MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XXI - REUNI



Malam itu Kanaya memakai dress biru yang berpadukan dengan warna putih, rambutnya ia


curly, dengan riasan makeup yang natural membuatnya semakin cantik.


Rendra memakai kemeja putih jas biru dipadukan celana kain biru membuat ketampanannya


semakin terlihat.


“Jadi ini kampusmu?”


Kanaya mengangguk, “Ya, tidak sebesar dan seluas kampusmu di Brazil.”


“Lalu apakah semua itu ada hubungannya?” Rendra menautkan tangan Kanaya di tangannya,


“Lihat apa, cepat jalan.” Imbuhnya.


MC memulai acara reunian itu kemudian di lanjutkan dengan games, mereka yang hadir


di reunian terlihat sangat menikmati.


***


“Naya...”


Seorang pria tampan menyapa Kanaya dan membuat Rendra cemburu.


“Revan, lama tidak bertemu.” Mereka berdua saling berjabat tangan.


Melihat pemandangan itu Rendra berdehem dan menepis jabatan tangan itu, “Jangan


menyentuh istriku.”


“Oh, jadi kau sudah menikah? Selamat ya tapi kenapa tidak mengundangku?” Revan


mengacuhkan Rendra dan terus mencecar Kanaya dengan berbagai pertanyaan.


“Emh maaf, kami hanya mengundang keluarga terdekat saja.” Kanaya begitu gugup saat


menerima tatapan Rendra, “Baiklah, kami pulang dulu senang bisa bertemu kalian


semua.”


Dalam perjalanan pulang Rendra hanya diam tak bicara sepatah katapun, “Kau marah?”


Rendra masih tak menggubrisnya.


“Kau cemburu?”


Rendra menghentikan laju mobilnya, “Turun..!”


Kanaya terkejut, “Apa? Kenapa aku harus turun?”


Rendra menatap tajam kearahnya, “Tu-run!”


Dengan kesal Kanaya turun dari mobil, tanpa belas kasihan Rendra meninggalkannya


sendirian di tengah jalan.


Kanaya menghela nafas, “Masih jauh dari rumah.” Kanaya melihat jam di tangannya,


“Sudah larut malam, apakah masih ada taxi di jam segini?”


***


Pagi hari Rendra buru-buru berangkat ke kantor tanpa menyentuh sedikitpun sarapan di


atas meja.


Kanaya hanya diam melihatnya, “Kepalaku pusing.” Lirihnya.


Di pandanginya punggung Rendra yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.


“Kakak ipar.” Krystal membuyarkan lamunannya.


“Hm?” Kanaya menoleh ke arah Krystal dan tersenyum, “Ada apa?”


“Kakak ipar lihat ini.” Krystal menunjukannya selembar foto bayi perempuan yang lucu


dengan pipi gembulnya.


“Bayi?”


Tanya Kanaya dengan heran.


Krystal mengangguk, “Lihat, ini keponakanku dan kakak Rendra.” Imbuh Krystal dengan


bahagia.


Kanaya ikut merasakan kebahagiaannya, Mungkinkah


kami juga akan memiliki anak?


Tiba-tiba Kanaya terbelalak dan memegangi perut bawahnya sembari meringis.


“Kakak ipar kenapa?” Tanya Krystal dengan khawatir.


Kanaya menggeleng, “Tidak apa-apa, kakak mau istirahat dulu.”


Krystal mengangguk, “Baiklah, biar ku antar.”


***


Krystal masih merasa khawatir dengan keadaan Kanaya, segera ia menelfon Rendra namun


panggilan telfon itu tidak di angkat.


Rendra mematikan ponselnya, Ah! Susah sekali di telfon


sekarang kakak mematikan ponselnya. Krystal begitu geram di buatnya.


Kenapa kepalaku pusing sekali? Aku juga mual.  Kanaya


terbaring lemah masih memegangi perut bagian bawahnya.


“Kenapa jadi sering buang air kecil sih? Ini sudah yang ke sepuluh kalinya.” Kanaya


perlahan mencoba beridiri dan berjalan ke kamar mandi.


Kanaya merasa kepalanya begitu berat, penglihatannya remang-remang tubuhnya semakin lemas.


“Krystal...”


Panggilnya dengan lirih.


“Kakak ipar..!” Segera Krystal menopang tubuh Kanaya, “Kakak aku akan membawamu


kerumah sakit, wajahmu sangat pucat.”


Kanaya mengangguk lemas.


***


Satu jam setelah di observasi, dokter Vivi keluar dari ruangan, “Keluarga nona


Kanaya..”


Krystal beranjak berdiri dari tempat duduknya, “Ya dokter, saya adiknya. Bagaimana


keadaannya?”


Dokter itu tersenyum, “Tidak apa-apa, nona Kanaya baik-baik saja. Itu biasa terjadi


Krystal terkejut bahagia, “Apa..? Hamil..?” Tanpa sadar Krystal memengang erat tangan


dokter cantik itu, “Itu benarkan, dokter tidak bohong..?”


Vivi nama dokter cantik itu menggeleng, “Tentu saja itu benar, selamat ya. Aku masih harus memeriksa pasien


lainnya. Tolong kau jaga kakakmu baik-baik.”


Krystal mengangguk, tanpa menunggu lama ia pun segera masuk ke dalam ruangan tempat


Kanaya di rawat.


“Kakak ipar...” Ucapnya dengan lirih, “Berani sekali kakak Rendra meninggalkanmu


sendirian seperti ini..!”


Segera Krystal mengirimi Rendra pesan singkat, “Kakak segeralah datang kerumah sakit,


kakak ipar sedang di rawat.”


Rendra masih sibuk dengan rapat pemegang saham hotel delux, ia juga tidak menghidupkan


ponselnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Rendra tak kunjung datang kerumah


sakit. Krystal masih mencoba menelfonnya namun hasilnya tetap nihil.


Ponselnya masih mati.


Perlahan Kanaya membuka matanya dilihatnya pergelangan tangannya terpasang infus, “Aku dimana?” Kanaya mencoba untuk bangun dari tidurnya.


“Kakak ipar pelan-pelan.” Krystal membantunya untuk duduk kemudian memberinya air putih, “Minumlah.”


Kanaya memperhatikan di sekitar kamar ia tak menemukan sosok suaminya disana. Kanaya tertunduk lesu dengan kedua tangannya mengepal erat di balik selimut.


“Aku sudah memberitahukan kakak Rendra, tapi belum ada jawaban.”


Kanaya menggeleng, "Tidak apa-apa, mungkin dia sedang sibuk.”


***


Usai menghadiri rapat pemegang saham Rendra pergi ke club malam bersama


teman-temannya hingga larut malam.


Malam itu Rendra menginap di hotel miliknya,.


Masih memakai pakaian kerjanya yang berantakan Rendra menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat.


“Ponsel..”


Rendra merogoh saku celana dan jasnya namun ia sama sekali tak menemukan


ponselnya, “Dimana ponselku..?”


Ia ingat ponselnya di letakan di dalam laci meja kerjanya, dengan rasa malas


Rendra menuju ruangannya untuk mengambil ponsel.


“Di sini rupanya.” Rendra menghidupkan ponselnya di lihatnya ada panggilan tak


terjawab dan 2 pesan dari Krystal.


Segera Rendra membuka isi chat itu, ekspresinya nampak biasa-biasa saja setelah membaca chat dari Krystal.


Merasa lelah dan ngantuk Rendra berbaring di sofa dan terlelap tidur hingga pagi menjelang.


***


Melihat hasil pemeriksaan dan usg milik Kanaya, Vivi terkejut melihat hasilnya.


“Gawat, kandungannya bermasalah.” Vivi segera mengobservasi Kanaya.


Wajahnya terlihat panik namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.


“Dokter, ada apa? Kenapa begitu panik..?” Tanya Kanaya yang masih terbaring lemah.


Vivi menggeleng,  “Ah tidak, aku tidak panik.” Vivi memberi kode kepada Krystal untuk


segera keluar dari ruangan itu.


Krystal mengerti maksud darinya dan segera pergi meninggalkan mereka berdua, “Kakak


ipar aku beli minuman dulu.”


Kanaya mengangguk, “Ya, baiklah jangan lama-lama.”


Krystal tahu jika Vivi menyimpan sebuah rahasia, ia menutup pintu itu dan mencoba untuk menguping pembicaraan mereka.


“Nona Kanaya, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”


Kanaya mengangguk, “Ya tentu aku sudah lebih baik. Kau merawatku dengan sangat baik.”


Kanaya tersenyum.


Vivi menggigit bibir bawahnya dan menghela nafas dengan cepat, “Nona Kanaya ada


sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.”


“Apa?”


Kanaya sangat penasaran.


Vivi menghela nafas berat, “Gugurkan kandunganu!”


Deg!


Kanaya dan Krystal yang secara bersamaan mendengar kalimat itu sangat terkejut,


keduanya membelalakan mata.


Krystal tak bisa menahan amarahnya ia mencoba masuk kedalam, namun saat ia hendak membuka pintu itu, “Kandunganmu bermasalah.” Imbuh Vivi dengan tegas.


Krystal menghentikan aktifitasnya.


Ia mengepal erat gagang pintu itu air matanya menetes.


“Dokter katakan, berapa lama aku bisa bertahan dengan kondisi ini?” Kanaya mencoba menenangkan dirinya.


“Tidak ada yang tahu, mungkin kau bisa bertahan hingga bayi itu lahir ataupun sebaliknya. Mungkin bisa juga tidak ada yang selamat diantara kalian.”


Kanaya mendongakan kepalanya ke atas mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh, “Benarkah? Bukankah kau mengatakan itu sebuah kemungkinan?!”


Vivi terkejut mendengarnya, “Apakah kau berfikir untuk melanjutkan kehamilanmu?!”


Kanaya menatapnya dengan nanar sendu, “Aku sudah lama menantikan bayi ini. Tidak


bisakah kau memberiku sedikit harapan?” Kanaya menangis histeris.


Krystal sudah tidak tahan lagi setelah mendengar semua itu, segera ia berlari keluar dan pergi mencari taxi untuk menemui Rendra.


Krystal juga menelfon orang di rumah dan mendapatkan jawaban bahwa Rendra tidak pulang semalaman.


“Pak, ke hotel delux sekarang!” Krystal setengah berteriak menahan emosinya.


“Ba-baik non..!”