MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
Episode 36 - SEBUAH NAMA



Setelah 1 minggu di rawat di rumah sakit pasca melahirkan, kini Kanaya sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah.


Jauh-jauh hari Rendra menyiapkan sebuah kamar yang di dekorasi seindah mungkin dengan cat dinding berwarna hijau, di box bayi sebelah kanan terlihat begitu ramai warnanyapun sangat ciri khas sekali dengan perempuan, apalagi jika bukan warna pink.


Sedangkan box bayi disebelah kiri tak kalah bagusnya, bad itu berwarna biru dengan bergambar bola, hiasannya juga sangat ciri khas dengan laki-laki.


“Kau suka...?” Tanya Rendra sembari meletakan perlengkapan bayi mereka.


Kanaya mengangguk, “Tentu saja aku menyukainya..” kemudian ia tersenyum.


Diletakannya bayi kembar mereka di masing-masing box yang telah disiapkan. Keduanya tidur dengan nyenyak, dan sesekali menggeliat.


Bayi laki-laki itu menggeliat dan tak lama disusul suara rengekan, popoknya juga basah.


“Sayang.....” Kanaya mengangkatnya dari box itu untuk menggantikan popoknya, “Mommy ganti dulu ya


 


Terdengar suara khas bayi perempuan itu yang membuat Rendra tak habis-habisnya memasang senyuman di bibirnya.


Bayi laki-laki itupun kembali tertidur nyenyak.


“Mereka tidur nyenyak sekali...” Imbuh Kanaya.


“Hm... Kau juga istirahatlah, aku akan menjaga mereka..” Rendra merebahkan dirinya diatas spring bad, yang kemudian di susul Kanaya yang ikut merebahkan dirinya di sisi sang suami.


Mereka saling melempar pandang dan juga senyuman, ibu jari Rendra mengusap lembut wajah Kanaya, “Terimakasih..” Ungkapnya kemudian mencium mesra kening Kanaya.


Kanaya hanya tersenyum mendengarnya.


“Oh ya kau sudah mempersiapkan nama untuk anak-anak kita..?”


“Sudah....” Rendra memposisikan dirinya untuk duduk.


“Siapa namanya...?”


“Bayi laki-laki itu akan kuberi nama Jimmy Xing William.. dan yang perempuan aku akan memberinya nama Olivia Xing William...”


Kanaya beranjak duduk, “Olivia..?” ia heran sembari sedikit memingkan kepalanya.


Rendra mengangguk, “Ya... nama itu kuambil dari nama tengahmu... kau suka?”


“Tentu... Tentu saja.. aku sangat menyukainya...”


Di vila anggrek nan megah itu Sherly tak henti-hentinya dikerjai Bima mulai dari membersihkan kolam renang, menyikat bak mandi, toilet, mencuci baju, dan juga memasak.


Bima melepeh makanan yang ada di dalam mulutnya, “Apa ini.. Kau benar-benar buruk dalam hal memasak.. Di suruh ini dan itu tidak ada yang benar.”


“Karena itu carilah pelayan yang lebih berkompeten.. Aku akan mengundurkan diri dengan senang ha – “


Belum sempat Sherly merampungkan kalimatnya bibir manisnya itu telah disambar sebuah sendok yang berisikan makanan penuh.


“Asiin..... Bleh.. bleh...” Segera Sherly menjauh dari Bima, “Kau gila..” Imbuhnya seraya melenggang pergi.


Bima hanya tersenyum sembari menggeleng, “Dasar aneh..”


3 bulan berlalu, hari-hari yang ia lalui bersama Sherly membuatnya seperti kembali ke jati dirinya yang dulu. Entah sejak kapan hatinya mulai melupakan Viona dan menggantinya dengan Sherly.


Waktu ujian akhir sekolah hanya tinggal menghitung hari, “Hah... Sama sekali tidak


mengerti..” Sherly tak habis-habisnya mengetuk keningnya berkali-kali.


“Otakmu memang ditakdirkan dengan IQ rendah 0,1%, jadi kecil kemungkinannya untukmu bisa  lulus.” Bima menyeringai menatapnya.


“Hah...! Memangnya paman itu pintar? Paling-paling juga kau itu sama bodohnya sepertiku.”


“Taruhan...! Aku bisa membuatmu menduduki peringkat pertama, dan hadiahnya..” Bima memandangi Sherly dari atas hingga bawah, saat Bima menaikan pandangannya di wajah Sherly.. Boom..!


Berkali-kali bantal tebal itu mengenai wajahnya, “Jangan mesum.. simpan jauh-jauh


fikiranmu itu.. dasar bujang lapuk!” Ketus Sherly dengan ekspresi santainya.


Tak terima di cap sebagai bujang lapuk Bima menarik gadis itu dan merebahkannya di atas springbad, “Apakah aku seburuk itu di matamu?”


Glek...


Sherly menelan ludah segera ia memalingkan wajahnya, “Fikirkan saja sendiri.. sana, minggir aku mau melanjutkan pelajaranku.”


Bima menahan kuat tubuh Sherly dan ******* habis bibirnya, “Emh...” Jangan..!


Setelah beberapa menit berciuman Bima melepaskannya, “Aku akan membuatmu lulus


dengan nilai terbaik.. dan sebagai gantinya berikan tubuhmu padaku..”


Mendengar kalimat itu Sherly begitu geram dan kembali melemparnya dengan sesuatu yang bisa ia raih sembari berteriak, “Mesuuum.....!! Leih baik aku tidak menikah dengan siapapun daripada harus melakukannya dengan paman mesum!!”