
Cuaca di london begitu dingin, Bima memakai pakaian musim dinginnya yang bewarna biru
dengan corak hitam, ia melebarkan pandangannya ke seluruh ruang tunggu bandara.
Dari jauh ia melihat seorang gadis memakai seragam sekolah menengah atas berlari
kencang, “Minggir......!” Ia mengisyaratkan tangannya meminta Bima menyingkir..
Bima mengangkat satu alisnya, “Hm..! Bocah..!”
“Minggir.. aku bilang minggir... aku tidak bisa mengerem kecepatan lariku.. Hey.. aku
bilang ming-“
Brak....!
Gadis itu menabrak Bima, posisi mereka membuat orang disekitarnya terbelalak.
Gadis itu duduk diatas perut Bima entah bagaimana bisa hal itu terjadi,.
“Berat...”
Rintih Bima.
“Paman.. Maaf...” Gadis itu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya ingin membantu
Bima, namun Bima menepis tangannya dengan kasar.
“Paman...?
Aku bukan pamanmu..” Imbuh Bima dengan ketus dan merapikan pakaiannya.
“Kau bilang bukan paman, tapi wajahmu tidak bisa bohong... Usiamu sudah tidak muda
lagi jadi wajar saja jika anak-anak sepertiku memanggilmu paman.”
Bima menatapnya dengan tajam, kemudian meremas rahangnya dengan kuat, “Sekali lagi kau bicara seperti itu.. akan kupatahkan lehermu..!”
Dengan kuat gadis itu menendang kejantanannya dan berhasil meloloskan diri dari singa
yang baru terbangun..
Mendapat tendangan sekuat itu tentu saja Bima tak kuasa menahan sakitnya, ia meringis
meremas kuat gagang koper yang sedari tadi ada disampingnya, berengsek...! Aku pasti akan menemukanmu!
***
Vila Anggrek....
“Kau terlambat..!” Bentak seorang wanita tua itu kepada Sherly. Gadis yang menabrak
Bima di bandara.
“Maaf... Tolong maafkan saya nyonya..” Berkali-kali Sherly membungkukan badan.
“Belum juga bekerja sudah membuat masalah, bagaimana jika tuan muda tidak menyukai
kinerjamu.. pasti aku juga yang akan dapat masalah..” Wanita tua itu mengernyit.
“Nyonya tolong jangan pecat saya, saya membutuhkan biaya untuk sekolah saya. Mohon
berani menatap wajah wanita tua tersebut.
“Ya sudah, cepat bereskan kamar tuan muda.. sebentar lagi dia akan datang..”
Imbuhnya dengan membentak.
“Baik...!”
Sherly melakukan tugasnya dengan baik, seluruh kamar itu ia bersihkan, “Lelahnya...”
Segera ia merebahkan tubuhnya diatas sofa merah itu dan menghela nafas panjang.
Tanpa sadar kedua matanya terpejam dan tertidur lelap. 15 menit kemudian wanita tua
itu masuk ke dalam kamar tuan muda didapatinya Sherly tengah tertidur pulas.
Tak bisa menahan emosi iapun mengambil air dan menyiramkannya di wajah Sherly
dan alhasil membuatnya kelabakan terkejut.
Tak berhenti disitu, wanita tua itu kembali meluapkan emosinya dengan menjambak
rambut Sherly, “Ampun nyonya... Tolong lepaskan... sakit..”
“Ampun..?
Sekarang baru mengerti ampun? Sejak tadi aku menahan emosiku, entah apa yang
dilakukan kepala pelayan itu sehingga dia menerimamu bekerja ditempat ini.”
Wanita itu mndorong kuat Sherly, tubuhnya seperti membentur sesuatu yang kekar.
Sherly merasa ada kedua tangan hangat yang menahan tubuhnya, “Ah...!”
“Tu-tuan Bima...” Wanita tua itu bergetar hebat, suaranya terbata-bata setelah mendapat
tatapan mematikan itu darinya.
Sherly mengedarkan pandangannya dan didapatinya Bima yang ia panggil sebagai paman
saat di bandara itu.
Ia terbelalak dan mengambil jarak untuk menjauh dari Bima.
“Keluar... Kecuali kau..!” Telunjuk Bima mengarah pada Sherly, mendapat tatapan seperti itu
Sherly hanya mampu menundukan kepalanya. “Urusan kita belum selesai.” Imbuhnya
dengan suara tegas.
Glek..!
Sherly hanya bisa menelan ludah.
“Kau tidak dengar?” Bima kembali menatap tajam pada wanita tua itu.
“Ba-baik tuan muda..” Pintu kamar itupun tertutup rapat. Hah...! Mampus kau, kali ini tuan muda sendiri yang akan memecatmu. Wanita tua itu tersenyum licik.