My Queen Mafia

My Queen Mafia
Nathan?



Gilang yang melihat rumahnya dilalap si jago merah memang merasakan sakit dan hatinyapun ikut terbakar, melihat senyum evil Raisa dia menjadi sedikit takut pada gadis kecil yang nampak menggemaskan namun ternyara sangat sadis itu.


"Apa kamu sudah terbiasa membakar rumah?" tanya Gilang penasaran saat jarak mereka cukup jauh dari rumah Gilang.


"Ya, aku bahkan pernah berkali kali membakar istana orang dengan pemilik istananya." ucap Raisa dimana dia mengingat saat membakar kastil megah milik salah satu pembesar bisnis dan juga negara.


"Apa kamu tidak pernah takut?" tanya lagi Gilang penuh pilu bagaimana merasakan tangan api Raisa yang penuh darah.


"Takut? Mungkin aku sendiri tidak! Aku hanya takut bila orang orang yang aku lindungi terluka." ucap Raisa tulus, sontak saja sebuah rona menghiasi pipi Gilang.


"Yang kamu lindungi?" tanya lirih Gilang dia berharap bila dirinya masuk salah satu list dari orang orang tersebut.


"Ya, seperti keluargaku dan calon suamiku." ucap Raisa dan sontak saja wajah Gilang memanas hebat dengan mentari terik hari itu mampu membuat dada Gilang berkoar kobar terbakar api cinta.


"Kita ke sana dulu!" ucap Raisa menunjuk sebuah lapangan luas dengan hutan di sekitarnya.


Gilang mengangguk menuruti keinginan Raisa, Raisa membuka sebuah pintu gorong gorong dan mengambil sebuah kunci dari dalam sana. Raisa menekan remot yang ada pada kunci itu hingga tidak lama kemudian sebuah mobil sport berwarna hitam dengan mengkilatnya datang menghampiri Raisa.


"Mana sepedanya?" ucap Raisa meminta sepeda Gilang dan memerutuli setiap bagian sepeda itu dan memasukannya ke dalam gorong gorong tersebut, ya gorong gorong itulah markas utama Raisa.


"Ini tempat apa?" Gilang sangat terkejut saat melihat isi dari gorong gorong itu yang semuanya terlihat wah dan jauh dari namanya gorong gorong di dalam sana justru nampak seperti hotel bintang lima.


"Markas utamaku, sudahlah! Ayo pergi!" Ajak Raisa mengangkat koper Gilang dan mengunci gorong gorong itu kembali dengan sidik jarinya, Gilang yang menyaksikan itu hanya terpaku dan memaski mobil mewah Raisa.


"Mau nyetir?" tanya Raisa memperlihatkan kunci mobilnya pada Gilang, Gilang mengangguk dan mengambil kunci mobil tersebut, Raisa membawa Koper Gilang bersamanya dan memeluk koper itu terasa amat nyaman dalam kursi penumpang.


Gilang melajukan mobil itu dan melihat sekilas Raisa yang tertidur di kursi penumpang, Gilang melihat peta yang berada pada monitor mobil itu dan melihat sebuah tanda Kediaman Attahaya pun akhirnya berhenti dan melihat gerbang menjulang di depannya yang nampak sangat menyeramkan.


"Maaf tuan anda mencari siapa?" tanya seorang satpan yang nampak berjaga di rumah tersebut, Gilangpun tersenyum.


"Aku membawa calon Isteriku dan dia memintaku kemari." ucap Gilang memperlihatkan seorang gadis yang terlelap dalam kursi penumpang.


"Maaf, bisa anda bangunkan nona kami?" tanya satpam itu lagi, karena melihat Raisa yang begitu pulas tertidur dia sempat menyangka bila Raisa tengah pingsan.


"Baiklah." ucap Gilang seraya menggoyanhkan tangan Raisa dan mencubit hidung mancung gadis itu.


"Uuuh, masih ngantuk ih.." Raisa membuka matanya perlahan dan melihat Gilang yang nampak tengah mencolek colek pipinya.


"Aku di suruh pak satpam." ucap Gilang tersenyum lembut dan mencubit lagi hidung Raisa yang begitu menggemaskan.


"Uuh aku ngantuk tau! Bilang aja aku mager." ucap Raisa males dan kembali lagi tertidur.


"Maaf nona apa benar beliau adalah calon suami anda dan apa anda benaran nona kami?" tanya satpam itu belum sepenuhnya percaya.


"Rrrr.. Lo gak liat gue lagi tidur hah? Dia emang calon suami gue! Nih liat muka gue? Emang lo pikir gue robot!" ucap Raisa marah, satpan tersebutpun mengangguk melihat amarah Raisa yang seperti biasanya, dia kini tidak lagi curiga dan membukakan pintu gerbang rumah itu. Dangan perlahan Gilang masuki halaman rumah yang layaknya istana itu dan berhenti di sebuah garasi.


"Aku mau ke kamar, di gendong!" ucap Raisa melingkarkan rangannya di tengkuk Gilang, Gilang menggeleng melihat bagaimana sifat manja Raisa dan melepaskan pelukan itu dan keluar dari mobil dan mengangkat tubuh Raisa kemudian ala briden style.


"Pengen ayam geprek!" rengek Raisa memeluk Gilang, Gilang hanya terkekeh mendengar Raisa yang ngelindur dan memeluknya erat.


"Permisi, kamar Raisa di mana?" tanya Gilang melihat salah satu pelayan yang kini menunduk padanya.


"Di sana tuan, tapi maaf nona Raisa tidak pernah mengizinkan siapapun masuk le kamarnya." ucap pelayan itu khawatir bila saat bangun Raisa akan ngamuk dan mereka semua akan di pecat.


"Gak papa, dia yang memintanya kok! Dimana?" tanya lagi Gilang dan berjalan menuju kamar Raisa dimana terlihat sebuah ruangan besar dengan gorden gorden besar yang tertutup dan kasur besar dan rak rak buku menjulang.


Gilang membaringkan Raisa dalam kamar besar itu dan sekilas tiga buah foto dimana dua anak kembar perempuan yang kemungkinan adalah Raisa da Raina, dua anak kembar laki laki dan perempuan yang kemungkinan Alika dan Rayanza dan sebuah foto dengan tiga orang laki laki beda usia dengan salah satu laku lakinya memiliki rambut merah mencolok tengah tersenyum lepas dengan dua pria lainnya yang kemungkinan adalah, Rama, Leonard dan ayah Gilang yaitu Nathan.


Hati Gilang terenyuh menatap potret tersebut hingga tanpa terasa air matanya mengalir dan mengusap foto tersebut.


"Ce, pengen ayam geprek!" ucap lagi Raisa lirih dalam tidurnya, Gilang terkekeh dan mengusap air matanya seraya mengusap lembut pipi Raisa dan mengecup kening putih itu sekilas dan keluar kamar.


"Maaf dimana dapur di sini?" tanya Gilang pada salah satu pelayan dan pelayan itupun menunjukan letak dapur rumah itu, Gilang sekilas menatap seorang wanita paruh baya yang nampak tengah memasak untuk para pelayan yang di temani oleh pelayan pelayan lainnya.


"Permisi, apa aku boleh ikut memasak?" tanya Gilang dan sontak wanita tua itu berbalik menatap Gilang dan menjatuhkan sendok yang semula di pegangnya dan pupil matanya membesar menatap wajah Gilang.


"Ha.. Ha.. A..apa aku sedang bermimpi?" ucap wanita paruh baya itu menutup mulutnya tidak percaya.


"Eh ibu? Ibu kenapa?" beberapa pelayan nampak menatap bagaimana ibu pelayan itu terkejut dan syok berat.


"Eee... Ada apa ini?" tanya Gilang bingung menggaruk tengkuknya yang tiba tiba terasa gatal.


"Aku harus memberi tahukan kabar gembira ini pada tuan Rama." ucap wanita paruh baya itu berusaha mengambil ponselnya dengan tangannya yang bergetar hebat.


"Beri tahu apa mbok?" tanya Gilang dan sontak saja air mata wanita paruh baya itupun meleleh mendengar sapaan familiar yang biasanya hanya di ucapkan oleh anak paling nakal di rumah itu yaitu Nathan.


"Tuan muda Nathan!" isak wanita paruh baya itu memeluk tubuh Gilang dan mengusap pipi Gilang kemudian.


'Mati aku! Apa aku sangat mirip dengan ayah?' ucap hati Gilang dimana dirinya belum siap bila harus mengakui identitasnya pada Raisa.


"Waah mbok, mungkin salah orang aku bukan orang yang Mbok maksud, namaku Gilang aku calon suaminya Raisa." ucap Gilang pasti dan tersenyum lembut.


"Apa? Jadi benar anda tuan Gilang? Anda masih hidup?" ucap wanita paruh baya itu dan memeluk lagi Gilang penuh kebahagiaan.


"Eh maksud mbok apa? Aku tidak mengerti?" gilang berpura pura watados dan menatap kikuk orang orang yang kini menatapnya penuh tanda tanya.


Bersambung...