MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XXIII - HARAPAN



Vivi meminta Rendra untuk ikut dengannya, Rendra mengikuti langkah kakinya dengan


baik.


Sesampainya di ruangan dokter, Vivi memberinya sebuah amplop folio, “Apa ini?!”


“Tuan itu adalah hasil dari pemeriksaan istrimu. Dengan kondisinya sekarang, sulit


untuk mempertahankan janin yang ada di dalam rahimnya.”


Rendra menggenggam erat amplop folio itu dengan geram, ia menggigit bibir bawahnya.


Rendra berusaha menenangkan dirinya perlahan menarik nafas dalam kemudian


menghembuskannya dengan cepat.


“Apakah rumah sakit ini tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya?”


Vivi menggeleng, “Maafkan kami tuan, kami sudah berusaha untuk melakukan yang


terbaik.”


Rendra memejamkan mata yang terlintas saat itu hanyalah senyuman Kanaya, “Hm...!”


Rendra tersenyum simpul.


“Ada apa?” Vivi memperhatikannya dengan heran.


Rendra membuka mata dan menggeleng, “Tidak ada apa-apa. Aku akan mengirimkan laporan ini ke inggris, mungkin pamanku bisa membantuku mencari jalan keluarnya.”


Vivi mengangguk, “Baiklah, aku akan mempersiapkan beberapa data-data yang mungkin bisa membantunya.”


Rendra mengangguk, “Terimakasih. Jika ini berhasil, aku akan menginvestasikan 40%


sahamku di rumah sakit ini”


***


Rendra kembali keruangan tempat istrinya di rawat, “Krystal... Kapan kau datang?!”


“Baru saja, kakak bagaimana hasilnya?”


Rendra menghela nafas dan menatap sendu ke arah Kanaya, saat itu Kanaya sudah pasrah


dan berusaha untuk menerima apapun keputusan Rendra sebagai suami dan calon


ayah dari janin yang ada di dalam rahimnya.


Rendra berjalan mendekati Kanaya dan memeluknya sembari berbisik, “Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kalian.”


Kanaya membalas pelukannya dan menangis bahagia, “Terimakasih.”


Rendra duduk dihadapannya kemudian menyeka air mata Kanaya, melihat pemandangan itu Krystal terharu dan tanpa sadar air matanya menetes.


Seseorang memberinya sapu tangan, “Terimakasih.” Krystal menggunakan sapu tangan itu untuk menyeka air matanya, sesaat ia tersadar sapu tangan? Dari siapa? Krystal memandangi Kanaya dan Rendra dengan heran seolah sedang bertanya dari siapa?!


Rendra memeberinya isyarat untuk melihat ke samping kanannya, jantung Krystal mendadak berdebar kencang.


Krystal mengambil satu langkah kebelakang kemudian berbalik dan berlari secepat mungkin tanpa mengetahui siapa orang itu, “Terimakasih.” Ucapnya sembari menahan malu.


Melihatnya bertingkah seperti itu Kanaya tak bisa menahan tawa, ia pun tertawa lepas. “Ada apa dengannya? Apakah dia benar-benar menyukai seseorang?”


Rendra menggeleng, “Entahlah, mungkin dia sedang tidak enak badan.”


“Hah?”


“Tuan nyonya maaf mengganggu sebentar, aku datang untuk memberikan hasil laporan


kesehatan nyonya.” Imbuh Febrian sekretaris baru Rendra. Louhan masih cuti dan untuk menggantikan semua pekerjaannya saat ini ialah Febrian yang memberi sapu tangan itu kepada Krystal.


***


menabrak seseorang, “Aduh..! Ma-maaf..” Kedua matanya terbelalak saat tahu yang


ia tabrak adalah Louhan.


Louhan mengulurkan tangan padanya, “Kau tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?”


Krystal mematung sejenak masih memutar otaknya, jika Louhan ada di sini lalu siapa yang


memberinya sapu tangan?


Jantungnya semakin berdebar kencang, Krystal mengangguk, “I-iya, aku.. aku tidak


apa-apa..”


“Louhan Yu...!” seorang wanita cantik yang menjadi teman kencan butanya mendekat, “Kita bertemu lagi.”


“Kau?”


Louhan sedikit lupa dengan kencan buta mereka.


“Ini..!” Wanita itu memberinya kartu nama.


“Angelin...!?”


Louhan menatapnya dengan heran.


“Jangan sampai lupa nama wanitamu sendiri.”


Deg!


Krystal terkejut dan mencubit pipinya berharap ini hanyalah mimpi, sakit!


Louhan menghela nafas dan membuang kartu nama itu.


“Kau!”


Angelin menjadi geram dan marah.


“Jangan salah faham, aku hanya tidak ingin merusak harga dirimu. Aku hanya bermaksud


menolongmu. Dan – “ Louhan mencium bibir Krystal, “Aku sudah punya kekasih.”


“Brengsek!”


Angelin hampir menampar Krystal, Louhan menarik Krystal kedalam pelukannya dan


menahan tangan Angelin.


***


Louhan memberi Krystal minuman segar, “Minumlah, kejadian tadi pasti membuatmu


terkejut.”


“Jantungku hampir copot!” krystal membuka penutup botol itu kemudian meneguk airnya, “Kau bercanda dengan ucapanmu barusan..?"


Louhan tersenyum, “Tidak..! Aku serius, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus ku


sampaikan kepada kakakmu.”


Krystal mengangguk, “Hm.. Baiklah...” Saat Krystal tersadar dari lamunannya Louhan


sudah pergi, “Eh! Apa katanya barusan? Tidak..! Aku serius....?” Krystal masih mencoba


mencerna kalimat Louhan yang baru saja di dengarnya.