
New York, 10 Februari 2020...
Grace sedang asyik bercinta dengan seorang pria asing entah sudah yang keberapa
kalinya pada hari itu.
“Ah...!
He- hentikan sayang, aku... aku sudah tidak sanggup lagi!” Grace mengeluh
dengan rintihan yang hampir tak bisa terdengar jelas.
Sementara itu pria asing tersebut masih fokus menyiksa kewanitaannya.
Kring...
Kring....
Telfon di apartemen itu berdering untuk yang ketiga kalinya namun mereka berdua sama
sekali tak menggubrisnya.
“Katakan, teknikku dan tekniknya siapa yang lebih memuaskanmu?” Pria itu semakin gencar
menyiksanya.
“Ah...
Emh... Te- tentu saja teknikmu sayang..”
“Benarkah?
Jika memang begitu kenapa kau memintaku untuk berhenti menyiksamu sayang?”
“Ah...Ah.. Emh.. Su- sudah... Aku sangat lelah, kita sudah melakukannya dari pagi
bukan?! Bukankah masih ada waktu untuk yang berikutnya?”
“Hm...
Baiklah, kau tidak seru.” Pria itu mengeluarkan cairan kental miliknya tepat di
atas perut Grace.
Nafas mereka tersengal-sengal, setelah nafas mereka kembali normal pria itu
menyalakan rokoknya.
Grace mengambil rokok itu dan menggeleng, “Jangan merokok disini. Jika tunanganku
tahu aku bermain dengan pria lain, dia pasti melenyapkanku.”
“Kau takut?”
Grace menggeleng.
***
Bandara New York pukul 19.00 Zean mengirim chat pada Grace, “Sebentar lagi aku sampai.”
Tring...
Grace membuka chat itu, ia terkejut karena tidak biasanya Zean datang tanpa
mengabarinya terlebih dahulu.
“Ada apa? Siapa yang mengirim chat padamu?”
“Dia dalam perjalanan kemari, cepat kau pergi nanti ku kabari kapan kita bisa
bertemu.”
Beberapa menit kemudian Zean sampai di apartemen elit itu, Zean menyiapkan buket bunga
untuknya dan juga cincin permata.
Pintu itu terbuka lebar Zean menangkap basah Grace yang sedang berciuman dengan pria
asing.
“Grace!”
Grace terkejut, ia baru saja menerima chat itu tapi mengapa sekarang Zean sudah ada
di hadapannya.
“Tidak perlu lagi menyembunyikannya, sayang.” Pria itu memeluk Grace dari belakang.
Zean menggeleng dan memegang keningnya, “Katakan, sudah berapa kali kau
melakukannya? Aku menerima semua kekuranganmu dan kebohonganmu. Tapi sepertinya
kau tidak mengindahkan peringatanku!”
Zean menatapnya dengan tajam seolah ia sedang memancarkan aura pembunuh. Grace
terbelalak, ia menunduk dalam menggigit bibir bawahnya.
“Jangan sampai aku menangkap basah perilaku busukmu itu!” Imbuh Zean dan melempar buket
bunga serta cincin permata itu tepat di hadapan Grace.
***
Dalam waktu singkat Zean menarik semua investasinya dari perusahaan MG Group dan
membuat perusahaan itu bangkrut dalam hitungan detik.
Penghianatanmu akan kulupakan bersamaan dengan kerjasama perusahaanku dan perusahaan ayahmu. Zean begitu kesal mengingat apa yang kemarin sore ia lihat. Menangkap basah
kekasihnya sendiri yang sedang bercinta dengan pria lain.
***
“Tuan, kita mau kemana?” Tanya sopir itu untuk yang kesekian kalinya.
“Bandara.”
Zean menghela nafas dengan kesal.
Sopir itu tiba-tiba menghentikan laju mobilnya, “Tuan.. sepertinya wanita itu
membutuhkan pertolongan.”
“Tidak perlu, dia tidak ada hubungannya dengan kita.” Imbuh Zean dengan acuh tak acuh.
“Tapi tuan sepertinya wanita itu sedang di ganggu beberapa pria.”
“Hm...
Mengganggu saja.” Zean turun dari mobil, “Tunggu disini.”
Sopir itu mengangguk, “Baik, tuan.”
Beberapa pria hidung belang sibuk menggoda wanita muda itu, “Hehehe.... Kenapa
malu-malu, layani kami maka semua hutangmu lunas.”
“Jangan sentuh aku, aku bukan wanita murahan.” Wanita itu melawan sekuat tenaga dan
berhasil kabur.
Adegan kejar-kejaran di antara mereka pun tak terhindarkan.
Wanita itu melihat Zean mendekat kearahnya, “Tuan tolong aku..” Lirihnya sembari
memeluk Zean dengan erat. Tubuhnya gemetar.
Zean menatap mereka dengan tajam, “Pergi, jangan ganggu wanitaku!”
“Hah!
Dor!!
Suara
tembakan itu begitu nyaring, semua mata tertuju kepada sasaran peluru tersebut.
Glek!
Wanita itu menelan ludah, pria ini berbahaya.
Tapi setidaknya aku bisa selamat dari mereka.
“Pergi, atau...” Zean menarik pelatuk pistol itu.
“Kau...
Siapa kau sebenarnya..!” satu dari preman itu bertanya ketakutan.
“Emperor Group..!” Zean kemabli melepas satu tembakan ke bawah.
“Em– emperor...! Haaaaah (mereka berteriak ketakutan) ma-maafkan kami tuan muda
Zean, maafkan kami yang tidak mengenalimu sejak awal.”
Zean menatap mereka dengan tatapan membunuh.
***
Lepas dari situasi mencekam itu Zean membawa wanita tersebut kedalam mobil dan
meminta sopir untuk kembali ke hotel Panorama.
Hotel elit bintang lima, hotel yang hanya menerima orang-orang kaya di seluruh
penjuru dunia dan tidak akan mengizinkan siapapun masuk jika tidak memili kartu
keanggotaan.
Seorang penjaga keamanan meminta Zean menunjukan kartu keanggotaannya.
“Untuk apa aku menunjukkannya di hotel milikku sendiri.” Zean menatapnya dengan
tatapan yang tidak bersahabat.
“Maaf tuan, itu sudah aturan dari hotel ini.”
“Aku pemilik hotel ini, menyingkir dari hadapanku!” Zean setengah berteriak membuat
seluruh mata yang ada di hotel itu memperhatikan mereka.
Beberapa orang berlarian mendekat, “Tuan muda maafkan kami, dia orang baru masih belum
mengerti.”
“Tidak apa-apa, kalian cepat pergi.” Pinta wanita itu menyela obrolan mereka.
“Baik nona...”
Di dalam lift mereka berdua diam membisu, pintu lift itupun terbuka dan
satu-satunya pintu ruangan yang ada di hadapan mereka hanya kamar pribadi milik
Zean, “Masuk..”
Wanita itu mengangguk, “Kenapa kita ke kamar?”
“Aku sudah menyelamatkanmu, tidakkah kau berfikir untuk membalas budi?”
Zean membuka pakaiannya. Kini ia telanjang dada.
Wanita itu segera memejamkan matanya, “Kenapa membuka bajumu di hadapanku?”
Zean mendekat dan memegang dagunya, “Menurutmu?”
Wanita itu menepis tangannya, “Aku bukan wanita seperti itu.”
“Wanita, jangan tidak tahu diri.” Sreet.... Zean merobek pakaiannya.
“Hah!”
Wanita itu terkejut, wajahnya merah padam ia menutupi dadanya yang dengan kedua
tangan, “Ma-mau apa kau... Pergi... Sudah kukatakan aku bukan wanita yang
seperti itu.”
“Hm...?”
Zean tersenyum. Kemudian mengambil jasnya dan menutupi tubuh wanita itu,
“Namamu?”
“Selly...”
Jawabnya setengah gugup.
“Siapa orang-orang itu, kenapa mereka mengejarmu?” Zean duduk di atas sofa dan
menepuk-nepuk tempat kosong di dekatnya. Memberinya isyarat untuk ikut duduk
dengannya.
Selly mendekat perlahan dan duduk disampingnya, “Perusahaan ayah tiriku bangkrut dan aku di usir dari rumah karena menolak perjodohan. Dan ayah menghentikan biaya pengobatan adikku. Aku punya
kakak tiri dia jauh lebih cantik dan sexy dariku. Ayah bilang kakak memiliki
masa depan yang cerah dibandingkan diriku. Jadi ayah memilihku untuk menikahi
pria tua dan mesum. ”
Selly mendongakan kepalanya ke atas agar air matanya tertahan, “Dunia ini begitu
kejam. Untuk melanjutkan pengobatan adikku, aku terpaksa kerja di sebuah bar.
Manager bilang aku hanya perlu melayani beberapa orang dan dia akan memberiku
bonus yang lebih besar.”
“Lalu....”
Zean menuang air putih di gelas kemudian meminumnya.
“Hingga pada akhirnya aku bertemu mereka, dan mereka hampir memperkosaku. Aku sangat
takut, hingga akhirnya kita bertemu dan kau menyelamatkanku. Terimakasih tuan
muda.” Selly melempar senyum padanya.
Zean merasa gugup dan segera memalingkan wajahnya, “Tidak perlu berterimakasih.”
Kemudian ia berdiri dan menindih tubuh Selly.
“Ma-mau apa?” Selly gemetar ketakutan.
Zean memegang dagunya, “Aku tidak akan memaksamu sekarang, tapi suatu hari nanti
atas dasar keinginanmu sendiri aku ingin kau memberi kesucianmu itu hanya
untukku.” Zean membalikan tubuhnya dan beranjak pergi, “Aku hanya menerima
ucapan terimakasih dengan sebuah tindakan, bukan ucapan semata. Sudah larut
malam tidurlah.” Zean menutup pintu kamar itu dan bergegas pergi.