
Mobil mewah itu Bima parkirkan di area parkir sekolah Sherly.
“Bagaimana jika aku tidak lulus...?”
“Kau pasti lulus.. cepatlah pergi dan beritahu padaku hasilnya..” Bima mengusap lembut wajah Sherly.
Sherly mengangguk, “Emh..”
Ditengah kerumunan itu ia memberanikan diri untuk menerobos, perlahan ia mencari namanya mulai dari angka terbawah, namun Sherly tidak mendapati namanya.
Ia menggerakan bola matanya untuk menyusuri nomor urut itu mulai dari bawah hingga pandangannya berhenti pada sebuah angka.
Entah mengapa ia menjadi kecewa saat meliatnya, hei.. bukankah memang seharusnya seperti itu jadi ia bisa menjaga kesuciannya?
Tidak.. bukan itu yang diharapkannya, ia hanya kecewa karena usaha Bima selama ini untuk membantu dirinya belajar jadi sia-sia.
Ia pun kembali ke mobil dengan lesu, “Kenapa..?” Tanya Bima yang sedari tadi memperhatikannya.
Sherly mengangkat 5 jari nya, “Posisi 5..” Jawabnya dengan lesu.
“Hm....! Bukankah itu lumayan? Itu adalah hal mengejutkan untu gadis dengan IQ 0,1% yang mendadak bisa menjadi lulusan 5 terbaik disekolahnya..”
Sherly masih terdiam, ia memalingkan wajahnya dan memandangi gedung-gedung pencakar langit itu.
Bima menghela nafas kemudian membelai kepala Sherly, “Mau makan..? Aku yang traktir..”
Sherly mengangguk, “Barbeque..”
“Ok..!”
***
Usai menikmati barbeque mereka berduapun kembali ke vila. Lelah dengan kegiatan hari ini Bima masuk kedalam kamarnya. Tanpa sepengetahuan dirinya Sherly mengikutinya hingga ke dalam kamar.
“Kenapa kau mengikutiku? Kembali ke kamarmu..”
Sherly menggeleng, ia menatap sendu ke arah Bima.
“Kenapa..? Apakah kau sakit?” Imbuh Bima mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia hendak menelfon dokter keluarga namun tiba-tiba saja Sherly berlalri memeluknya.
“Maafkan aku.. paman.... Aku mengecewakanmu..”
Bima melepaskan pelukan itu, “Kau tidak membuatku kecewa, istirahatlah.. atau... kau ingin tidur di kamar ini? Jika ia, aku akan tidur dikamarmu..” Bima melenggang pergi keluar dan menutup pintu kamr itu.
Tumben sekali ia tak bergairah saat berada di situasi seperti, biasanya jika ia sedang berhadapan dengan Viona malahan Bima tak mampu menahan hasratnya, ia akan langsung menidurinya tak perduli apakah pemilik tubuh itu mau ditiduri dengan sukarela ataupun tidak.
Bima masuk kedalam kamar Sherly, ia merebahkan tubuhnya diatas spring bad itu sembari menatap langit-langit kamar.
***
Sore menjelang, Sherly mendapat email beasiswa untuk kuliah, betapa senang hatinya akhirnya ia bisa kuliah di Universitas New York dengan full besiswa. Ia berlari mencari Bima, “Paman.. paman..” teriaknya dengan senang.
“Kenapa berteriak seheboh itu..?”
“Aaaaaa....” Sherly semakin bahagia terdengar dari lengkingan suaranya sembari memeluk Bima.
“Kau ingin membuatku tuli?!”
“Maaf, paman.. aku senang sekali.”
“Kenapa?” Bima melepaskan pelukan itu.
“Lihat...” Sherly menunjukan email itu entah kenapa Bima hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, “Paman.. kenapa? Kau tidak suka ya..”
Bima menggeleng, “Tentu saja aku suka.. pergilah jika kau menginginkannya.” Senyumnya bisa begitu manis, jantungnya berdebar kencang.
“Oh.. ya baiklah..”
Makan malampun tiba, mereka berdua hanya makan omelet. Usai makan Bima segera masuk ke dalam kamarnya sembari mengingat kenangannya bersama Sherly dikamar ini.
Senyum itu lagi-lagi terukir di bibirnya, wajahnya begitu tampan.
Toktok...
Sherly mengetuk pintu kamar Bima, “Masuk...”
“Paman.. aku membuatkanmu teh..”
Bima merebahkan tubuhnya dispring bad dan memalingkan wajahnya dari Sherly.
“Paman....!”
“Hm..” Bima masih tak memandangnya.
“Ayo kita menikah..!”
Sontak kalimat itu membuat Bima terkejut, ia duduk dan menatap tajam kearahnya, “Kau gila.. Usia kita terpaut jauh, masa depanmu masih panjang..”
Sherly menggeleng, “Maaf.. aku tadi pagi berbohong padamu..”
“Apa..? Apa maksud perktaanmu?”
Sherly mendekat dan berbaring di sebelah Bima, “Aku sebenarnya ada diperingkat satu, ini..” ia memberikan hasil ujian itu.
“Aku tahu itu...”
Perlahan Sherly membuka kancing piyamanya satu persatu, mendadak Bima menghentikannya, “Kenapa..?” imbuh Sherly.
“Jangan bodoh... kau hanya ingin menepati taruhan kita, bukan karena ingin menikah denganku.”
Sherly terkekeh, “Benar, tapi.. entah sejak kapan aku menyukai paman..”
Deg!
Kata-kata itu membuat Bima terbelalak, “Jangan membodohiku, pergilah ini sudah larut malam.”
“Aku ingin tidur denganmu..” Imbuhnya dengan tegas kemudian mencium bibir Bima.
Setelah sekian lama tak mendapatkan sensasi itu gairahnya kembali bangkit seperti binatang buas yang kelaparan, “Aku tidak akan melepaskanmu.” Imbuh Bima yang kemudian membalas ciuman itu.
Tangannya mulai membuka kancing piyama itu, di tatapnya gundukan besar dihadapannya, perlahan ia mencium, menjilati, dan memberinya jejak kepemilikan.
“Emh...” Lenguhan itu membuat Bima semakin bergairah, setelah menelanjanginya kini giliran Bima melepaskan seluruh pakaiannya.
Sherly menutup mata dengan kedua tangannya, dan membuat Bima tersenyum, “Aku sudah melihatnya, tidak perlu malu. Lihat aku..” Sherly mengangguk dan menurunkan tangannya.
Telunjuknya meraba dada bidang itu, “Paman.. tubuhmu sangat indah..”
Bima mengerutkan keningnya, “Jika kau sungguh-sungguh ingin menikah denganku maka berhentilah memanggilku paman.”
“Lalu..?” Sherly membelalak ia memekik dengan nyaring, suara pekikan itu terdengar begitu memilukan. Ia juga spontan mencakar dada bidang itu dan meninggalakn goresan merah disana saat ia merasakan kejantanan Bima memaksa masuk ia mengerang kesakitan, “Ma.. maaf..”
“Tidak apa-apa.. Katakan apakah rasanya begitu sakit?”
Sherly mengangguk, “Ya.. sakit sekali.” Air matanya menetes.
“Kau menyesal?” Bima menyeka air matanya.
Sherly menggeleng, “Tidak.. karena aku mencintaimu.. sayang..”
Bima semakin garang menghentakan kejantanannya dan berhasil masuk sepenuhnya, “Aw...!” Sherly semakin kuat meremas seprai itu. Bima menarik setengah kejantanannya dan memperhatikan sesuatu yang merah keluar dari kewanitaan Sherly.
“Mulai malam ini kau adalah istriku dan aku adalah suamimu, mengerti..?” Bima kembali menghentak menyeruak masuk terdegar suara erangan Bima yang menandakan ia begitu puas menikmati kesucian Sherly.
“Ah..!” Lagi-lagi Sherly mengernyit kesakitan, “Ssssh.. sa.. sakit sekali suamiku..”
Bima tersenyum senang, “Bertahanlah.. rasa sakit ini tidak akan lama, aku janji..”
Sherly mengangguk.
***
Cuitan burung gereja terdengar merdu perlahan Bima membuka matanya ditatapnya wajah Sherly yang tertidur pulas. Ia melihat sekujur tubuh wanitanya itu dipenuhi jejak kepemilikan.
Bima beranjak ke kamar mandi memandangi goresan merah di dadanya, ia hanya tersenyum sesekali memegangi dadanya. Usai mandi Bima mencium leher Sherly, “Emh...” Suaranya terdengar parau.
“Mau tidur sampai kapan? Aku lapar...” Bima semakin intens menciumnya.
“Ingin makan apa? Aku kan memasak untukmu..”
“Buatkan sesuatu yang enak..”
Sherly mengangguk, “Tunggu sebentar, aku mandi dulu..” Sherly duduk termenung memandangi pria yang ada dihadapannya, mengingat kembali kejadian semalam sungguh membuatnya malu. Kedua pipinya menyembulkan rona merah dengan cepat ia menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya dengan sempurna. Melihatnya bertingkah seperti sungguh membuat Bima tak kuasa menahan tawa dan tak bisa menahan nafsunya.