MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XXXIV - ANTARA PUPUS DAN HARAPAN



Kemacetan dijalan itu semakin panjang membuat Rendra tak sabaran, segera ia keluar dari mobil dan menggendong Kanaya dengan setengah berlari, Meskipun harus merangkak aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu dan anak kita.


Keadaan itu semakin membuat Louhan dan Krystal panik, merekapun ikut mengejar Rendra.


Beruntung ditengah jalan mereka bertemu Seihan. “Rendra..!” ia bergegas menghampiri


Rendra, “Apa yang terjadi..?”


Rendra berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal, “Sepertinya


kakak ipar akan melahirkan.” Sahut krystal yang tak lama menyusul mereka.


“Apa?!”


Seihan terkejut mendengarnya, tidak mungkin Rendra akan membawanya seperti itu.


Jaraknya dengan rumah sakit masih puluhan kilometer, “Kau gila.. membawanya


seperti itu akan memakan waktu, kita ke kerumah sakitku saja.”


Rendra mengangguk, ia bersyukur sekali memiliki teman sepertinya.


***


Instalasi Gawat Darurat.. Kanaya semakin mengerang kesakitan ia membuang apapun yang ada


di dekatnya, termasuk selimut yang menutupi tubuhnya. Ia semakin terisak


merasakan kesakitan itu.


Seihan menjelaskan prosedur yang akan dijalani Kanaya mengingat kandungannya


sejak awal bermasalah, “Kau mengerti sekarang...!?”


Rendra terdiam membeku lidahnya begitu kelu saat perawat menyodorkannya berkas persejutuan untuk oprasi sesar dengan resiko yang tak sanggup ia tanggung.


“Tandatangani sekarang, dan kami akan berusaha melakukan yang terbaik.”


Tanpa sadar Rendra melayangkan pukulan tepat diwajah Seihan, “Berusaha....? Kau


hanya akan berusaha..? Hm...! Jangan membuatku tertawa..!”


Seihan tak berdiam diri iapun membalas pukulan itu, “Jangan bodoh..! Berfikirlah secara logis.. bukankah dari awal kau sudah tahu kandungannya bermasalah..?”  Seihan menarik kerah kemeja Rendra


dengan Kuat dan menatapnya tajam, “Lihat baik-baik..” imbuhnya dengan intonasi yang


sangat tinggi sembari telunjuknya tertuju pada Kanaya yang tengah kesakitan.


Rendra terbelalak, ia sadar telah melakukan tindakan bodoh dan mengabaikan


keselamatan Kanaya.


“Kakak....” Suara itu terdengar bergetar.


Dipandanginya Krystal yang sedang menangis, kemudian ia menatap Louhan yang mengangguk memberinya isyarat untuk menerima semua prosedurnya.


Rendra  mengepalkan tangannya dengan erat, ia tertunduk memejamkan matanya sembari menghela nafas, “Baiklah... Lakukan yang terbaik..”


Seihan mengangguk tersenyum.


***


tenang. Sesekali ia juga meremas rambutnya,


“Kakak... Tenanglah, kami juga khawatir dengan kondisi kakak ipar..” Krystal menghampiri Rendra


dan memeluknya.


“Kakak tidak akan memaafkan diri kakak sendiri jika hal buruk terjadi padanya.”


“Kakak...” Krystal menggeleng mengusap lembut wajah Rendra, “Percayalah kakak


ipar akan baik-baik saja, kita tahu dia wanita yang kuat.”


Tak lama kemudian pintu ruang oprasi terbuka, mereka terkejut melihat dua orang suster


berlarian.. “Suster Ana cepat hubungi bank darah, pasien semakin keritis. Aku akan meminta


bantuan yang lainnya.”


Deg!


Jantung Rendra siap ambruk, ia terbelalak seketika tubuhnya terhuyung lemas


bringsut dilantai.


Mendengar hal itu Krystal tak kuasa menahan tangisnya ia menghambur diri di pelukan Louhan, “Tidak adakah yang bisa kita lakukan..?” Tangisannya semakin nyaring.


Louhan membelai lembut rambut Krystal


dan berusaha menenangkannya, “Tuan...”


Rendra merespon panggilannya namun dengan


tatapan kosong, “Apa golongan  darah nyonya Kanaya..”


“O Resus negative..”


Louhan tersenyum, “Aku akan mendonorkan darahku..”


Rendra tak kuasa menahan tangisannya, ia benar-benar berterimakasih padanya, ia


sangat bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik seperti mereka.


Sembari Louhan mendonorkan darahnya, terdengar beberapa langkah kaki yang


berlarian dengan irama yang tidak teratur.


“Rendra....!” Jordy mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. Begitu juga


dengan Miranda.


“Kanaya... Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa seperti itu..” Imbuh Miranda yang


tak kalah cemas.


Nanar sendu itu menatap mereka, ia bingung harus mengatakannya dari mana.