
17 Februari 2020 adalah hari ulang tahun Krystal, di ulang tahunnya kali ini tidak ada yang special karena ia jauh dari papi dan maminya.
Papi Krystal yang bernama Teddy sekaligus dokter yang membantu penanganan kemahilan Kanaya, ada di inggris. Sedangkan maminya yang bernama Laura sedang sibuk dengan bisnis besarnya di Jerman, pagi itu Krystal tak ada habis-habisnya menghela nafas, membosankan.
“Oeeekk... oeeeek...” tangisan Olivia memaksanya untuk bangun, “Cup.. cup.. cup..
Keponakan bibi.. eh, bukan.. maksudnya keponakan kakak.. tenang ya...”
“Kakak..?” Imbuh Rendra yang sejak tadi memperhatikannya.
“Ya tentu saja.. aku masih muda, meskipun aku sudah punya keponakan tapi aku juga masih cantik..” Krystal menggendong Olivia dan berusaha mendiamkannya.
Rendra menghela nafas sembari menggeleng, “Pergilah.. Berikan Olivia padaku..”
“Pergi..? Kemana..?”
“Diluar ada yang sedang menunggumu.. Kau mau pergi atau tidak bibi Krystal..” Rendra terkekeh melihat responnya.
***
Di ruang tamu ia melihat Louhan sedang duduk santai sembari memainkan ponselnya.
“Louhan...!” Sapa Krystal yang ikut duduk di sebelahnya, “Tumben pagi-pagi kemari, ada perlu?”
Louhan mengangguk dan memandanginya, “Ikut denganku..”
“Kemana?”
Louhan tidak menjawabnya dan langsung menggandeng tangan Krystal membawanya menuju mobil lamborghini biru.
“Kita mau kemana?”
“Masuklah, kau akan tahu setelah kita sampai.”
Setelah masuk kedalam mobil tak lama kemudian merekapun sampai di sebuah taman yang tak asing.
Krystal mengelilingkan pandangannya, I.. Ini kan..?!” ia memandangi Louhan yang tersenyum padanya sembari mengangguk.
“Ayo turun ada yang ingin kutunjukan padamu..”
Krystal mengikuti langkah kaki Louhan dengan baik hingga sampailah mereka ditempat pertama kali bertemu.
Ditempat itu ada banyak sekali pengunjung, satu suara nyaring dari mulut Louhan membuat semua mata tertuju padanya. “Apa yang kau lakukan..? Kita jadi pusat perhatian..” Lirih Krystal yang wajahnya bersemu merah.
Louhan berlutut dan mengeluarkan kotak cincin, perlahan ia membukanya. “Do you will marry me?”
Semua orang yang ada disitu bersorak riang, “Terima....”
“Terima saja nona cantik..”
Krystal sungguh tak menyangka ia akan mendapatkan kado terindah di hari
ulangtahunnya, tanpa berfikir panjang Krystal mengangguk menerima lamaran romantis itu.
Semua orang bertepuk tangan, sorak sorai meramaikan pemandangan yang tak biasa itu.
Louhan menyematkan cincin berlian itu di jari manis Krystal, warnanya senada dengan warna kulit Krystal yang putih bak susu.
“Aku mencintaimu...”
Krystal tersenyum tersipu malu.. ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sejak Louhan mengungkapkan rasa cintanya, Krystal hanya diam..
“Kau tidak menyukainya?”
“Lalu.. kenapa dari tadi diam?”
Krsytal tertawa kecil, kemuadian ia berjinjit untku menggapai wajah Louhan dan mencium bibirnya tanpa memperdulikan lagi pemandangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
***
Louhan membawanya ke hotel berlin, mereka berdua berada di sebuah kamar VVIP, akibat hujan deras yang mengguyur benar-benar membuat baju mereka basah.
Krystal merintih kedinginan, perlahan ia mendekat dan memeluk Louhan lalu kembali mencium bibirnya seolah tak puas disitu Krystal mulai mencium lehernya.
Louhan menahannya dan mengambil sedikit jarak diantara mereka, “Apa yang kau lakukan?”
“Aku kedinginan...”
“Mandilah dengan air hangat, aku akan membelikanmu pakaian hangat dan –“
Krystal kembali menyambar bibir Louhan dan membuatnya rebah diatas tubuh Krystal.
Kegilaannya membuat gairah Louhan bangkit ia pun merespon setiap sentuhan yang diberikan Krystal.
“Kau milikku..” Imbuh Louhan sembari merobek pakaian Krystal.
Seluruh tubuh Krystal dipenuhi kiss mark, belum puas disitu Louhan merobek cd berwarna pink itu dan perlahan menurunkan sleting celananya, “Kau benar-benar siap?”
Krystal mengangguk, wajahnya menjadi semakin merah. Ia malu karena ini adalah pengalaman pertamanya dan Louhan adalah pria pertama yang melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang.
Krystal membelalak saat ia merasakan kejantanan Louhan menyeruak masuk kedalam kewanitaannya, tak kuasa menahan rasa sakit itu iapun menangis, meremas kuat pundak Louhan dan mencakarnya.
“Tenanglah.. Tahan sebentar...” Imbuh Louhan yang sesekali ******* bibir Krystal.
***
Entah berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk percintaan itu, Louhan mengerang penuh kenikmatan saat cairan kental itu mengalir kedalam tubuh Krystal melalui kewanitaannya.
“Bagaimana..?” Imbuh Krystal menahan sakit di area kewanitaannya itu.
Louhan mengangguk, “Aku menyukainya.. Malam ini aku akan datang untuk memintamu pada Rendra.” Segera Louhan memakai pakaiannya kembali lengkap seperti semula, “Istirahatlah.. yang barusan pasti tidak akan mudah..”
Malam yang dijanjikannyapun tiba, Louhan sudah duduk berhadapan dengan Rendra diruang tamu. Wajahnya terlihat begitu tegang.
“Tolong beri kami restu..”
Rendra mengangkat satu alisnya, “Hm... Memangnya apa yang kau miliki sehingga berani meminta adikku?”
“Aku mencintainya.. aku sangat mencintainya..”
“Cinta..? Jangan membuatku tertawa, kau fikir hanya dengan cinta kau bisa menghidupinya..” Rendra terkekeh kemudian bertepuk tangan.
Louhan tetap pada keputusannya untuk menikahi Krystal ia tidak peduli dengan penolakan Rendra.
“Kenapa tidak kau lakukan sejak dulu?” Imbuh Rendra sembari tersenyum..
Terlihat ekspresi bingung diwajah Louhan, ia diam sejenak kemudian menghela nafas, “Saat itu aku belum yakin, tapi... sekarang aku sangat yakin ingin menikahinya.”
“Hm.. baiklah, aku ingin kalian menikah secepatnya.”
Mendengar perbincangan mereka membuat Krystal tak henti-hentinya berjingkrak, “Krystal.. hati-hati..” Imbuh Kanaya.
“Kakak ipar...” Krystal memeluknya dengan penuh kegirangan.
“Selamat ya...”