
Kini usia kandungan Kanaya memasuki enam bulan, perutnya semakin membesar ditambah
lagi gerakan-gerakan tak terduga dari bayi yang ada di dalam perutnya.
“Sayang....”
Kanaya mencoba mengaitkan kaitan bra nya yang serasa sempit.
“Hm...? Ada apa?” Imbuh Rendra sembari menautkan kancing kemeja di lengannya.
“Tolong sebentar, tanganku tidak sampai.. padahal aku sudah menggantinya minggu yang
lalu..” Keluhnya.
Rendra membantunya mengaitkan kaitan bra itu, diciumnya leher Kanaya, “Emh...”
“Kenapa? Tidak suka?” Rendra memeluknya dari belakang dan memeperhatikan dengan seksama
perut Kanaya yang membesar seiring bertambahnya usia kehamilan.
Kanaya menggeleng, “Bukan.. Tapi barusan mereka menendang, perutku sangat sakit..”
“Menendang? Kenapa?”
Kanaya membalikan tubuhnya menghadap Rendra, sembari mengalungkan lengannya dileher
suaminya itu, “Mungkin mereka cemburu padamu...” Kanaya tertawa.
“Berani sekali mereka cemburu buta seperti itu, aku daddy mereka. Jika tidak ada aku,
mereka juga tidak akan ada.” Keluh Rendra dengan kesal.
“Hahaha... Lihat, kau cemburu pada anakmu sendiri.”
Rendra membungkuk dan mencium perut Kanaya, “Lihat saja daddy tidak akan kalah dari
kalian.”
***
Krystal sudah menyiapkan sarapan pagi dan menunggu mereka di ruang makan, “Kenapa
mereka lama sekali sih..”
“Nona.. Biar saya panggilkan tuan dan nyonya..”
Krystal menggeleng, “Tidak perlu.. pelayan Ran katakan pada mereka aku tidak ikut
sarapan bersama, aku sudah terlambat.”
Ran mengangguk, “Baik nona, akan saya sampaikan.”
Rendra menuntun Kanaya turun menapaki anak tangga yang menjadi penghubung dengan ruang
makan di lantai satu, “Hati-hati..”
“Ya... Aku lebih hati-hati darimu..” Kanaya tersenyum.
“Bagus...”
Ran sudah menunggu mereka di ruang makan, “Tuan.. nyonya silahkan..”
Rendra tak mendapati Krystal di sana, “Dia ada dimana?”
“Nona Krystal sudah pergi, katanya dia sudah terlambat.” Imbuh Ran dengan penuh
hormat.
Rendra menarik kursi itu untuk Kanaya, “Duduklah..”
“Mungkin karena ini adalah hari pertamanya masuk kerja..” Sahut Kanaya sembari menuang
susu di gelasnya.
Rendra mengangkat bahunya, “Tumben sekali anak itu bangun pagi.. Biasanya juga susah
di bangunkan..”
“Ya siapa yang tahu, dia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.” Kanaya menyuap makanan itu
kedalam mulutnya.
“Hm... Dia tetaplah seorang gadis kecil.” Rendra menghela nafas.
***
Pukul 08.00 pagi hotel masih sepi, aktifitas karyawan dimulai dari jam 09.30 pagi
hingga 24 jam kemudian.
Sepi sekali.. hanya ada tamu hotel yang berlalu lalang. Krystal menoleh kekanan dan kekiri terlihat bingung dihari pertamanya kerja entah apa yang harus dilakukannya.
“Pagi sekali...”
Krystal terkejut mendengar suara yang tak asing itu dari belakang punggungnya, Krystal
membalikan tubuhnya kebelakang.
“Ka- Kau...? Louhan..” Telunjuknya menunjuk tepat diwajah Louhan.
Louhan menyingkirkan tangan itu, “Kenapa....? Terkejut..?”
Krystal mengangguk.. “Mau minum kopi?” Imbuhnya dengan malu-malu.
“Boleh...”
Louhan pergi duluan ke kantin dan meninggalkannya sendirian.
“Tu-tunggu...!”
Krystal berlalari menggapai Louhan kemudian menggandeng tangannya.
Mata mereka saling menatap dan terukir senyum di wajah mereka berdua.
Sembari menunggu kopi mereka datang, “Louhan... Kau sudah lama kerja di hotel ini?”
Louhan mengangguk, “Aku bersamanya sejak dia masih nol.”
Krystal terkejut, “Benarkah..? Kau pria yang hebat bisa membantu kakak Rendra sampai
sejauh ini.”
Louhan tersenyum...
“Malam ini apakah kau ada janji dengan seseorang?”
Krystal menggeleng, “Tidak.. Kenapa?”
“Mau nonton denganku?”
Malu-malu ia menganggukkan kepalanya, “Ya, tentu saja aku mau...”
“Ok, jam 7 malam aku akan menjemputmu..”
“Hah..? Tidak-tidak...” dengan cepat Krystal menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku takut kakak akan marah jika dia tahu –“
“Kakakmu tidak akan marah..” Imbuh Louhan dengan nada yang meyakinkan.
“Hm.. Baiklah..”
***
Louhan menepati janjinya dan sekarang ia sudah berada di depan rumah Rendra.
Tintong....
"Siapa...?" Ran membuka pintu, "Oh, tuan Louhan, silahkan masuk saya akan panggilkan
tuan muda.”
“Tidak perlu, aku datang kemari untuk menjemput Krystal.”
Ran mengangguk dan tersenyum, “Oh.. Baiklah, silahkan duduk.. saya akan memanggilkan nona Krystal terlebih dahulu.”
Rendra keluar dari ruang kerjanya dan bertemu dengan Ran, “Pelayan.. siapa yang
datang?”
“Tuan Louhan.. dia kemari untuk menjemput nona Krystal..!”
“Krystal...?”
Ran menangangguk dan bergegas menuju kamar Krystal.
“Ku kira siapa yang datang...!” Rendra mengejutkan lamunan Louhan.
“Siapa menurutmu...!”
“Kencan?!” Imbuh Rendra sembari duduk di sofa itu dengan santai.
“Tidak, hanya nonton di bioskop saja.” Elaknya.
Rendra terkekeh, “Hm...!”
Krystal buru-buru menemui Louhan yang sudah menunggunya, “Maaf membuatmu lama – “
Kanaya terdiam saat ia melihat Rendra bersama Louhan.
Rendra menatap Krystal, “Jangan pulang larut malam.”
Krystal mengangguk, “Emh.. Aku mengerti.”
***
Sesampainya dibioskop Louhan membeli cemilan khas seperti yang biasanya seperti popcorn, dan minuman.
Antrian begitu panjang membuat Krystal lelah menunggu, “Sepertinya masih lama.”
Louhan mengangguk, “Duduklah..”
Krystal hendak duduk namun hanya ada satu kursi, bagaimana mungkin aku bisa duduk dan melihatnya berdiri ikut dalam antrian.. dia mengurungkan niatnya kemuadian menggeleng, “Tidak.. terimakasih.”
Hampir satu jam mengantri akhirnya mereka bisa masuk untuk menonton film romantis yang sedang naik daun itu. Semua orang menontonnya dengan seksama, suasananya sangat hening.
Dua jam kemudian mereka keluar dari bioskop, “Film nya bagus..” Imbuh Krystal.
“Benarkah?”
“Ya tentu saja, aku sangat menyukai pria yang romantis.”
“Oh....”
Krystal mengerutkan keningnya, apa? Hanya oh.... saja..?
“Kenapa?”
Louhan membuyarkan fikiran Krytal.
“Tidak... bukan apa-apa, sudah jam sepulu ayo kita pulang.”
Louhan mengangguk, “Emh...”
***
Kanaya merasa tubuhnya begitu gerah, padahal ac itu ia nyalakan dengan temperatur yang sangat dingin.
Perutnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya Rendra sudah tertidur pulas tapi ia merasa
sangat lapar.
Mulutnya ingin mengunyah sesuatu, perlahan ia membangunkan suaminya itu, “Sayang....”
“Emh....”
Suaranya terdengar berat.
“Sayang... bangun dulu..” Kanaya masih mengguncang tubuh Rendra dengan pelan.
“Hm.. ada apa? Kau tidak bisa tidur?” Imbuh Rendra sembari mengucek matanya dengan
pelan kemudian menutup mulutnya yang menguap.
“Aku lapar.. aku ingin makan martabak asam manis.” Pintanya dengan manja.
“Apa...?”
Rendra melihat jam dinding, jam itu menunjukan pukul 01.00 malam, kemudian ia
menghela nafas, “Lihat itu...”
Kanaya menggeleng dan tidak mau tahu..
“Besok pagi saja ya..” Rayu Rendra sambil mengelus wajah istrinya.
Kanaya menepis tangannya, “Aku mau sekarang.. bukan besok pagi.” Kanaya memalingkan wajahnya.
Rendra menyandarkan kepalanya dipundak kanaya, “Aku janji, besok aku sendiri yang akan
membelinya untukmu.”
Kanaya masih tak menggubrisnya, dan air matanya menetes.
Rendra menghela nafas untuk yang kesekian kalinya dimalam itu, akhir-kahir ini dia menjadi lebih sensitif.. “Hei....” Rendra mengelus perut Kanaya, “Katakan pada mommy kalian.. apa salah daddy..?!”
Bayi didalam perut Kanaya merespon belaian tangan Rendra, bayi itu menendangkan
kakinya berkali-kali, “Emh...” Lirih Kanaya, “Baiklah, tapi kau janji tidak akan lupa seperti yang sudah-sudah, kan...?” Lanjutnya.
Eh..? Dia bahkan masih mengingatnya dengan sangat baik.. “Tentu, kali ini aku tidak akan lupa..! Kita tidur lagi ya..”
“Tapi peluk aku sambil tidur..”
Rendra mengangguk, “Kau manja sekali ya..” Rendra tersenyum kemudian mencium kening
istrinya. Mereka berduapun kembali tertidur degan nyenyak.