MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE

MY PERFECT HUSBAND - TRUE LOVE
BAB XXXI - BIMA



 Hari ketiga semenjak kepergian Tristan, Bima menyusulnya ke London. Semua kebutuhan


yang ia perlukan telah dipersiapkan dengan sangat baik.


Bima membuka dompetnya didalamnya terselip foto Viona dan dirinya saat mereka masih duduk di bangku SMA.


Masih teringat jelas hubungan mereka berdua saat itu sangat baik bak romeo dan


juliet. Untuk memenuhi semua kebutuhan Viona apapun akan dilakukan Bima.


Namun saat perusahaan ayahnya bangkrut Viona menjauhinya dan tak butuh waktu lama


kisah cinta mereka berakhir.


Tahunpun berganti...


Dua semester akhir di universitas Viona bertemu Rendra, awalnya mereka adalah teman yang saling mendukung hingga tumbuh benih cinta diantara mereka, kisah itu


terus berlanjut dan kemudian berakhir setelah viona lulus dan memulai karirnya


di perusahaan Group Leng.


Enam bulan kemudian Tristan kembali setelah menyelesaikan kuliahnya, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ia adalah adik tiri Bima, yang lahir dari satu ayah


dan ibu yang berbeda.


Mereka tumbuh bersama dengan kasih sayang yang berbeda, Tristan selalu diperlakukan


bak pangeran yang dilimpahi cinta.


***


Pandangan pertama membuat Tristan jatuh cinta pada Viona, wanita itu sangat polos,


memakai makeup natural, dia juga wanita yang smart.


Semenjak bergabung di perusahaannya tingkat penjualan naik drastis, dari omset yang biasanya hanya berkisar di angka 80%, kini menjadi 200%.


Pria mana yang tak jatuh hati pada wanita seperti itu. Seiring berjalannya waktu


merekapun menjalin kasih asmara.


Mengetahui Tristan akan bertunangan dengan Viona yang tidak lain adalah mantan kekasih Bima, tentu saja sebagai kakak ia telah menyiapkan hadiah yang istimewa.


Hadiah itu ia simpan hingga tiba waktunya untuk memberikan hadiah tersebut.


***


Setelah menikahi Viona beberapa waktu belakangan ini Tristan sering mengeluh sakit,


entah sejak kapan rasa sakit itu melanda.


Tak ingin merepotkan istri tercinta Tristan membawa dirinya sendiri untuk


memeriksakan kesehatan di sebuah rumah sakit.


Ia menceritakan semua keluhannya, dokter mengatakan bahwa mereka butuh waktu untuk mengetahui penyebab sakit yang dirasakannya.


Dokter melakukan observasi lebih lanjut dan memeriksa kesehatan dengan lebih intens.


Setelah menunggu dengan sabar, jantung tristan berdegub kencang. Bola matanya menangkap ekspresi yang tidak biasa dari dokter itu.


“Dokter.. bagaimana hasil pemeriksaannya?”


Dokter itu menghela nafas berat, “Tuan mungkin ini akan mengejutkanmu...”


Tristan mengerutkan keningnya, “Katakan dengan jelas..”


“Tuan sakit yang anda alami ini merupakan gejala kemandulan.”


“Apa..!”


Tristan menyentak terkejut, “Bicara yang benar..” Tristan tak tahu lagi harus


mengekspresikan rasa yang ada di dalam hatinya, semuanya bercampur aduk.


***


asa.


Tristan mendadak membanting setir, mobil itu ia tepikan dipinggir pagar pembatas jalan,


lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan disusul helaan nafas yang panjang dan


berat.


Ia menundukan kepalanya diatas kemudi mobil, menangis dalam.. Aku mandul, haha.. yang benar saja..!


Seolah tak percaya Tristan mencoba memeriksakan dirinya dirumah sakit yang berbeda, dan semua hasil pemeriksaannya selalu sama.


Saat itu hidupnya benar-benar diambang keputus asaan, siang itu tak sengaja ia


melintasi sebuah vila mewah.


Vila yang begitu familiar, di garasi ada tiga mobil yang terparkir. Segera Tristan


keluar dari mobilnya dan masuk kedalam vila itu.


“Kakak...!”


Tristan melebarkan pandangannya kesana-kemari dan menemukan dua sosok wanita cantik dan sexy..


“Hm...!


Lihat pangeran telah datang..” Imbuh Bima acuh tak acuh kemduian ia meminum


anggur mahal itu.


“Ada hal penting yang perlu kita bicarakan..” Wajah Tristan mendadak serius.


“Bulshit! Keluar..” Pinta Bima sambil mengangkat telunjuknya mengarah ke pintu utama itu.


“Kak, please ini menyangkut masa depan Viona..”


Bima terdiam sejenak, “Kalian pergi dulu..”


Kedua wanita itu mengangguk dan mencium Bima silih berganti.


“Ikuti aku...” Bima menuntunnya ke balkon atas, tanpa banyak bertanya Tristan mengikuti langkah kakinya dengan baik.


Udara di lantai dua memang sangat menyejukan, pemandangannya juga sangat indah, “Cepat katakan...” Bima duduk dengan santai sembari menyalakan rokok.


“Tolong buat Viona hamil...” dengan segala kekuatan mental Tristan memberanikan dirinya meminta hal yang seberengsek itu kepada Bima.


Satu alis Bima terangkat keatas dan iapun tertawa lepas, “Hahahaha....” suara tawanya terdengar begitu nyaring dan menggema, “Sudah bosan?” Imbuhnya.


Dengan cepat Tristan menggeleng, “Aku mandul... Aku sangat mencintainya, tapi aku juga tidak bisa membuatnya kecewa.”


“Mudah.....!


Berlutut, dan jilat septuku..”


Tristan terbelalak, “Kak..!”


“Aku tidak punya adik, jadi jangan seenaknya memanggilku seperti itu..”


“Kak, please... sejak kecil aku tidak pernah menganggap punya kakak tiri, bagiku kau


adalah kakak kandungku.”


Bima menyeringai, “Lalu...?? tunggu apa lagi..” Bima meluruskan satu kakinya tepat


dihadapan Tristan.


Melihatnya yang masih tetap memaksa seperti itu Tristan tidak punya pilihan lain selain melakukan perintahnya barusan, “Ok... Setelah itu tepati janji kakak..”


“Tidak perlu khawatir, sejak awal Viona hanya milikku seorang.” Bima segera menarik


kakinya sebelum Tristan menjilati sepatunya.