MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XXIV - MORNING SICKNESS



Inggris, 5 Februari 2020 semua data dan sampel milik Kanaya telah di periksa, mereka


memerlukan waktu tiga hari untuk mendapatkan hasilnya.


Sementara itu Rendra terlihat resah ia terus menghela nafasnya dan mondar mandir kesana kemari, hatinya sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil pemeriksaan itu.


***


8 Februari 2020...


Ponsel Rendra berdering segera ia mengangkat telfonnya, “Uncle, are you serious..?!” Rendra begitu senang mendengar kabar baik itu.


“Yes, of course. Why should I lie to you?” Uncle Teddy meyakinkan Rendra.


“No, I didn't mean it like that. It's just that before this I was almost hopeless..”


Suaranya terdengar sedih.


“Oh no my niece dear, uncle will try my best. You take good care of my daughter-in-law and future grandchildren. If there is a time in the near future I will visit, and one more help you also take care of my daughter, Krystal.”


“Alright uncle, I understand. Thank you for everything..” Rendra mematikan telfonnya.


***


Di dapur Rendra sedang fokus untuk membuat makanan kesukaan Kanaya, tidak mudah


membuatnya meskipun Rendra bisa memasak tetapi baru kali ini ia harus memasak


pepes ikan patin.


Jari telunjuknya tergores pisau, kesabarannya hampir habis bahkan ia hampir membuang bahan-bahan masakannya. Tetapi setelah ia teringat semua perjuangannya hal itu tidaklah penting baginya, semua itu bukanlah masalah.


Pepes atau apapun itu Rendra akan memasaknya. Mudah menyerah bukanlah sifatnya, di dalam kamus hidupnya tidak ada kata menyerah, Rendra menghela nafas pelan.


“Baiklah, coba sekali lagi..”


Satu jam kemudian, “Akhirnya jadi juga. Semoga dia menyukainya.”


Rendra membawa pepes ikan patin itu ke kamar, “Sayang aku membuat makanan kesukaanmu.... makanlah du –“


“Huek......! Huek......!” terdengar suara Kanaya di kamar mandi, tubuhnya mulai lemas


kekurangan cairan. Sejak pagi buta ia sudah mual dan muntah.


Rendra meletakan nampan itu di meja dan menyusulnya ke kamar mandi, “Sayang...”


Panggilnya dengan lirih.


“Hm...?”


Kanaya menoleh ke arahnya sembari mengelap mulutnya dengan tisu, “Ada apa..?”


Imbuhnya.


“Kau tidak apa-apa?” Rendra memeluk Kanaya dari belakang.


Kanaya menggeleng dan melepaskan pelukan itu, “Jangan menyentuhku....”


Rendra terkejut, “Kenapa?”


“Aku....!”


Kanaya merasa perutnya mual, “Keluar dulu...” Pintanya sambil mendorong pelan tubuh Rendra.


Kanaya masih sibuk dengan rasa mual dan muntahnya di kamar mandi, entah sudah yang


Sementara itu Rendra bingung harus berbuat apa, ia sama sekali tidak punya pengalaman


yang seperti itu.


Krieet...


Suara pintu kamar mandi yang terbuka, Kanaya berjalan sedikit lunglai tubuhnya


gemetaran, “Air..”


Buru-buru Rendra menuang air putih itu dan meminumkannya, “Bagaimana? Masih mual?”


Rendra membantunya duduk di atas spring bad, ia merapikan rambut Kanaya yang sedikit


berantakan.


“Ganti parfummu. Aku tidak suka dengan baunya..!” Kanaya memalingkan wajahnya.


“Hm..! Kenapa? Tapi aku baru saja membelinya.” Imbuh Rendra sembari mencium wangi


parfum di bajunya sendiri.


Air mata Kanaya menetes, ia merasa sedih saat permintaannya di abaikan. Rendra


menyeka air matanya, “Baiklah jangan menangis lagi, katakan kau ingin aku memakai


parfum apa?”


“Zoya Eau De Toilette..”


Rendra tertegun sejenak, “Zo – Zoya...?!”


Kanaya mengangguk, “Kenapa? Tidak suka ya?” Mata Kanaya berkaca-kaca air matanya


hampir menetes untuk yang kesekian kalinya.


Rendra menelan ludah dan menyeka air matanya, “Tentu saja aku suka, kenapa juga aku tidak menyukainya. Apakah kau ingin memilihkan varian wanginya untukku..?”


Kanaya tersenyum lebar dan mengangguk, “Emh, aku mau...!”


“Baiklah, sebelum kita pergi kau makan dulu.”


***


Kini setiap pagi Kanaya selalu tersiksa dengan rasa mual dan  muntahnya, terkadang Kanaya juga selalu marah jika dipeluk suaminya sendiri, tidak ingin tidur bersama dalam beberapa waktu, tidak ingin mandi, kadang manja, kadang mandiri, kadang cengeng, tidak ingin jauh dari Rendra, kadang acuh tak acuh. semuanya bercampur aduk membuat Rendra


setres.


Malam itu mereka berdua bertengkar, Rendra terpaksa tidur diluar.“Kakak, kenapa tidur di luar?” Krystal terkekeh melihat Rendra, wajahnya begitu kusut. “Kakak yang sabar ya... bukankah anak itu yang selama ini kalian dambakan?” lanjutnya sembari memijat pundak Rendra.


“Aku sama sekali tidak mengerti dengan wanita hamil, apakah mereka semua seperti


itu?”


Krystal menggeleng lalu mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Tapi dari yang kubaca di internet setiap wanita hamil hormonnya berbeda dan selalu berubah-ubah. Terkadang ingin di manja, ingin di sayang, mood mereka selalu berubah.”


“Suatu hari nanti kau akan menikah, dan saat kau hamil nanti jangan menyusahkan Louhan


ingat itu.”


Krystal terkejut, “Kakak....! Ini semua tidak ada hubungannya dengan dia..!” Teriak


Krystal sekaligus menguatkan pijatannya membuat Rendra berteriak kesakitan.“Sakit!”