MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XIX - MAKAN MALAM



“Kakak ipar...” Krystal datang  membawa beberapa


belanjaan.


Kanaya setengah terkejut melihatnya begitu bersemangat, “Krystal..? Banyak sekali,


tamu kita hanya dua orang loh..”


Krystal menggeleng, “Semuanya terlihat enak dan menggiurkan jadi aku membeli semuanya.


Oh ya dimana kakak Rendra?”


“Dia ada di ruangan kerjanya. Emh, bisa tolong antarkan teh dan cemilan ini


untuknya?” Pinta Kanaya yang masih sibuk memotong sayur.


Krystal mengangguk, “Ok, siap kakak iparku yang cantik.”


Tok tok..


“Kakak....!”


Krystal memanggilnya dengan lantang membuat telinga Rendra sakit.


Rendra yang sedang fokus membacapun segera menutup buku itu dan meletakkannya kembali


di rak buku.


Rendra menghela nafas, “Bisa kau kecilkan volume suaramu?”


“Hah? Suaraku itu merdu, kakak ipar saja tidak pernah marah.” Krystal meletakkan


nampan itu di atas meja.


Rendra hanya menatap teh dan cemilannya.


“Kenapa?


Kakak tidak ingin menyentuhnya ya karena bukan kakak ipar yang membawanya? Ya


sudah, aku saja yang memakannya.”


Belum sempat cemilan itu masuk ke dalam mulut Krystal, Rendra menyambar cemilan itu


dengan sekali lahap.


“Dia membuatnya untukku, jika kau punya waktu untuk bersantai lebih baik kau


membantunya di dapur.” Imbuh Rendra.


“Hm!!” Krystal memalingkan wajahnya dengan kesal, melihat hal seperti itu membuat


Rendra semakin emosi.


Segera Rendra mengambil ponselnya dan pura-pura menelfon, “Lou, kau sudah sampai? Oh


setengah jam lagi? Ya baiklah. Sore ini istriku memasak banyak makanan, apa..?


Kau ingin tart cream blue sebagai makanan penutup?! Tapi istriku tidak bisa


membuatnya. Maaf Lou sayang sekali tapi –“


Krystal beranjak senang dan memberinya isyarat jika dirinyalah yang akan membuat


hidangan penutup.


Rendra mengangguk, melihat respon itu Krystal berjingrak senang segera ia memakai


celemek dan mulai membuat tart kesukaan Louhan.


“Kau membuat tart?” Kanaya terlihat bingung, di lihatnya Rendra berdiri di pintu


tengah menuju dapur dan menaruh jari telunjuknya di bibir sembari memainkan


mata, mengisyaratkannya untuk diam.


Kanaya yang mengerti maksudnya langung mengangguk.


***


masakan itu tak ada satupun yang tersisa.


Mereka semua makan dengan lahap. Melihat suasana rumah yang ramai dan hangat seperti


itu Rendra berdehem dan memberi kode kepada Krystal.


“Semuanya tunggu sebentar, aku punya makanan penutup untuk kalian.” Krystal membuka


kulkas dan mengeluarkan tart itu.


Louhan sedikit terkejut melihatnya, Dia tahu aku


menyukai tart cream blue? Tapi dari siapa? Louhan menatap bingung ke arah


Rendra dan hanya di balas senyuman darinya.


Krystal meletakkan tart itu di atas meja dan memotongnya menjadi beberapa bagian,


wajahnya merona saat memberikan potongan tart itu pada Louhan, “I-ini.”


“Terimakasih.”


Louhan menyantap tart itu dan ia sangat menyukainya. Rasa tart itu sedikit


berbeda dari yang sering dimakannya, namun dari segi rasa tart ini jauh lebih


enak, “Rasanya sangat enak.” Imbuhnya.


“Be-benarkah?


Itu, itu..” Krystal menjadi gugup.


“Tart itu Krystal sendiri yang membuatnya.” Imbuh Kanaya.


Krystal terkejut dan malu, “Kakak ipar..” Lirihnya, Krystal menggeleng.


Kanaya melempar senyum padanya.


“Benarkah?


Lain kali kau harus mengajariku cara membuatnya.” Ujar Louhan


Krystal mengangguk, tersipu malu.


***


Makan malam telah usai dan tamu spesial itu juga sudah pulang, Krystal sangat girang


Louhan memuji rasa tart buatannya.


Krystal merebahkan tubuh di atas spring bed menatap langit-langit kamarnya sembari


memegang dada kirinya yang semakin kuat berdetak.


“Fyuh....!”


Krystal menghela nafas, “Apakah ini yang namanya jatuh cinta?” Krystal


menggeleng dan menepuk-nepuk wajahnya, “Mikir apaan sih aku?”


Sementara itu dalam perjalanan pulang


menuju apartemen, “Apakah dia pacarmu?”


Pertanyaan itu mendadak membuyarkan fikiran


Louhan yang sedang fokus menyetir.


“Apa yang ayah katakan? Dia bukan pacarku.”


“Lalu?


Bagaimana bisa dia tahu tart kesukaanmu?” Ayahnya semakin penasaran.


Louhan hanya diam dan tetap fokus menyetir mobil~~~~.