
Dua jam setelahnya Seihan keluar dari ruangan oprasi, wajahnya tersenyum dan ia mengangguk sembari menepuk pundak Rendra, “Kita berhasil...” Seihan sedikit memiringkan kepalanya, “Kau tidak ingin menyambut mereka bertiga..?”
“Be-bertiga...? Maksudmu bayinya kembar..” Miranda terlihat begitu semangat.
Seihan mengangguk, “Ya, bayinya kembar.. satu laki-laki dan satunya lagi perempuan..”
Rendra memgang dadanya ia masih belum percaya sepenuhnya, setengah sadar dan setengah tidak sadar.
Beberapa suster membawa bad itu keluar, Kanaya masih belum sadarkan diri. Ditatapnya wajah Kanaya kemudian pandangannya turun di kedua tangannya.
Satu tangan kiri terpasang infus dan tangan kanannya terpasang selang donor darah.
Rendra mengelus lembut rambut Kanaya dan mengecup mesra keningnya, “Aku sangat mencintaimu..”
“Ehem....!!” Seihan berdehem nyaring, bisa-bisanya dia mengatakan hal seromantis itu dihadapan seorang jomblo.
Rendra tak memperdulikan pandangan disekitarnya.
***
Kanaya dipindahkan ke ruang rawat VVIP, hingga saat ini ia belum sadarkan diri.
Mereka silih berganti menggendong bayi kembar itu.
“Lihat.. wajahnya sangat cantik..” Puji Miranda mencium kening bayi perempuan itu..
“Hm...” Jordy mengangguk, “Yang ini juga tidak kalah tampannya. Sepertinya sebentar lagi ada perhatian yang teralihkan.”
Rendra tersenyum puas melihat wajah bayi kembarnya, “Aku tahu.. aku tidak akan cemburu kepada anak-anakku sendiri.”
Perlahan Kanaya mulai sadar, matanya terasa berat. Dan apa yang dilihatnya serasa sedang berputar, “Emh..... Aku.. Aku dimana..?”
“Kau ada di rumah sakit sayang.. Lihatlah sekarang kau sudah menjadi ibu..” Rendra mencium keningnya untuk yang kesekian kali.
“Benarkah..?” Air mata bahagia itu menetes, Rendra menyeka air matanya.
“Jangan menangis..” Miranda menghampiri Kanaya dan memberikan putrinya di susul dengan putra sulungnya, “Lihat... Mereka lucu sekali..”
Kanaya mengangguk, “Mereka mirip denganmu..”
“Tentu saja.. akukan daddy nya..” Gelak tawa riuh diruangan itu terdengar.
Sahabat-sahabat Rendra silih berganti berdatangan, tak lama kemudian Hera datang membawa perlengkapan bayi.
“Ibu....”
Hera tersenyum membelai rambut Kanaya, “Sayang... selamat ya sudah jadi ibu sekarang, ingat tanggung jawabmu semakin bertambah.”
“Terimaksih bu...”
Hera mengangguk kemudian silih berganti menggendong cucu pertamanya.
***
“Yo.. Lihat siapa yang datang?” Seihan mengalihkan pandangannya
pada Selly.
“Jangan mengganggunya...”
Zean merapatkan jarak mereka.
“Hm... Pacar baru?” Imbuh Jordy.
Dengan tegas Zean menjawab, “Bukan...”
Jawaban itu membuat Selly tersenyum kecut entah sejak kapan dihati kecilnya ia mulai menyimpan rasa cinta itu untuknya.
“Tapi calon istriku..”
Imbuh Zean dengan semangat.. Seketika Selly berdecak senang ia malu-malu menatap Zean dan melemparkan senyuman indah itu padanya.
Zean merapikan rambut Selly yang padahal rambutnya telah tertata rapi sedari tadi.
“So sweet...” Jordy bertepuk tangan... “Berhentilah bermain-main dengan wanita, atau kau akan mendapatkan hukumanmu..”
“Ya aku tahu itu...”
Selly meletakan kado itu diatas meja dan menggendong bayi perempuan Kanaya, “Bayi perempuan... Cantik sekali..”
Tanpa sadar Zean menyambar kalimatnya, “Bayi laki-laki itu juga tidak kalah tampan..”
“Eh....?” Selly menatapnya bingung...
“Wah.. wah... coba lihat, belum menikah saja tapi kau sudah mempermasalahkan jenis
kelamin anak kalian.” Imbuh Rendra sembari menatap Selly yang wajahnya semakin
memerah.
Kanaya tersenyum melihat keakraban mereka, “Kalian ini.. yang melahirkan itu kami kaum wanita, kami juga yang merasakan sakitnya tapi kalian kaum lelaki hanya sibuk
memikirkan apa jenis kelaminnya.. Kejam sekali..!”
Rendra tersentak, “Bu.. Bukan begitu maksudku sayang..”
Kanaya menyipitkan matanya dan menatapnya dengan tajam.. begitu lama ia menatap, mendapatkan tatapan seperti itu membuat bulu kuduk Rendra merinding, “Sa..
Sayang..” Lirihnya.
Kanaya tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi Rendra seperti itu iapun tertawa
terbahak-bahak di iringi tawa lainnya dari mereka.