
Pagi menjelang Selly masih terlelap tidur.
Seorang pelayan membangunkannya, “Nyonya... Nonya...” Lirihnya dengan lembut.
Perlahan Selly membuka matanya, “Hm.... Siapa?” Penglihatannya remang-remang.
“Saya Aya pelayan di hotel ini. Tuan sudah menunggu nyonya di ruang makan.”
“Kenapa memanggilku nonya?” Selly mendudukan tubuhnya yang masih enggan meninggalkan
spring bad itu.
“Nyonya datang bersama tuan, mana berani kami memanggil anda dengan sembarangan. Ini..”
Aya memberinya dress berwarna tosca dan juga high heels putih untuknya.
“Baiklah, terimakasih kau boleh pergi.”
***
Selly menyalakan shower itu dan membiarkan air hangat menyentuh kulitnya, segar sekali.
Selly mengeringkan rambutnya dengan hairdrayer kemudian memakai dress yang dibawakan
Aya barusan, “Wah.. Dress nya bagus sekali.” Ia melihat label dress itu dan
terkejut, “Hah?! Bu-bukankah ini koleksi terbaru desainer Floya.”
Zean sudah menunggunya di ruang makan pribadi dengan berbagai menu hidangan di atas
meja, “Reo ini sudah 20 menit berlalu.” Zean beranjak pergi.
Tak lama kemudian Selly tiba di ruang makan itu, suasananya begitu sepi, “Dimana
tuan muda?”
Chef Reo menggeleng, “Tuan mudah sudah pergi, ia tidak suka jika harus menunggu
lebih dari 10 menit. Tuan juga berpesan agar nona memakan makanan ini.”
Apa? Aku hanya terlambat 20 menit.
Selly menghela nafas, “Baiklah, dimana aku bisa menemuinya?”
Chef Reo tidak menjawab sembari ia menyuguhkan beberapa hidangan itu untuknya.
Selly merasa bersalah karena membuatnya pergi tanpa menyantap makanan ini.
***
Selly berjalan menyusuri seluruh hotel itu ia berdecak kagum melihatnya, apakah dia sekaya ini?
“sedang apa kau disini?” Zean mengejutkannya.
“Eh...? Emh i-itu... ma-maaf aku tadi terlambat.” Selly menunduk ia takut jika Zean
akan memarahinya.
“Lupakan saja, itu bukan masalah.” Zean mengarahkan pandangan Selly padanya.
“Tapi tuan kau belum makan apapun.”
“Lalu?”
Selly menelan ludah, “Aku...”
“Hm...?”
Zean mengerutkan keningnya dan sedikit memiringkan kepalanya, “Apa?”
“Jika kau meminta sesuatu, kau harus memintanya dengan benar.” Zean mengarahkan
pandangan Selly padanya untuk yang kedua kalinya.
“Seperti...?”
“Seperti ini...” Zean mencium bibirnya.
Wajah Selly merona merah, “Sekali kau memohon untuk ikut denganku, sampai matipun kau
tak akan bisa lepas dari genggamanku. Apa kau faham?!” Imbuh Zean dengan
tersenyum.
Selly mengangguk lalu memeluknya dengan erat.
“Masalah adikmu kau tidak perlu khawatir, Zing Er akan membantu merawatnya, dia dokter
hebat di sini.”
“Baik...”
Selly membenamkan wajahnya dipelukan Zean.
***
Rendra tidur di pangkuan Kanaya sesekali ia mencium perut istrinya yang semakin
membesar, “Jagoan daddy cepat lahir.”
“Seorang putri...” Imbuh Kanaya sembari mencubit pipi Rendra.
Rendra terbangun dan duduk memeluk Kanaya, “Mereka laki-laki dan perempuan.”
Kanaya menggeleng, “Mereka berdua seorang putri.” Kanaya menggembungkan pipinya dengan
imut. Membuat Rendra semakin bergairah untuk menikmatinya, “Hm...!” Dengan sigap Rendra
menggendong istrinya ke kamar dan tak melepaskannya meskipun hanya sedetik.
Perlahan ia merebahkan Kanaya di atas ranjang, “Apa yang kau lakukan... Lepaskan aku..” Berontak
Kanaya sembari melempar bantal ke wajah Rendra.
“Menurutmu?”
Rendra tersenyum licik.
Kanaya menggeleng...
Rendra menariknya dan menindih Kanaya tepat dibawahnya tanpa membuatnya merasa hawatir
akan menyakiti janin yang sedang dikandungnya.
Rendra membelai rambut Kanaya dan mencium keningnya, “Kenapa sekarang kau lebih sering
menolakku? Hm...”
Kanaya memalingkan wajahnya, “Kau tidak lihat... Sekarang aku sedang berbadan dua..”
Rendra mengelus perut Kanaya, “Lalu?” Rendra mengubah pandangan Kanaya ke arahnya,
“Bukankah itu jauh lebih nikmat melakukannya dengan kondisi seperti ini..?!”
Kanaya mengerutkan keningnya, “Dasar mesum!”