
Nathan dan Atikah akhirnya sampai di sebuah hotel yang sudah di siapkan langsung oleh Leonard dengan pemandangan indah kota Seoul. Atikah belum juga bangun saat mereka sampai.
Hingga akhirnya saat tubuh Atikah menyentuh kasur Atikah akhirnya tersadar dan langsung mendorong tubuh Nathan.
"Udah sampe ya? Cepet banget si. Masih ngantuk nih." Nathan terkekeh melihat sang isteri dengan santainya menguap.
"Tidur aja lagi, aku mau mandi dulu." Nathan mengusap kepala Atikah. Dan seketika Atikah tercekat seakan ingat sesuatu.
"Aku dulu aja mandinya." Atikah langsung menggusur handuk yang memang sudah di persiapkan Hotel. Atikah mandi dan membersihkan makeup nya cukup lama. Hingga akhirnya selesai dan keluar dengan hanya menggunakan handuk.
Nathan yang melihat tubuh sang isteri menelan salivanya dia melihat bagaimana keindahan di dunia itu nampak nyata di depan matanya.
"Nanti aja, Kamu bau keringat. Mandi sana!" Atikah yang sudah bisa membaca gerak gerik Nathan akhirnya to the poin.
"Jahat!" Gerutu Nathan namun tidak di tanggapi oleh Atikah.
Atikah yang sudah sadar dirinya di kerjain sahabatnya akhirnya memutuskan mencari jalan keluar. Baju baju tipis yang di ada di tasnya sudah membuatnya muak. Namun akhirnya dia menemukan jalan keluar yaitu dengan mengenakan pakaian Nathan.
Meski begitu malam itu Atikah tidak dapat menghindar dari kerakusan pria yang telah resmi menjadi suaminya itu, Jhonatan.
...****************...
Beberapa bulan malam itu Raisa dan Leonard mengadakan acara selametan acara tujuh bulanan, kebetulan besok paginya Raisa akan berangkat ke rumah sakit untuk melakukan observasi guna melakukan operasi SC.
Pagi tiba dan jam menunjukkan waktu pukul tujuh pagi, Leonard menatap wajah sang isteri yang nampak sangat pucat, ada sebersik khawatir di dada Leonard, dia akhirnya memberanikan diri menyentuh pipi sang isteri yang terasa sangat dingin.
"Sayang bangun! udah siang nih." Leonard mengecup pipi isterinya namun Raisa tak kunjung bangun yang hingga akhirnya Leonard menggoyangkan tubuh sang isteri.
"Sayang bangun!" Leonard amat ketakutan saat tak mendapati gerakkan dari tubuh sang isteri, dia juga tak mendapati atau melihat isterinya bernafas sontak saja dada Leonard menjadi sesak dan langsung berteriak memanggil sang bunda.
"Bundaaa... Tolong.. Hiks .. Hks.." air mata Leonard langsung mengalir memeanggil bundanya.
"Sayang...! bangun! sayang.... Hiks hiks.." Leonard berteriak teriak memanggil Raisa namun tak kunjung mendapati gerakan dari sang isteri, bunda Elfie tiba tak lama kemudian melihat puteranya yang menangis memanggil Raisa.
Bunda Elfie mendekat menyentuh tangan Raisa yang terasa sangat dingin, "sayang.. Nak... Bangun sayang!" bunda Elfie pun mengusap halus lengan Raisa namun kembali tak mendapati gerakkan dari menantunya tersebut.
"Bunda ada apa?" ayah Dzikri tiba setelah sebelumnya dia berada di ruang makan bersama bunda Elfie.
Bunda Elfie hanya menoleh dan kembali menyentuh pergelangan tangan Raisa namun nahas saat dia mencari denyut nadi menantunya dia tidak mendapati apa apa selain dingin saja.
"Ayah panggil dokter sesegera mungkin!" bunda Elfie ikut panik dan melihat puteranya yang sudah seperti orang gila.
"Sayang.. Bangun sayang..! kamu jangan ninggalin aku sayang.. Sayang... Bawa aku juga sayang... Sayang!..!" dengan mata yang terus berurai air mata dia berteriak teriak, namun dia tidak berhasil menemukan kembali gerakan dari sang isteri.
Dokter tiba tak lama kemudian dan dengan cepat memeriksa Raisa, dia mengecek denyut nadi dan sejenisnya namun kemudian dia menggeleng.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun" dokter tersebut mengucapkan kalimat tersebut namun Leonard langsung menarik kerah baju dokter tersebut dan membantingnya ke belakang.
"Apa apaan lo hah? lo pikir istri gue udah mati! dia masih hidup!" bentak Leonard, Leonard kembali menggoyangkan tubuh isterinya namun masih sama dia tidak mendapati gerakan dari sang isteri.
"Panggil dokter yang lain!" seru Leonard mengecupi kening sang isteri.
"Sayang kamu sudah janji akan bertahan sayang! kamu sudah janji akan naik haji tahun ini bersama denganku kan.. Hiks. Sayang.." Leonard memeluk kepala sang isteri namun Raisa tak memberikan respon.
Dan kembali lagi Leonard menjadi murka dia benar benar berubah menjadi binatang saat itu hingga akhirnya Ridwan datang dan melihat wajah pucat Raisa, Ridwan menyibakkan selimut yang menyelimuti kakak iparnya dan menyentuh perut buncit itu.
Deg, jantung ridwan seakan terlonjak saat mendapati sebuah gerakkan dari dalam perut Raisa, "Bawa kak Ica ke rumah sakit sekarang, dede bayinya masih hidup!" seru Ridwan dan sang bunda langsung melotot menyentuh perut Raisa dan mengangguk setuju.
Tanpa aba aba, Leonard langsung mengangkat tubuh Raisa menuju garasi bersama dengan bunda Elfie dan ayah Dzikri.
Ridwan mematung melihat kepergian mereka, seorang sopir tiba dan membukakan pintu untuk Ridwan, "aku tidak akan masuk sekolah? bawa aku ke RS sekarang!" seru Ridwan dengan wajah dinginnya namun masih terlihat matanya yang berkaca kaca.
Sopir itu mengangguk menuruti ucapan majikannya.
Leonard tiba di RS dan berteriak memanggil dokter, Ferry, tiba saat melihat Leonard tengah berteriak teriak setelah sebelumnya menyetir layaknya orang yang kesetanan.
"Ada apa ini?" tanya Ferry mempersilahkan Leonard membaringkan Raisa di sebuah ranjang rumah sakit.
Leonard dengan air mata yang beruraian, "bantu isteriku! dia masih hidup!" seru Leonard, Ferry mengangguk.
"Kamu tunggulah di luar dan aku akan melakukan yang terbaik, panggil dokter kandungan kemari!" Ferry meminta bantuan perawat dan Leonard di tarik bunda Elfie dan ayah Dzikri untuk keluar dari ruangan UGD.
Kaki Leonard tak dapat diam dengan air mata dan tangan yang bergetar dia berjingkrak ke sana ke mari, tak lama kemudian Ridwan tiba, Ridwan yang sudah mengabari Nathan dan Atikah pun akhirnya duduk di samping sang bunda.
Tak berapa lama kemudian nampak Afifah datang bersama dengan suaminya yaitu Farhan.
Nampak air mata menggenangi mata mereka hingga dokter Ferry bersama dokter bedah dan dokter kandungan, membawa tubuh Raisa menuju ruangan operasi, dan berselang satu jam kemudian Leonard di panggil menuju ruangan dengan syarat jangan membuat keributan. Dan Leonard tertegun saat mendapati dua buah box berisi bayi yang nampak sangat sehat namun bertubuh cukup mungil.
"Ini adalah putra putrimu, selamat Leo! kamu sudah menjadi ayah!" Ferry mengulurkan tangannya namun Leonard masih terdiam.
"Bagaimana dengan istriku?" tanya Leonard dengan wajah nanarnya.
"Maafkan aku Leo, isterimu saat di bawa ke sini dia sudah meninggal dan aku berharap kamu jangan terlalu ..." belum selsai Ferry mengucapkan kalimat terakhirnya leonard berteriak keras.
"Aaaarrrgh.. Aaaa..." Leonard berteriak menjambak rambutnya sendiri, bunda Elfie yang ikut masuk bersama Leonard memberikan isyarat pada suami dan putera keduanya untuk membawa Leonard.
"Tenang Leo! tenang!" ayah Dzikri berusaha menenangkan puteranya namun Leonard berontak.
"Tenang bagaimana ayah! istriku...!" Leonard membentak sang ayah dan merasakan sukmanya yang seakan menghilang.
Clep, sebuah suntikan penenang di berikan Ferry setelah di perintah bunda Elfie, Leonard terdiam dan langsung terjatuh, samar samar dia terus memanggil isterinya dan air mata terus meleleh dari pelupuk matanya.
...----------------...
Bunda Elfie berdiskusi dengan dokter Ferry dan dia meminta untuk melakukan otopsi pada jenazah Raisa, karena dia merasa sangat ganjil melihat sebelumnya Raisa yang nampak baik baik saja.
Setelah otopsi berakhir Ferry menyerahkan hasilnya pada bunda Elfie dan mendapati sesuatu yang mencengangkan, sebuah zat yang berbahaya terkandung dalam makanan terakhir yang Raisa makan.
Bunda Elfie meremas kertas tersebut dengan amarah yang menggeluncah, "Kumpulkan semua pelayan rumah sekarang! bawa mereka semua ke kantor polisi tanpa terkecuali!" seru bunda Elfie meminta asisten kepercayaannya dengan cepat asistennya bergerak mengikuti arahan bunda Elfie, ayah Dzikri tertegun saat mendapati hasil otopsi dan memperlihatkan hal tersebut pada Nathan.
Nathan menutup mulutnya begitupun Atikah dan semua orang yang melihat hasil otopsi.
semua pelayan di gelandang ke kantor polisi tanpa terkecuali, bunda Elfie murka dia memberikan bukti bukti yang dia miliki ke pada pihak kepolisian.
Bersambung...