
Bima tersenyum licik dan berjalan mendekati Sherly yang diam mematung, jantungnya
berdegub kencang.. Matilah aku, jika sejak awal aku tahu dia tuan mudanya, aku tidak akan mengambil pekerjaan ini.
Sherly mengangkat pandangannya setengah dari tinggi tubuh Bima, perlahan ia
memundurkan langkahnya namun nahas kaki jenjangnya terbentur springbad dan
membuat keseimbangan tubuhnya goyah, “Ah..!”
Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan Bima, segera ia menahan Sherly tepat dibawah tubuhnya, tangannya mencengkram kuat tangan Sherly, “Sakit.. Lepaskan aku.. Dasar paman mesum..”
Sontak hal itu membuat Bima semakin marah, ia menguatkan cengkraman tangannya,
“Bukankah sudah kubilang jika sekali lagi aku mendengarnya, aku akan mematahkan
lehermu..”
Sherly tersenyum, “Itu lebih baik..!”
Gadis ini ternyata menarik juga..! “Benarkah? Aku ingin lihat sampai dimana kau bisa bertahan..”
Cengkraman tangan itu ia longgarkan, dan tangan itu turun membelai rambut Sherly, menuntut ke wajah, leher, dan dada Sherly.
“Jangan kurang ajar.. Lepaskan aku..!” Sherly bangkit dan menggigit kuat lengan Bima
hingga berdarah.
Bima membiarkannya lolos begitu saja.
***
Mendekati hari persalinan membuat Kanaya takut, sesekali ia menatap kalender yang tidak jauh darinya.
Rendra yang baru saja mandi memandanginya dengan senyuman, “Tidak perlu khawatir, aku
pasti akan menemanimu saat melahirkan anak kita.”
Kanaya mengangguk dan membalasnya dengan senyum simpul.
Hari berganti dan memasuki tanggal persalinan Kanaya, masih belum ada tanda-tanda melahirkan. Dan itu membuatnya semakin cemas.
Malam pukul 20.00, Rendra sedang sibuk dengan dokumen-dokumen itu di ruang kerjanya, Kanaya membawakannya teh hangat beserta cemilan.
“Istirahat dulu..” Rendra mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
“Kenapa belum tidur..? Aku bisa mengambilnya sendiri.”
Kanaya meletakan nampan itu diatas meja kerjanya dan mendekati Rendra, ia duduk
dipangkuannya dan membiarkan Rendra mengelus lembut perut buncitnya itu.
“Kenapa anak-anak daddy belum tidur? Kasihan mommy sudah lelah.”
Kanaya mengernyit dan meremas kuat pundak suaminya itu, “Aw.....!”
“Kanaya!”
“Perutku sakit sekali..” Rintihnya sembari menguatkan remasan tangannya.
kalang kabut olehnya, ia merasakan sesuatu yang cair mulai merembes ke celana
dan menyentuh kulitnya.
“Kita kerumah sakit..”
Kanaya menggigit bibir bawahnya dan masih meremas kuat pundak suaminya.
Krystal yang saat itu sedang nonton bersama Louhan diruang keluarga terkejut melihat Rendra berjalan cepat dengan menggendong Kanaya.
“Kakak... Kakak ipar kenapa?” Krytal terlihat khawatir.
“Louhan.. Bawa mobil.”
Louhan segera mengeluarkan mobil lamborghini itu dari garasi, dan segera membawa mereka kerumah sakit.
***
“Sakit....!”
Kanaya semakin merintih, air matanya tak terbendung lagi. Kontraksi yang ia
rasakan semakin lama semakin kuat.
“Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai.”
“Louhan cepat sedikit... kita bawa kakak ipar ke rumah sakit terdekat saja.” Pinta
Krystal yang semakin khawatir.
“Tenanglah, aku sedang fokus menyetir.” Louhan menambah kecepatan mobilnya.
Tangan Kanaya spontan menjambak rambut Rendra dan membuatnya meringis kesakitan.
Kepalanya terasa berdenyut, dan wajahnyapun memerah.
Rendra menarik tangan Kanaya yang ia gunakan untuk menjambak rambutnya tadi dengan sangat lembut dan memegangnya dengan erat, “Emh... Sakit...” air matanya
semakin tumpah tak terkendali.
Melihat istri yang ia cintai begitu kesakitan Rendra tak kuasa menahan air matanya,
segera ia mendongakan kepalanya keatas agar air matanya tertahan.
“Bertahanlah sayang.. Sebentar lagi kita akan sampai...”
Keinginannya untuk segera sampai di rumah sakit sepertinya harus tertunda, tak jauh dari mobil lamborghini itu ada kecelakaan lalu lintas ditambah lagi lampu lalu
lintas itu berubah menjadi warna merah.
Suasana jalanan mendadak macet padat merayap membuat Rendra semakin takut, jantungnya berdebar semakin cepat, Ya Tuhan ada apa lagi ini...?! Rendra mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Nafasnyapun semakin cepat.
Kanaya masih fokus dengan rasa sakit dibagian perut bawahnya, ia ingin sekali
berteriak sekuat mungkin namun hal itu ia urungkan karena tak ingin membuat
Rendra semakin mencemaskannya.