
Krystal berlari secepat mungkin menggapai lift itu, suhu tubuhnya mendadak menjadi
dingin sedingin es. Jantungnya berdebar-debar.
Pintu lift itupun terbuka tepat di hadapan ruang kerja Rendra. Masih dengan nafas
yang tersengal-sengal Krystal menarik pelan nafasnya dengan dalam kemudian
menghembuskannya secara perlahan.
Ia langkahkan kaki itu menuju ruangan Rendra dengan tenang, krieeet... suara pintu
yang terbuka.
Ruangan itu sangat gelap, Krystal menyalakan lampu diruangan itu, didapatinya Rendra sedang tertidur pulas.
“Kakak..!”
Teriaknya sembari menyiramkan air diwajah Rendra.
Rendra begitu terkejut saat air itu menyentuh kulitnya. Sangat terkejut hingga
akhirnya Rendra beranjak bangun dengan wajah yang basah kuyup. Di lihatnya
Krystal menangis.
“Krystal... Kenapa kau menangis? Katakan siapa yang membuatmu menangis, aku akan memberinya pelajaran!” Geram Rendra memegangi pundak Krystal.
Krystal memalingkan wajahnya dengan nanar yang sangat sendu, air matanya masih
mengalir, “Orang itu sedang berdiri di hadapanku..!”
“Hm?!”
Rendra mengerutkan keningnya keheranan, “Siapa.. Maksudmu kakak?”
Krystal mengangguk, “Aku benci kakak.. Kakak adalah orang yang paling ku kagumi, tapi
sekarang aku membencimu.” Teriak Krystal sembari menepis tangan Rendra dari
pundaknya.
Membenciku? Apa salahku? “Kakak iparmu hanya di rawat di rumah sakit, dia pasti akan baik-baik saja kau jangan terlalu khawatir, dokter pasti-“
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di wajah tampannya, “Krystal kau... Menamparku?”
“Kakak ipar hamil dan dokter bilang kandungannya bermasalah, dia bisa mati atau –“ Krystal menangis sesegukan.
“Atau... apa?” Tanya Rendra, lututnya mendadak lemas.
“Atau kakak ipar dan bayinya,... mereka berdua bisa mati.” Krystal memukul-mukul dada
Rendra, “Kakak bahkan tidak membalas chatku, bahkan menelfonku juga tidak.”
Krystal membalikan badannya dan berjalan keluar, “Orang sepertimu mana pantas menjadi ayah ataupun di panggil sebagai seorang ayah!” Imbuhnya dan menutup pintu itu dengan keras.
Rendra terduduk lemas, ia tertunduk dalam memegangi kepalanya dan meremas rambutnya sekuat mungkin, berharap apa yang di dengarnya barusan hanyalah sebuah mimpi buruk.
Namun, perlahan air matanya menetes. Tangisannya semakin keras membuatnya sesegukan.
“Aaaaaaaah!!!”
Rendra berteriak sekuat mungkin sebelum ia mengahancurkan meja kaca yang ada di
hadapannya dengan menggunakan tangannya sendiri.
Darah itu terlihat sangat segar, kedua tangannya berlumuran darah.
Tak ingin berlama-lama meratapi kesalahannya segera Rendra menyusul istrinya di rumah sakit, maafkan aku sayang gumamnya sembari menyeka air matanya.
***
Rendra membawa mobil dengan kecepatan 200km/jam di bawah hujan deras, jalanan begitu licin bahkan Rendra hampir menabrak pohon besar dan juga pembatas jalan yang
membatasi jalan raya itu dengan jurang kecil.
“Apapun yang terjadi, aku pasti tetap datang. Tunggu aku sebentar lagi.” Rendra
melanjutkan perjalanannya.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya Rendra tiba di rumah sakit.
Bajunya basah mengikuti lekuk tubuhnya yang memperlihatkan otot-ototnya yang sexy itu.
Buru-buru Rendra menapaki anak tangga, lift sedang dalam perbaikan. Rasanya malam itu dia benar-benar sedang tidak beruntung.
Sepanjang menapaki anak tangga, ia hanya mengutuk dirinya sendiri. Air matanya masih
berlinangan.
Di hadapannya ada sebuah pintu bernomor 67
perlahan Rendra membuka pintu itu dilihatnya Kanaya sedang tertidur pulas, “Emh...” Kanaya merintih kesakitan.
Nyali Rendra tiba-tiba saja menciut, ia bahkan tak berani melangkahkan kakinya untuk masuk dan memeluk istrinya.
Rendra menutup rapat pintu itu dan bringsut di lantai, terduduk lemas di luar kamar
inap itu. Ia menekuk satu lututnya dengan satu kaki ia biarkan lurus sejajar
dengan lantai yang semakin dingin.
Air matanya tak mau berhenti mengalir, Rendra menggigit bibir bawahnya. Kini
pakaiannya sudah setengah kering. Jam menunjukan pukul lima subuh.
Kanaya terbangun penglihatannya remang-remang, “Siapa...?” Kanaya melihat bayangan seseorang di balik pintu kamar itu.
Perlahan Kanaya turun dari ranjang dan berjalan dengan langkah tertatih-tatih.
Zreegh..!
Terdengar suara pintu yang di geser, Rendra terkejut dan menoleh ke arah Kanaya.
Kedua mata itu saling memandang hinga akhirnya Rendra bangkit dan memeluk erat tubuh istrinya.
“Maafkan aku..” Hanya itu kalimat yang mampu Rendra ucapkan.
Kanaya mengangguk, “Tidak apa-apa..” Kanaya membalas pelukannya, “Kau sudah datang
pasti pekerjaanmu begitu banyak. Lihat ini bajumu basah.”
***
Rendra membaringkan tubuh Kanaya di atas ranjang dan menyelimutinya, “Tidurlah, aku
akan menunggumu disini.” Rendra mengecup mesra bibir Kanaya.
“Terimakasih...”
Kanaya tersenyum dan kembali tidur sembari memegang tangan suaminya.