MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XVII - RENCANA REUNIAN KAMPUS



Setelah kembali dari desa X, sepasang suami istri itupun kembali melakukan aktifitasnya


masing-masing.


Seperti biasa Kanaya melakukan pekerjaan ibu rumah tangga sama seperti istri-istri lain


pada umumnya.


Mulai dari memasak, membersihkan serta membereskan rumah, mencuci piring, mencuci


baju, meskipun mereka memiliki banyak pelayan dengan tugasnya masing-masing


tetapi Rendra tak pernah melarangnya untuk melakukan pekerjaan itu.


Rendra tak menginginkan status suami dari istri yang bisanya hanya menyandang nama dan


hebat dalam urusan ranjang.


Namun pintar menjalankan tugas ibu rumah tangga, istri, dan kapan harus membagi


waktunya sebagai istri dari CEO ia haruslah tahu.


Pagi ini Kanaya memasak kari spesial, dia juga menyiapkan bekal makan siang untuk


suaminya. “Masakanmu kali ini enak.” Puji Rendra.


“Kali ini? Hanya kali ini?” Tanya Kanaya sembari menyendok nasi dan lauk ke piringnya


sendiri.


“Hm... Cepat makan, jangan banyak bicara."


Banyak bicara? Kau sendiri yang


mengajakku mengobrolkan?! Kanaya menatap kesal.


***


Usai mengerjakan semua tugas rumah tangga, Kanaya beristirahat sejenak sembari


nonton tv dan makan cemilan.


Tring...!


Notifikasi masuk di ponselnya, segera Kanaya membuka chat itu.


“Hm..!? Group fakultas S?”


Pesan pembuka....


“Hai teman-teman, minggu depan kita akan mengadakan reunian di fakultas S. Pastikan


kalian datang dengan membawa pasangan masing-masing, ok?” Indira.


Satu persatu dari anggota group itu membalasnya, dan mereka setuju untuk datang ke


reunian. Terkecuali Kanaya, ia masih menatap semua isi chat itu dan menghela nafas, “Reuni dan


membawa pasangan masing-masing? Apakah dia mau pergi ke acara seperti itu?”


Kanaya merebahkan dirinya di atas sofa ungu itu, dan memejamkan mata.


***


Jam lima sore, setelah menyelesaikan pekerjaan Rendra bergegas pulang.


Di parkiran mobil ia bertemu dengan adik sepupunya,  “Kakak.....!” Teriaknya manja.


“Krystal...? Kenapa tidak langsung kerumah, tapi malah kesini.”


“Kakak, ini.” Krystal memberinya sebuah kado.


Rendra hendak mengambil kado itu namun dengan cepat Krystal menariknya kembali, “Aku


bohong hehehe, hadiah ini untuk kakak ipar.”


Rendra menghela nafas dan memegang kepalanya seperti orang yang sedang sakit kepala,


“Cepat masuk ke mobil.”


Krystal mengangguk, “Ok, kakak ku yang tampan.”


Sepanjang perjalanan pulang Krystal tak berhenti mengoceh, apapun akan di ceritakannya


tanpa memperdulikan lawan bicaranya apakah orang itu akan suka atau tidak saat


mendengar ocehan bak dongeng sebelum tidur malam.


***


“Kita sudah sampai.”


sekarang suasananya benar-benar berbeda.”


“Masih tidak turun?!” Imbuh Rendra dengan ketus.


Krystal menghela nafas, “Hah, kakak ini. Membosankan awas saja akan ku adukan ke papi


kalau kakak menyambutku dengan sangat tidak baik.”


“Tentu, dan aku akan menendangmu kembali ke Jerman jika kau tidak turun dari mobil,


sekarang.” Rendra menatapnya dengan tajam.


“Ya, ya baiklah aku turun.”


Ting tong......


Kanaya membuka pintu, “Kakak ipaaar....” Teriak Krystal sembari menghambur diri di


pelukan Kanaya.


Kanaya terlihat bingung dan menatap suaminya dengan isyarat siapa dia?


Rendra masuk kedalam rumah dan melepas jas serta melonggarkan dasi yang membuatnya


seakan-akan sesak nafas. Rendra duduk dengan santai di sofa dan meletakkan


ponselnya di atas meja, “Krystal, adik sepupuku.”


“Oh, jadi namamu Krystal ya..!”


Krystal melepaskan pelukannya dan ikut duduk disebelah Rendra, “Ya, namaku Krystal Lin.


Kakak tak kusangka kau lebih cantik dari foto yang di –“ Kedua mata Rendra terbelalak dan segera menutup mulut Krystal dengan cepat.


“Foto apa?” Sahut Kanaya bingung.


Rendra mengarahkan padangan Krystal padanya dan menatapnya dengan tajam seolah-olah


mata itu sedang berkata diam dan jangan katakan apapun.


“Krystal, Rendra..? Kalian kenapa?” Imbuh Kanaya yang berjalan mendekat ke arah mereka


berdua.


Segera Rendra melepaskan bungkaman tangannya dari mulut krystal.


Krystal menggeleng dan mengalihkan pembicaraannya, “Haha, ya maksudku foto pernikahan


kalian.”


“Oh, itu.. Kau bisa saja. Oh ya Rendra ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”


Mata Rendra menatap Krystal dan mengisyaratkannya untuk pergi.


“Kakak, di dapur ada maakanan apa? Aku lapar.” Krystal segera pergi menuju dapur.


***


Kanaya menceritakan perihal rencana reuniannya di kampus bersama teman-teman kuliahnya


dulu di fakultas S, “Jadi, apakah kau bisa ikut hadir?” Tanya Kanaya dengan


penuh harapan.


Rendra menghela nafas, “Kenapa tidak!? Tentu saja aku akan hadir menemanimu. Tapi


sebelumnya ada yang harus kau lakukan.”


“Apa?”


Tiba-tiba saja Rendra menggendongnya menuju kamar, Kanaya hanya menelan ludah sesaat setelah


tahu maksud dari ada yang harus dilakukannya, wajahnya merona.


“Rendra...”


Panggilnya dengan suara lemah lembut.


“Hm? Nanti saja bicaranya, aku sedang fokus.”


Kanaya mengangguk.


Malam masih panjang dan berlalu dengan penuh kenikmatan, mereka berdua melalui malam


itu dengan hikmat tanpa gangguan.