gila Raisa!" Seorang pria keluar dari mobil saat Raisa keluar dari bawah mobil tersebut, Raisa terkekeh menepuk pundak kokoh di hadapannya.
"Makasih kak Ikhna! " Ucap Raisa seraya berlalu menuju lift dan menaiki lantai demi lantai hingga sampai pada lantai paling akhir, Raisa menampakan kakinya dan mulai mencari tangga untuk dirinya tapaki dan kembali berjalan ke atas gedung tersebut hingga akhirnya dia sampai di atap.
"Kamu sangat cerdas Sa!" Ucap seorang pria dengan rambut putih yang mulai nampak di kepalanya.
"Ah kau bisa saja Pak Tua, aku sudah tau diri bila aku memang hebat. Aku tidak butuh pujian!" Ucap Raisa menatap langit malam dengan sorak sorak kendaraan di bawah sana.
"Berhenti memanggilku Pak Tua, namaku Amry!" Ucap Amry kesal memutar bola matanya.
"Ck, siapapun namamu itu tidak penting, yang jelas kau tetap Pak Tua!" Ucap Raisa tertawa menepuk pundak Amry.
"Terserahlah aku lelah di panggil begitu! Apa kau tidak takut orang tuamu khawatir? " Tanya lagi Amry merasa sangat khawatir.
"Memang itu yang aku harapkan, aku berharap bila mereka khawatir dan mencari ku." Ucap Raisa duduk di tepi gedung dengan pemandangan indah malam itu.
"Kau sungguh tidak mencintai Gilang kan?" Tanya lagi Amry menatap bagaimana wajah Raisa yang sangat sulit di tafsiran.
"Aku mencintainya, tapi aku juga perlu memberi sedikit pelajaran pada pria itu!" Ucap Raisa jujur dengan perasaannya, dia sudah tahu bila Gilang juga mencintainya namun entah apa yang membuat pria itu menjadi gila dan buta mata, namun akan dia pastikan bila Gilang akan menyesal.
"Darahmu terkuras cukup banyak!" Ucap lagi Amry menatap wajah pucat Raisa yang nampak sangat jauh berbeda dari biasanya.
"Ah aku menghabiskan 3 labu darah untuk melakukan ledakan dalam tubuh palsu itu." Raisa terdiam, darah yang ada dalam bercak ruangan penjara itu memang benar benar darah Raisa.
"Kau sungguh tangguh gadis kecil." Ucap lagi Amry menepuk pundak Raisa dan menatap ke arah dimana jalan dengan kendaraan berseliweran.
"Jangan banyak bicara, perlihatkan padaku kondisinya!" Ucap lagi Raisa dimana tiara yang dia pasang sebelumnya merupakan sebuah kamera pengintai.
Nampak kondisi penjara yang di terangi lampu lampu kecil dan beberapa tahanan, Raisa tersenyum saat tubuh itu di letakkan di samping penjara Ferry.
"Enter!" Ucap Raisa menekan kata yang dia sentuh saat air mengguyur boneka itu dan meledaklah boneka itu dan menghancurkan semuanya.
Nampak dari kamera bagaimana Ferry meraih pakaian Raisa yang tidak sobek dimana di dalamnya terdapat baling baling, Ferry berlari keluar ruangan yang sudah menganga itu dan dan menghabitkan baling baling itu pada orang orang yang menghalanginya dan dengan cepat pula Ferry nampak memasuki rimbunan hutan dimana di sana sudah di siapkan hal hal yang di perlukan Ferry sebelumnya oleh sahabatnya sendiri yaitu Amry.
Raisa tersenyum puas namun retinanya kembali membulat saat seorang pria nampak berlari memasuki ruangan itu dan mengambil tiara dimana alat pengintai yang di kenakan Raisa, dengan Jelas Raisa dapat melihat bagaimana Gilang menitikan air mata dan mengusap tiara itu.
Hati Raisa terenyuh menatap sedih di wajah itu, namun dengan keteguhan hati Raisa dia akhirnya membulatkan tekadnya dimana Gilang pun perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Amry yang melihat itu tertawa geli, dia merasa bila kelakuan Gilang sangat tidak jantan, entah itu karena dirinya yang tidak pernah punya isteri atau memang dia tidak pernah mencintai wanita, namun di mata Amry hal itu sangat memalukan.
Raisa menatap tajam ke arah Amry dan memukul tangan pria paruh baya itu hingga akhirnya mengaduh dan tertawa keras setelahnya.
"Hei Pak Tua, apa kau tidak pernah jatuh cinta? Dasar pria bodoh!" Ucap Raisa sangar tidak suka dengan tingkah laku Amry yang seakan tengah merendahkan Gilang.
"Uuuuh, tidak! Aku tidak akan jatuh cinta, dan gadis kecil seperti mu sangat rentan akan perasaan, lihatlah dirimu yang tertipu mantan kekasihmu sendiri hahahahaha.." Tawa Amry menggema kian membuat Raisa kesal akibat ulah pria itu.
Bersambung...