
Rendra bangun pagi-pagi sekali, membuka lemari dan mengambil jaketnya yang tebal.
“Kenapa malah hujan sih? Gimana mau nyari martabak asam manisnya..?” Lirih Rendra
sembari memakai jaket itu.
Dilihatnya Kanaya masih tertidur pulas, ia tersenyum melihat pemandangan itu.
Hari ini Krystal juga ikut-ikutan bangun pagi ia sedang sibuk membereskan ruang
tamu, “Krystal... Tumben sekali bersih-bersih?”
Krystal menoleh ke sumber suara itu, “Mumpung libur, kakak mau kemana pagi-pagi begini?”
“Kakak mau beli martabak asam manis..”
“Untuk kakak ipar?”
Rendra mengangguk, “Semalam membangunkan kakak jam satu malam minta di belikan
martabak..”
Rendra melangkahkan kakinya keluar pintu, “Tapi kak martabak hanya dijual di malam
hari..” Imbuh Krystal yang mash sibuk dengan kemonceng ditangannya.
Rendra terkejut mendengarnya, “Hah...! Terus kakak harus mencari kemana?”
Rendra mulai panik ia takut jika Kanaya akan merajuk dan menangis jika apa yang
di inginkannya tidak terpenuhi.
Masih teringat jelas kejadian beberapa minggu yang lalu dimana Kanaya ingin makan
telur mata sapi, padahal Kanaya paling jago dalam hal memasak namun semenjak
berbadan dua ia jadi lebih sering bermalas-malasan.
Kanaya malah meminta suaminya untuk membuatkannya telur mata sapi, “Kenapa tidak minta
pelayan Ran saja untuk membuatnya?” Rendra menyalakan kompor gas dan mulai
membuat telur mata sapi itu, “Lain kali jangan menungguku, pekerjaanku terlalu
banyak entah kapan akan selesai.”
Kanaya hanya mengangguk malas menanggapinya. “Ini sudah jadi..” Imbuh Rendra.
“Asyik.. Akhirnya, dapat juga..” Kanaya memakan makanan itu dengan begitu lahap, Rendra
tak habis fikir mengapa menu itu bisa dimakan hingga begitu lahapnya.
“Pelan-pelan nanti tersedak..”
Kanaya tidak menggubrisnya, “Lagi...” Kanaya masih ingin makan telur mata sapi itu.
“Tidak...”
Tegas Rendra, “Ini sudah yang kelima kalinya kau memakan itu.” Rendra melepas
celemek yang ia pakai.
“Tapi aku masih lapar, aku hanya mau makan telur mata sapi..” Kanaya mulai menangis.
“Kanaya!”
Rendra meninggikan suaranya, namun istrinya itu tetap tidak mau tahu yang ia
inginkan saat itu hanyalah telur mata sapi.
Rendra menghela nafas mengusap wajahnya dengan kasar, Sabar... Sabar... “Baiklah, ini yang terakhir kalinya hari ini makan telur mata sapi.”
Kanaya mengangguk senang...
“Ya ampun.. Menghadapimu saat hamil jauh lebih sulit...”
“Kenapa?”
Tanya Rendra keheranan melihatnya seperti itu bukankah tadi dia yang merengek
ingin makan telur mata sapi.
Kanaya menggeleng, “Maaf.. Aku begitu menyulitkanmu.” Ia menundukan kepalanya dan
berjalan menuju ke kamar.
“Hm...?
Apa yang kau katakan barusan..”
Kanaya mengangkat pandangannya dan tersenyum kecut pada Rendra, ia menggeleng “Aku
sudah kenyang, terimakasih untuk yang tadi.”
Malampun tiba Kanaya tidak memiliki selera makan, ia hanya mengurung diri di kamar.
Makanan itu tertata rapi di atas meja makan, Rendra mulai emosi melihat tingkah Kanaya yang seperti itu.
“Kau tidak mau makan..!?”
Kanaya hanya diam dan menggeleng..
“Kau tidak mau makan..!” Rendra membentak Kanaya dan membuatnya terkejut. “Kenapa menangis...
Apa hanya itu yang bisa kau lakukan..? Kau tidak bisa melakukan hal yang
lainnya... Hah! Kau benar-benar membuatku kesal..!” Suara Rendra semakin nyaring,
sembari membanting pintu dan meninggalkannya sendirian di kamar.
Kenapa aku jadi cengeng seperti ini...
Lelah menangis Kanaya merasa haus, di meja tak jauh dari tempat tidurnya ada air
putih yang memang sudah disiapkan Rendra sebelum tidur malam.
Perlahan ia melangkah untuk mengambil minum. Rendra yang sedari tadi hanya berdiam diri di
balik pintu itu ia merasa menyesal sudah membentaknya, Rendra apa yang kau lakukan, dia istrimu sekarang sedang hamil..
Rendra memejamkan mata dan menghela nafas, Prang!!! Ia terkejut saat mendengar suara
benda yang terjtuh dari dalam kamar. Segera Rendra membuka pintu kamar itu.
Ia terbelalak saat melihat Kanaya beringsut di lantai menangis keasiktan sembari
memegang perutnya, “Kanaya....! Apa yang terjadi...” Rendra menggendongnya ke
atas spring bad.
Kanaya memegang erat tangan Rendra dan membuat lengan itu memerah, Rendra menyandarkan
kepala Kanaya di pundaknya sembari mengelus perutnya, “Masih sakit..?”
Kanaya mengangguk, “Maaf selama ini aku sudah membuatmu sulit..”
Rendra mencium kepala Kanaya, “Aku yang seharusnya minta maaf, tidak seharusnya aku
berkata kasar seperti itu.” Rendra membantu Kanaya berbaring, “Pelan-pelan...
Kau ingin makan sesuatu?” Lanjutnya.
Kanaya mengangguk, namun juga takut. Rendra membelai
rambutnya dan mengecup keningnya, “Telur mata sapi..?” Imbuhnya sembari
tersenyum..