
“Tidak ada yang tertinggal?” Ucap Rendra sembari menyalakan mobilnya.
“Tidak ada..” Ucap Kanaya dan Krystal secara bersamaan.
“Kakak, papi bilang dia akan datang lusa.”
“Hm.. Benarkah?”
“Ya... Kakak ipar kapan akan usg? Bukankah ini sudah jadwalnya kakak ipar untuk usg kan?”
Kanaya mengangguk, “Kakakmu masih sibuk, belum ada waktu untuk menemaniku.”
Krystal menjewer telinga Rendra, “Kakak, kau kejam sekali.”
Rendra menepis tangan Krystal, “Besok aku akan mengambil cuti jadi aku bisa menemanimu
untuk usg.” Imbuh Rendra sembari mengelus perut Kanaya yang mulai terlihat.
***
“Maaf, kami baru sempat hadir di acara resepsimu. Pekerjaanku sangat menumpuk.” Keluh
Rendra sembari menjabat tangan Jordy.
Jordy menggeleng, “Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti posisimu. Ngomong-ngomong
selamat ya sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah.”
Rendra mengangguk dan tersenyum, “Terimakasih, kau juga cepatlah menyusul.”
“Kanaya..”
Miranda mengelus lembut perut buncitnya, “Sekarang kau sudah hamil betapa
bahagianya, sudah berapa bulan?”
Kanaya tersenyum, “Minggu ini masuk bulan ke empat.”
“Wah, lima bulan lagi keponakanku akan lahir.”
***
Di sudut kanan Krystal sedang berbincang-bincang dengan Louhan, mereka terlihat
begitu akrab.
“Mau berdansa denganku?” Louhan mengulurkan tangannya dan berhasil membuat Krystal
tersipu malu.
Krystal mengangguk dan tersenyum, “Tapi aku tidak hebat berdansa.”
Louhan menggeleng, “Jangan hawatir, aku ada di sisimu.”
Kembali ke flat dimana Kanaya dan Miranda sedang asyik mengobrol, “Katakan bagaimana
rasanya malam pertama?” bisik Miranda yang terlihat malu-malu bertanya.
Kanaya tersenyum malu dan membisikinya, “Tidak sakit, jangan khawatir. Pria tahu
bagaimana caranya membuat wanita bahagia di malam pertama.”
“Hm... Benarkah?”
Kanaya mengangguk, “Hm...”
***
Malam pertama kedua pasangan itupun tiba, Miranda begitu bersemangat setelah
mendengar pengalaman di malam pertama Kanaya.
“Kenapa? Malam ini kau sangat bersemangat..” Jordy memeluknya dengan erat.
Miranda menggeleng, “Kau juga malam ini sangat bersemangat.”
“Benarkah?”
Miranda mengangguk, “Emh...”
Jordy merebahkan Miranda yang terbaring tepat di bawah tubuhnya, “Malam ini akan
menjadi malam yang sangat panjang.”
Glek...
Miranda menelan ludah, kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher Jordy, “Aku
sangat mencintaimu.”
Jordy tersenyum, “Begitu juga denganku.”
Perlahan Jordy membuka pakaiannya begitu juga dengan Miranda.
Ciuman itu dimulai dari kening Miranda, bibir, dan kemudian menyusuri leher
jenjangnya.
“Eemh.....”
Suara Miranda terdengar sexy.
Tangan Jordy perlahan meremas gundukan itu, bagian kewanitaan Miranda serasa berdenyut
dan ngilu.
Jordy membuka kedua pahanya dan perlahan menempelkan kejantanannya di kewanitaan
Miranda, “Kau milikku.” Tegas Jordy sembari mendorong masuk kejantanannya
dengan kuat.
Miranda terbelalak dan tanpa sadar mencengkram lalu mencakar dada bidang Jordy,
“Sakit!” Teriaknya.
Air matanya menetes tak terbendung, Kanaya.....
Kenapa kau bilang rasanya tidak sakit! Batin Miranda menjerit-jerit.
“Sa-sakit sekali..” Miranda semakin kuat meremas lengan suaminya.
Jordy menggeleng, “Sempit sekali sayang, tahan sebentar. Aku akan memasukannya lebih
dalam.”
Miranda menggeleng dan mendorong pelan tubuh Jordy agar menjauh darinya, “Eemh...
Tidak, kita tunda dulu. Kewanitaanku sangat sakit.”
tak mungkin juga rasanya jika dirinya terus memaksakan kehendaknya untuk terus
mencumbui istrinya.
“Hm.. Baiklah.”
Terlihat ekspresi kecewa di wajah Jordy, Miranda menyeka air matanya kemudian segera
merangkul suaminya dan melumat bibirnya.
Jordy terkejut, dan melepaskan ciuman itu, “Istirahatlah...”
Miranda menggeleng, “Tidak, sebelum kau berhasil melakukannya.”
“Kau yakin tidak ingin istirahat?”
“Ya aku sangat yakin, aku sudah cukup istirahat.”
Jordy mengangguk tersenyum, “Baiklah, sayang..” Ia kembali memulai aktifitasnya dan lagi untuk yang kesekian kalinya Miranda merintih kesakitan, ia meremas seprai putihnya hingga jemarinya memutih.
“Ah..!”
Suara pekikian itu keluar dari mulut Miranda, kedua matanya terpejam menahan
sakit.
Sementara itu Jordy menghembuskan nafas dengan puasnya, “Kau sangat sempit, sayang.”
Miranda tersipu malu, “Aku milikmu.”
“Tentu...”
Mereka berduapun terus larut dalam kenikmatan itu.
***
Siang hari Rendra menemani istrinya untuk usg di rumah sakit, “Dokter bagaimana
hasilnya?”
Vivi sedang fokus memeriksa kandungan Kanaya, “Hasilnya bagus, nona Kanaya apakah
kau masih mual?”
Kanaya perlahan duduk dan merapikan bajunya, “Ya masih tapi di saat tertentu saja.”
“Tidak apa-apa, hal itu memang biasa terjadi pada masa kehamilan trimester pertama.”
Kanaya mengangguk, “Dokter apakah jenis kelaminnya sudah bisa diketahui?” Imbuh
Rendra.
Vivi menggeleng, “Aku ragu.”
Kanaya dan Rendra saling melempar pandangan, “Maksudmu?” Rendra menatap Vivi dengan
setengah marah.
“Di lihat dari hasil usg nya, sepertinya ada dua jenis kelamin. Hm.. Kemungkinan
bayinya kembar 80%.”
Kanaya terkejut bahagia, “Benarkah? Bayiku kembar?”
“Kita belum bisa memastikannya, nanti akan kubuatkan jadwal untuk usg selanjutnya
agar kita bisa memastikan jenis kelaminnya, dan kemungkinannya apakah bayi itu
kembar.”
***
Sesampainya di rumah Rendra memeluk erat Kanaya dari belakang, “Pelukanmu terlalu erat.”
“Kenapa.. tidak suka?” Rendra mencium pundaknya.
Kanaya menggeleng, “Tidak bukan itu maksudku, aku hanya takut bayinya merasa sesak di
dalam.” Kanaya mengelus perutnya.
Rendra menghela nafas, “Aku tidak sampai hati akan menyakiti darah dagingku sendiri.
Kau bahagia hidup bersamaku?”
“Tentu, kenapa tidak?” Kanaya berbalik dan menatap wajah suaminya, “Kenapa pertanyaanmu
seperti itu?” Kanaya merapikan rambut Rendra.
“Karena kau selalu marah jika aku mengganggumu, moodmu berubah dengan cepat semenjak
kau mengandung anakku.”
“Hm..?”
Kanaya setengah memiringkan kepalanya dan terkekeh.
“Kau tertawa..? Apanya yang lucu..!?” Rendra mengerucutkan bibir sembari memalingkan
wajahnya.
“Hihihi....
Tidak kusangka seorang Rendra Xing, pria yang dikenal kejam dalam dunia bisnis yang
sanggup menghancurkan apapun yang tidak disukainya ternyata kau juga memiliki
sisi imut yang seperti ini, hahaha...” Kanaya tak bisa menahan tawanya.
“Tidak lucu!” Bentak Rendra.
Kanaya terkejut, “Aw...” Tangannya meremas dengan erat.
Seketika amarah Rendra menghilang, “Kenapa?” Imbuhnya dengan penuh perhatian dan
mengelus perut Kanaya.
Kanaya menggeleng, “Emh.. Kenapa membentakku?” Air mata Kanaya menetes jatuh tepat di
atas tangan Rendra.
Katakan, apakah ini masih disebut dengan bawaan bayi? Rendra menghela nafas, “Maafkan aku
sayang, aku tidak bermaksud seperti itu.” Rendra menyeka air matanya dan
mencium keningnya.