My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
8.



Erin dan tim kerjanya sampai di Bali. Meeting dari pagi sampai jam 9malam. Tapi kegiatannya menyenangkan jadi tidak terasa capek. Vicky juga ke Bali di waktu yang sama dengan Erin. Setelah Erin beres meeting, Vicky selalu menemui Erin. Lumayan sejam dua jam juga pikir Vicky.


Di hari Minggu, seminar selesai jam 12 siang. Vicky dan Erin ke rumah Vicky disana. Erin menaruh barang barangnya di kamar. Kamar Vicky ada di sebelahnya. Setelah itu mereka pergi makan siang. "Rin, dah makan ke bengkel temen gw bentar ya. Harus ganti oli nih. Bentar koq." ajak Vic. Erin mengangguk.


Mereka tiba di bengkel. Vicky memeluk dua cowok yang ada disana. "Rin, sini kenalin. Ini yang punya bengkel ini, temen gw dari dulu. Ini Handi." kata Vicky. "Panggil aja Han."katanya. Dia melap tangannya yang belepotan oli sebelum menjabat tangan Erin. "Yang ini namanya Sony." kata Vicky. Erin dan Sony berjabatan tangan. "Duduk Rin. Maaf kotor ya, maklum namanya bengkel. Mau minum apa Rin. Ada radler, heineken, cola, air mineral. Mau yang mana?" tawar Han. "Radler aja Han, makasih." kata Erin. Menarik banget si Erin, pacar si Vic bukan ya. Batin Han. Tapi susah nih saingan ma orang kaya macem Vic. Hehehe... Han mesem mesem sendiri.


"Haaaaannn... saosnya lu lupa beliiii??? Haduuuh kudu gw lagi yang keluar daaahhh." Erin menengok ke yang punya suara. "Eh ada tamu."katanya malu. "Eeeh Viiic, dah lama lu ga kesiniii. Ntar malem mo barbeque nih kita, ikutan yuk biar rame." "Mau ikutan Rin?" kata Vicky. "Boleh aja." Erin tersenyum cantik. Han mencuri pandang.


"Eh kenalin gw dulu doooong... gw Henry." menyodorkan tangannya ke Erin. "Erin."


"Dah beres nih Rin, cabut dulu yuk tar malem kesini lagi." kata Vicky. Erin mengangguk. Siang ke sore Vicky dan Erin berjalan jalan, kejar kejaran dan ciprat cipratan air di pantai. Mereka benar benar bersenang senang.


Malamnya mereka tiba di tempat Han, Sony, dan Henry. Vicky menyodorkan tequila ke Han. "Aseeek, thanks Vic."kata Han. Vicky tersenyum. Mereka berbarengan menyiapkan bahan bbq sambil bercanda. Han mendekati Vicky, "Vic, Erin cewe lu?" "Belon. Jangan nyamber lu. Gw tau lu liatin dia mulu. Gw tau lu dah tobat gonta ganti cewe. Tapi yang ini punya gw."kata Vicky.


Vicky menatap Erin yang lagi motongin bawang. Aduh di dapur meski keringetan gitu dia tambah cantik ya, jadi pengen meluk, batin Vicky. "Vic, tolong ambilin butternya." kata Erin. Vicky terbangun dari lamunan dan ambilin butter. Pas mateng... "Waduh... wangi bener Rin, gw icip ya."pinta Vicky. Erin mengangguk. Mata Vicky membelalak. "Rin, ini mah resto juga kalah. Enak bangeet. Rin, besok pagi masakin ini ya sama telor ceplok. Gw bantuin pasti Rin." Vicky memasang muka memelasnya. Erin mengangguk.


Mereka mulai memanggang daging, makan bersama. Semua memuji masakan Erin dan makan dengan lahap. Han dan Henry rebutan butter rice yang sisanya tinggal sedikit itu. Erin senang sekali hari itu. Setelah malam, mereka pulang. Sebelum Erin masuk kamar, Vic menariknya. "Rin, makasih ya. Ultah taun ini gw seneng banget." Vic tersenyum cakep. "Sama sama Vic, met ultah ya." Erin jinjit sun pipi Vicky kiri dan kanan. Mereka pun masuk kamar masing masing.


Besoknya mereka bersenang senang lagi. Naik parasailing, boncengan jetski, cari makanan enak, beli oleh oleh. Hari bersenang senang telah usai. Vicky memeluk Erin. "Makasih Rin, gw seneng banget bisa bareng sama elu." kata Vicky. Erin tersenyum.


Besoknya mereka pulang. Vicky mengantar Erin ke kost. Ternyata Paul ada disana. "Rin, bukannya dua hari lalu seminar udah selesai ya?" tanya Paul. "Iya Paul, gw masih pengen main." kata Erin."Gw tau lu disana sama Vicky terus kan? Temen temen lu ngasi tau gw. Ga usah dikasi tau juga keliatan sih kalian abis maen bareng." Paul melirik tidak suka sama Vicky. Paul beranjak meninggalkan Erin. Dia berhenti di depan Vicky. "Lu liat aja ntar. apa akibatnya kalau omongan gw lu ga mau denger." kata Paul. Lalu dia beranjak pergi.


Vicky dan Erin bertatapan. Perasaannya tidak enak.