MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XVIII - CIUMAN PERTAMA



Buru-buru Louhan berlarian menapaki anak tangga yang menjadi penghubung dengan kaki lima itu, huh.. huh... Nafasnya tersengal-sengal.


Louhan menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan cepat, dihadapannya ada sebuah


pintu lebar dan tinggi, Louhan berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


Perlahan Louhan membuka pintu itu, krieeeet suara pintu yang menggema, “Ayah..” Louhan


tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah sekian lama mereka tidak


bertemu.


“Kapan ayah datang? Kenapa tidak memberitahuku?” Louhan buru-buru mendekati ayahnya


yang duduk di atas kursi roda.


“Ayah ingin memberimu kejutan.” Senyum itu terlihat jelas dari wajah yang renta dan


keriput.


Louhan menggeleng, “Bisa melihatmu merupakan kejutan terindah yang diberikan tuhan


kepadaku.” Louhan memeluk ayahnya dan tak kuasa menahan tangisnya.


“Katakan, kapan kau akan menikah?” Pertanyaan itu membuat Louhan kebingungan.


Louhan menggeleng, “Kita bicarakan itu nanti, ayo kita jalan-jalan ke taman.”


***


Weekend, hari libur untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tercinta tak


terkecuali Louhan juga hari ini ikut serta di dalamnya.


“Ayah, tunggu sebentar di sini, aku akan beli minuman dulu.”


“Oh ya baiklah, jangan terlalu lama.”


“Baik ayah.”


Baru lima menit di tinggal, sekelompok preman datang mengganggu ayah Louhan.


Merasa risih segera ia pergi ketempat yang lebih tenang meskipun sebenarnya ia tidak


tahu posisinya sekarang ada dimana.


Krystal dan kedua temannya sedang asyik selfie di taman yang sama, sebelum mengganti pose yang baru kedua mata Krystal tertuju kepada pria tua yang terlihat kebingungan duduk di kursi


roda itu.


“Krystal, mau kamana?” Tanya Jessy dengan nada kesal.


“Tunggu sebentar, lima menit.” Jawab Krystal dengan setengah berlari.


Krystal mendekati pria tua itu, “Paman ada apa? Kau terlihat bingung.”


“Aku tadi diganggu beberapa preman, dan sekarang aku mencari putraku.”


“Putra paman? Berani sekali dia meninggalkan orangtuanya sendirian seperti ini.”


Krystal bergumam kesal sembari melihat kesana kemari.


Di tempat sebelumnya Louhan kebingungan mencari keberadaan ayahnya, “Ayah.. ayah..


ayah..” Teriak Louhan tanpa memperdulikan orang lain yang sudah menatapnya


dengan tatapan tidak nyaman.


Berlari mencari kesana kemari masih belum menemukan ayahnya, Louhan mulai putus asa.


Di ujung sana terdengar samar-samar canda tawa berasal dari suara yang tidak asing


baginya, namun ia berfikir keras mengapa ada suara seorang wanita?


Tak mau berfikir lebih lama lagi Louhan segera mengikuti arah suara itu.


Louhan terkejut dan juga bersyukur ayahnya baik-baik saja, pandangannya beralih ke


arah Krystal, “Cantik sekali.” gumamnya lirih.


“Oh, Louhan...” Teriak ayahnya dengan suara yang sedikit parau.


Krystal ikut berbalik memandanginya, “Hm? Jadi kau putra paman ini?! Berani sekali kau


meninggalkannya sendirian.”


Louhan mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya, namun Krystal tetap tidak ingin


mendengarnya.


Entah demi apapun tanpa di duga Kanaya dan Rendra juga sedang berada di taman yang


sama, melintasi tempat mereka yang saat itu sedang adu mulut.


“Krystal..!!” Sapa Rendra menghentikan keributan kecil itu.


“Kakak.” Krystal berlari pelan ke arahnya.


Kakak..? Gawat..! Seharusnya aku tidak perlu meladeninya. Terlihat wajah gugup Louhan yang


saat itu sedang menerima tatapan Rendra.


“Kenapa kau ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk pergi ke Beijing?” Imbuh Rendra.


Kanaya merasa suasana saat itu tidak kondusif, segera ia mencubit pelan tangan


suaminya.


Rendra menatap Kanaya seolah sedang bertanya kenapa..? Kanaya mengisyaratkannya untuk


melihat ke arah pria tua itu.


“Apakah itu ayahnya?” Kanaya berbisik pelan.


Rendra menghela nafas, “Satu jam lagi kita bertemu di hotel. Dan kau (melihat ke arah


Krystal) segera pulang, jangan tidak tahu waktu.”


Krystal mendengus kesal dan menatap Louhan dengan tajam, Hm!! Kalau bukan karena dia aku pasti menikmati hari ini dengan penuh kesenangan.


Satu persatu mulai meninggalkan taman, “Kenapa tidak bilang jika kau akan pergi ke


Beijing?”


Louhan menggeleng, “Bukan hal yang serius, tidak apa-apa, setelah mengantar ayah


pulang aku akan pergi menyelesaikan urusanku sebentar.”


Ayahnya merasa tidak enak hati dengan kejadian tadi, mungkin karena hal sepele menemani


orangtua renta bisa membuat anaknya kehilangan pekerjaan yang selama ini


menopang hidup mereka berdua.


Usai mengantarkan ayahnya kembali ke apartemen, Louhan segera pergi ke hotel untuk


menemui Rendra. Apapun yang terjadi ia sudah siap menerima konsekuensinya.


***


Begitu sampai di lobi hotel Louhan merapikan jas nya, nafasnya terasa berat wajahnya


Segera Louhan menghela nafas secepat mungkin untuk menghilangkan kegugupannya.


Sembari menunggu pintu lift terbuka, ia masih sibuk menenangkan dirinya. Saat itu


jantungnya serasa sedang berpacu dengan cepat. Berkali-kali ia menghela nafas


dan menghembuskannya kembali dengan cepat.


15 menit menanti akhirnya pintu lift pun terbuka, saat Louhan mau menutup pintu


lift itu seorang wanita yang tak asing sedang berlari menuju lift tersebut.


“Tunggu!”


Krystal..? Kenapa dia ada di sini..?


Berada di satu lift yang sama membuatnya semakin gugup, Louhan memalingkan wajahnya dari Krystal.


“Bertemu lagi di sini..!” Krystal tersenyum jahil.


Louhan hanya diam tak menjawabnya dengan sepatah katapun.


Hm, sombong sekali. Ingin mengacuhkanku? Tidak akan kubiarkan. Krystal mendapatkan ide


yang cukup bagus untuk mencairkan suasana canggung ini.


Perlahan Krystal mundur beberapa langkah dan membuat adegan seolah-olah kakinya


terkilir, “Aw.. sakit..!” Krystal hampir jatuh ke lantai.


Dengan sigap Louhan menahannya, kejadian itu mempertemukan wajah mereka yang saling


menatap dengan jarak yang semakin dekat.


“Terimakasih.” Segera Krystal memposisikan tubuhnya berdiri dengan seimbang.


Louhan masih diam membisu.


Mata sipitnya menangkap ekspresi kesal Krystal, dilihatnya wanita itu mengercutkan


bibirnya.


“Dasar pria tidak peka!” Bisiknya.


Tak terima di cap sebagai pria yang tidak peka, “Benarkah?” Louhan sedikit


membungkukkan tubuhnya yang tepat berada di belakang Krystal.


Deg!


Krystal menggeleng cepat, “Aku tidak mengatakan apapun..” ia pun langsung mengambil


langkah jauh darinya.


Louhan menarik tangan Krystal membuatnya berbalik menghadap Louhan, kemudian nekat


mencium bibirnya.


Krystal sangat terkejut matanya terbelalak, sesaat ia memejamkan mata dan perlahan


membuka mulutnya membiarkan Louhan merampas ciuman pertamanya.


Louhan menekan erat tengkuk Krystal dan membuatnya tak bisa bergerak bebas ataupun


sekedar untuk melepaskan ciuman itu.


Perlahan tangan Krystal juga ikut naik memeluk tubuh Louhan yang tinggi.


Entah berapa lama waktu berlalu, mereka berdua mulai kehabisan oksigen dan terengah-engah.


Krystal menunduk asyik menatap lantai, ia mencoba menyembunyikan rona merah di


wajahnya.


Louhan kembali merapihkan pakaiannya dan segera pergi keluar setelah pintu lift


terbuka.


Sebelum pergi Louhan membisikinya, “Kita akan bertemu lagi.”


Krystal hanya mengangguk memejamkan matanya.


***


Tok tok...


Louhan mengetuk setengah keras pintu ruangan Rendra, “Masuk.”


“Tuan, maaf saya terlambat.” Louhan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan CEO


itu.


“Duduklah.” Pinta Rendra.


Kini mereka duduk saling berhadapan.


Louhan masih tidak nyaman dengan tatapan seperti itu, “Tuan saya –“


Rendra setengah mengangkat tangannya dan memberinya isyarat untuk berhenti bicara, “Kenapa


tidak mengatakannya padaku jika paman sudah datang? Kau membiarkanku menyambutnya


dengan situasi seperti itu.”


Louhan menghela nafas, “Tuan, saya juga baru mengetahuinya tadi. Sebelum ke Beijing


saya ingin membawanya ke taman. Maaf atas kelalaian dan kelancangan saya.”


Louhan segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan? Cepat duduk atau ku potong gajihmu.” Rendra menghela nafas,


“Kami secara pribadi mengundang kalian berdua untuk makan malam dirumahku.”


Imbuhnya.


Louhan terkejut saat mendengarnya, sebelumnya ia berfikir mungkin akan di pecat karena


hal ini, “Tapi tuan, bagaimana dengan proyek barunya? Siapa yang akan pergi ke Beijing?”


Rendra menutup berkas yang ada di hadapannya, “Jangan khawatir, aku akan megutus yang


lainnya. Aku memberimu cuti tambahan. Pergilah dan nikmati cutimu dengan


benar.”


Louhan begitu terharu mendengarnya. Dari luar ada penguping yang handal sedang


menguping pembicaraan mereka.


Penguping itu tidak lain dan tidak bukan adalah Krystal, beberapa saat yang lalu ia


menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat di taman.


Krystal menatap langit-langit hotel yang mewah itu, tangannya


mengusap dada, “Syukurlah.” Senyum itu terukir dengan indah.