My Queen Mafia

My Queen Mafia
Alone



Raisa menghembuskan nafasnya kasar saat menatap bagaimana kotornya ruangan tersebut, perlahan namun pasti Raisa mulai merapikan setiap benda benda kotor di ruangan tersebut, rasa lelah menyerebak di tubuh Raisa saat seluruh rumah nampak sudah rapi dan bersih.


"Ah, perutku..." Rintih Raisa saat merasakan perutnya yang mengejang dan segera berlari ke kamarnya menuju kamar mandi dan melihat bercak darah.


"Ah.. udah keluar lagi." ucap Raisa lirih tanpa sadar saat dirinya sudah kembali siap sebuah tangan melingkari perutnya.


"Kenapa?" tanya Leonard menyimpan dagunya di pundak Raisa saat kegelisahan nampak di wajah sang isteri.


"Aku datang bulan, mini market terdekat dari sini di mana?" tanya Raisa saat perutnya kembali bergejolak dengan rasa yang aduhai sakitnya.


"Oh, datang bulan.. Tunggu! datang bulan?" Leonard terkejut saat mendapatkan pengakuan itu dari Raisa.


"Iya, aku gak bawa pembalut dan kemungkinan aku, eee... Mau gak bantu aku anter ke mini market?" ucap Raisa mengadu adukan dua jari telunjuknya memasang wajah memelas.


"Bisa sayang, ayo aku anter." Ujar Leonard lembut membuat hati Raisa menghangat dan merasa bahagia.


Meski malam pertamanya harus tertunda namun Leonard amat bersyukur saat melihat bagaimana Raisa yang tidak mengeluh akan tempat yang di tinggalinya, bahkan dengan senang hati Raisa merapikan rumah yang sudah layaknya kapal pecah itu.


Malam itu juga Raisa dan Leonard berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan memilih berbagai jenis keperluan mereka dan kebutuhan yang mungkin akan mereka gunakan saat mereka tinggal di apartemen itu.


Dengan gaya sederhana Raisa dan sifat royal Leonard membuat keduanya saling melengkapi, Raisa yang lebih memilih membeli barang barang dengan harga pasaran berbanding terbalik dengan Leonard yang selalu menginginkan benda terbagus dengan kualitas terbaik. Mereka saling melengkapi dan akhirnya memadu padankan kedua hal tersebut, membuat sinkronisasi yang harmonis di antara keduanya.


Acara belanja merekapun usai dan mulai pulang ke rumah mereka dengan belanjaan hampir satu mobil penuh, Raisa membeli banyak kebutuhan di rumah yang mana sangat tidak terawat itu, bahkan alat alat kebersihanpun sangat minim di rumah tersebut.


Leonard dan raisa sampai di rumah setelah belanja panjangnya, mereka menerima kiriman belanjaan yang semula mereka beli, jam menunjukkan pukul 22.00 itu artinya waktu sudah sangat malam, Raisa mengambil baju tidur yang baru di belinya, dia mandi dengan semangat dan mencuci bekas pakaiannya, begitupun Leonard, Raisa merapikan belanjaannya, barang barang di letakkan semestinya, Raisa meletakan pakaiannya sama dengan lemari suaminya, Leonard hanya memperhatikan seliweran Raisa yang mondar mandir kesana kemari.


"Sayang..?" Leonard sangat ingin mendapatkan perhatian dari isterinya seperti barang barang yang di pegang oleh Raisa.


"Hmmm..?"Raisa hanya menyahut sekilas dan kembali beres beres, Leonard sampai naik darah dia menarik tangan istrinya.


"Besok aja beres beresnya lagi, aku ambil cuti besok jadi sekarang, tolong diam dan menurut, aku mau kamu sayang." Leonard berbisik di telinga Raisa dan sedikit menjilat cuping telinga istrinya, membuat darah Raisa seakan berdesir lembut menuju rangsangan berasal.


"Tunggu!" Raisa berbalik menghadap Leonard yang sudah siap menyantap bibirnya.


Raisa bangkit dari pangkuan suaminya, Raisa duduk di samping Leonard dan memegang kedua tangannya "kak maaf, yang seperti tidak bisa aku kendalikan, tadi pagi pas aku dapat kabar kakak bakal nikahin aku, saat itu aku udah ada firasat makanya ngambek, untung aja tadi siang akad nya jadi belum sampai haid, bayangin kalo udah nyusun sampai selsai dan tiba tiba aku haid, batalkan nikahnya, lain kali kalo mau apa apa bicara dulu biar gak kaya sekarang ya? Sayang." Raisa agak ragu mengatakan kata akhirnya hingga suaranya menjadi kecil.


"Ulangi lagi kata akhirnya, dengan jelas." Leonard menundukkan pandangannya, 'aish malam pertamaku! ucap Leonard dalam hati.


"Hmm.. Sayang" Raisa mengatakannya sedikit lebih keras, Leonard tergelak melihat tingkah Raisa yang malu malu.


Cup, sebuah kecupan lembut mendarat di kening Raisa, Raisa menutup matanya bibir Raisa yang sedikit terbuka membuat Leonard ingin sekali memakannya, hingga tanpa sadar bibir keduanya menempel, Leonard merasakan bibir lembut itu yang sangat nikmat hingga ingin lagi dan lagi dia menekan tengkuk Raisa untuk memperdalam ciumannya, lidahnya mulai bermain di dalam rongga mulut Raisa, Raisa gelagapan ciuman yang pertama baginya terasa sangat panas nafasnya terasa berat, Raisa mendorong dada suaminya, menatap mata itu yang sudah sangat sayu terlihat jelas Leonard yang sudah tidak tahan dengan rangsangan tersebut.


"Gak tahan ya?" Raisa berbisik di telinga Leonard, Leonard terbelalak mendengar ucapan Raisa.


"Dari mana kamu tahu aku gak tahan?" Leonard menyesap rambut Raisa yang terasa begitu menggoda yang tergerai.


"Feet.. Tau lah! lihat mata kamu sayu gitu emang bisa bohong hmm..?" ucap Raisa tersenyum manja.


Leonard mengangkat alisnya "Masa? Aku gak gitu loh?" Leonard menggigit sedikit leher Raisa dan mampu membuat Raisa merem melek.


"Sayang.. Sssttt.. jangan kaya gini, sabar kak." Raisa menjauhkan dirinya saat lagi dan lagi Leonard mendekapnya dalam pelukan.


"Fiiiuuuh, ya deh. ayo tidur biar gak macam macam lagi." ucap Leonard mengangkat tubuh mungil Raisa ke kamar mereka, Raisa tersenyum lembut dan membenamkan tubuhnya di dada bidang sang suami.


Saat dikira Raisa sudah tidur, Leonard ke kamar mandi, Raisa yang belum tertidur tersenyum lembut dia yakin suaminya tengah melakukan sesuatu yang ada di pikirannya "Maaf sayang.." bisik Raisa dan membenamkan wajahnya di selimut saat Leonard kembali ke kamar, terlihat rambutnya yang basah dan tubuhnya yang masih basah.


"Kamu sangat ahli menyiksaku tau sayang." Leonard mengecup kening sang isteri dan membuka lemarinya, menggunakan pakaiannya dan tertidur di samping Raisa.


Jam menunjukkan pukul 02.09 Raisa sudah terbiasa bangun jam seperti itu, namun kali ini dia tidak melakukan sholat malam karena halangan, Raisa ke luar kamar mengambil air minum dari lemari es dan menatap kota yang telah sunyi, Raisa hanyut dalam buaian indah malam itu, "lagi apa?" Leonard tiba tiba berada di belakang Raisa dan memeluknya erat.


"Kok bangun, ayo tidur lagi masih pagi. Kalo enggak, sholat malam dulu gih biar tenang, ayo ke kamar." Raisa menarik lengan Leonard.


Leonard ke kamar mandi mengambil air wudhu dan menunaikan sholat malam setelah beberapa tahun tidak melakukan sholat itu, Leonard kembali memeluk istrinya dan tertidur hingga adzan subuh berkumandang.


Bersambung...