
Satu bulan sejak menikah Viona merasa tidak
nyaman dibagian perutnya, ia juga merasa mual ingin muntah.
“Sayang.. Kamu kenapa?” Tristan menghampirinya dan menyibak pelan rambut Viona.
“Tidak apa-apa hanya mual saja..”
“Mual?”
Tristan merenung sejenak sembari memegang dagu, kemudian berdecak senang,
“Jangan-jangan kamu hamil..” Imbuhnya dengan girang dan memeluk Viona mencium
keningnya.
“Ha-hamil..?”
Ucapnya dengan lirih, nanarnya terlihat sendu.
“Kenapa?
Kamu tidak ingin memilik anak denganku?” Kalimat itu terdengar seperti orang
yang sedang kecewa. Tristan melepaskan pelukannya.
Viona menggeleng, “Bukan tidak ingin.. Tapi aku takut tubuhku melar dan kau akan
mencari yang lainnya... Peft.... Hehehe....”
“Hm....”
Tristan menyipitkan matanya dan memijit hidung Viona, “Lihat siapa yang
mengajarimu berani membuat prank seperti itu..”
Viona memeluk suaminya, “Maaf ya sayang...”
“Permisi, tuan..” Bi Sri mengetuk pintu kamarnya dan memberinya sebuah dokumen.
“Terimakasih bi...” Tristan membuka map folio itu, “London?!”
“Kenapa...?”
“Mereka menyetujui pembangun gedung itu, dan ingin segera mengadakan investasi tapi
kenapa harus di London...? Bukankah mereka punya kantor cabang di negara ini?”
“Tidak apa-apa, pergi saja....”
“Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian?”
Viona mengangguk, “Emh... ada bi Sri juga kan dirumah jadi aku aman.”
Tristan menghelan nafas pelan, “Baiklah...” kemudian ia mengelus lembut perut Viona,
“Jaga bundamu baik-baik ya sampai ayah pulang..”
***
Dua hari semenjak kepergian Tristan ke London, suasana rumah lebih hening dari
biasanya, malam itu anginnya terasa lebih dingin..
Dengan rasa ngantuk yang berat Viona menarik selimutnya namun selimut itu seperti
tertahan, “Berat...” Lirihnya dengan suara parau.
Ia merasa perlahan ada tangan yang meraba
sekujur tubuhnya, sesaat Viona merinding dan terbelalak, ekspresinya begitu
shock saat ia melihat Bima sudah ada di atas tubuhnya, “Kau..!”
“Kenapa kaget?” Tangannya mulai meremas perut Viona.
Dengan cepat Viona menepis tangannya, “Jangan..!”
“Kenapa aku tidak boleh membelai perutmu?” Bima menyeringai, “Ku harap apa yang
Viona memalingkan wajahnya sembari menggigit bibir bawahnya, “Ku mohon jangan..”
“Hm....?
Kau hamil.... katakan anak ini milikku atau miliknya?”
Viona hanya diam dan memejamkan matanya, air matanya menderai tak terbendung... "Anak ini milikku dan juga Tristan.."
Melihatnya seperti itu Bima tersenyum puas, “Milik siapapun jangan khawatir
sayang, malam ini aku tidak akan menggila seperti sebelumnya.”
Perlahan Bima mencium kening Viona, kemudian ciuman itu berbuntut hingga akhirnya wajah
Bima sampai diatas perut wanitanya, “Kau milikku...” Bima mengusap dan mengecup
lembut perutnya.
Tangan Bima melucuti semua pakaian Viona, “Tidak ada perlawanan? Bagus sekali, menjadi
wanitaku haruslah penurut. Jangan lupa, aku yang membantunya mendapatkan proyek
itu,”
“Apakah London juga merupakan bagian dari rencanamu..?” Viona meremas seprai itu merasakan
kejantanan Bima menyeruak masuk kedalam kewanitaannya untuk yang kesekian
kalinya.
“Menurutmu?
Aku hanya tidak ingin anakmu hidup terlantar dan kekurangan.”
“Emhh..
Ah... Bi-Bima, perutku keram sekali...” Rintih Viona.
“Tahan sebentar...” Bima semakin intens mencumbuinya.
Viona menggeleng dan memukul dada bidangnya dengan kuat, Bima hanya tersenyum
melihatnya.
15 menit kemudian Bima mengeluarkan cairan kentalnya didalam kewanitaan Viona,
nafasnya terdengar begitu puas setelah sekian lama tak mencumbuinya.
Bima memposisikan Viona duduk diatas pangkuannya dengan tubuh telanjang, ia membelai
lembut rambut Viona, “Kenapa kau begitu menggoda...?”
Viona hanya diam memandanginya, “Kau sudah menjadi milikku seutuhnya.” Lanjut Bima
dan kembali menidurkannya tepat dibawah tubuhnya, “AKu sangat mencintaimu.”
Viona menggeleng, “Kau benar-benar berengsek, padahal aku ini adik iparmu tapi kau
masih berani menyentuhku dan mengancamku dengan proyek itu..!”
Bima kembali memasukan kejantanannya, “Bukankah itu menyenangkan? Mengancam dirimu
dengan proyek itu dan aku bisa menikmati tubuhmu ini. Kau sendiri tak akan
mampu membayangkan bagaimana nasibnya, perusahan, dan karyawannya jika dia
gagal mendapatkan proyek dan investasi itu..”
Viona terkekeh geli, “Meskipun aku mati aku akan tetap membencimu.. bahkan
dikehidupan selanjutnya aku akan lebih membencimu.”
Bima tersenyum puas mendengarnya, “Terimakasih sayang, aku anggap itu sebagai
motivasi untukku...”