
Di Bali.
Paul, Erin, Vicky, Roger, Marcel nyampe jam 9 pagi. Mereka langsung beristirahat sejenak di villa punya keluarga Paul. Sorenya mereka berjalan jalan ke pantai. Paul terus menggenggam tangan Erin. Sesekali memeluk dan menciumnya. Paul seolah ingin mengatakan sama semua orang kalau Erin miliknya. Vicky hanya bisa menatap mereka...
Pagi pertama di Bali
Paul siap siap ke hotel setengah jadinya. Karena semua kesiangan Paul sarapan disana aja katanya. Erin mengantar Paul sampai pintu. Udah keluar Paul balik lagi. Memeluk dan mencium Erin mesra. "Gw bakalan kangen banget ma lu hari ini." kata Paul lalu dia pergi.
Di belakang Erin ada Vicky yang melihat pemandangan romantis itu. "Rin, laper, cari makan yuk."kata Vicky. "Ayuk. Roger ma Marcel mana?" "Lah kebo dua itu mah masih tidur. Yuk pake motor aja." Mereka jalan jalan berdua, makan berdua. Nelpon Roger sama Marcel percuma. kayanya mereka bakal bangun sore. Malem abis clubbing soalnya mereka. "Rin, mampir ke bengkel si Han yuk?" "Boleh kangen juga ma mereka." Han kaget melihat mereka datang tapi senang. Lebih kaget lagi melihat cincin di tangan Erin. Dia melihat tangan Vicky tapi ga ada cincin. Han cuma diam.
"Oi ada rujak tuh. Mau ga pada?" teriak Sony. "Mauuu... Vic mau gw pesenin?" kata Erin. Vicky mengangguk. Erin, Sony, Henry menghampiri tukang rujak. Han duduk di sebelah Vicky. "Erin dah tunangan?" Vicky menghela nafas dan mengangguk. "Sama siapa?" "Si Paul. Sepupu gw yang suka gw ceritain." "Trus lu ngapain ma dia ada disini?" "Kesini ramean sama si Paul, Roger, ma Marcel. Paul ada kerjaan, kebo dua pada tidur. Jadi gw ajak Erin makan trus kesini." "Ga sakit hati lu liat mereka? Kenapa lu nyiksa diri ikut kesini segala sih?" "Paul pulangnya pasti sore ke malem. Erin nanti ma siapa. Kebo dua seenak udel begitu. Gw juga ga tahan kalo lama lama ga liat Erin. Gw cuma pengen liat dia hepi. Ga sama gw ga apa yang penting dia hepi." Hans menghela nafas dan menepuk pundak Vicky. "Tabah ya bro." Vicky cuma diam.
Mereka sampai sore di tempat Han. Duo kebo nelp Vicky. Mereka ketemuan di pantai yang kemarin. Main kejar kejaran berempat. Ciprat cipratan. Lempar lemparan pasir basah. Tiba tiba ada Paul datang. Dia langsung memeluk Erin. " Gw kangen banget sayang." Paul mencium mesra bibir Erin. Erin tersenyum dan berlari lalu melempar Paul pakai pasir yang basah. Paul mengejar Erin dan menangkapnya, mereka berciuman lagi.
"Gitu keq dari dulu ya." kata Roger. "Iya nih bikin sirik aja." kata Marcel. "Gw mau mandi." Vicky meninggalkan mereka. Akhirnya mereka pun kembali ke villa. Setelah mandi mereka makan bersama. Paul nempel terus ma Erin. "Ntar clubbing yok."kata Roger. "Gila, gw mesti bangun pagi mo ngecek mereka mulai kerja jam berapa." kata Paul. "Yawda Erin aja yang ikut. Lu molor aja." kata Marcel. "Bole ya Paul, gw pengen ikuuut." rengek Erin. Paul mendengus. "Iya tapi lu jangan nakal ma cowo laen. Kalian ati2 jaga tunangan gw." kata Paul. Roger dan Marcel mengangguk.
Mereka berempat bersenang senang. Di dance floor Roger dan Marcel berkenalan dengan cewe cewe bule. Erin menatap Vicky. "Lu ga ikutan?" "Ngga." "Lu kan lom punya cewe Vic. Apa salahnya?" tanya Erin. " Gw dah punya cewe yang gw sayang banget." "Oh ya? Kenalin atuuuh. Trus dah jadian lom?" "Jadian gimana, dianya punya orang." "Semangat ya Vic, kalo jodoh ga kan kemana." Vicky tersenyum dan berdansa bersama Erin. "Rin mau diambilin minum lagi?" "Mauuu" "Bentar yah" Vicky meninggalkan Erin sebentar.
Belom lima menit Vicky ninggalin Erin, ada bule deketin Erin. Erin keliatan risih soalnya agak kurang ajar ni bule. Vicky kesel dan langsung jotos si bule. Erin ditarik pulang. Vicky kesel berat Erin dipelukin bule sialan itu.
Di villa Erin langsung naik ke kasur. Paul yang udah tidur kebangun. "Loh dah pulang lagi?" "Iya tadi Vic lagi ambil minuman ada bule tengil deketin. Vic marah banget sampe dijotos tuh bule. Jadi gw langsung dibawa pulang deh ma dia." "Duo kebo kemana?" "Masi ma ciwi ciwi bule disana." "oooh... lu ga apa apa tapi kan yang?" "Ga apa apa Paul. Orang Vic keburu dateng koq." "Syukurlah" kata Paul. " Sini pengen peluk. Gw masih kangen." " Baru bentaran juga." "Biarin." Paul memeluk dan menciumi Erin. Lama lama ciumannya memanas. Paul melucuti baju Erin dan mereka pun memanaskan malam itu. Ga sadar aktifitas mereka terdengar Vicky. Erin ga sadar ga rapet nutup pintu. Vicky berlalu ke balkon. Menyalakan rokoknya dan menghabiskan beberapa botol minuman.
Paginya Paul dan Erin makan bersama. Dan seperti biasa Erin mengantar Paul sampai pintu. Duo kebo pasti masih tidur. Tapi Vicky tumben belum bangun, batin Erin. Erin mengetuk kamar Vicky ga ada jawaban. Dia masuk ke kamar Vicky yang ternyata ga dikunci. Paul masih tertidur dan tampak berantakan sekali. Erin menggelengkan kepalanya melihat banyak botol minuman. "Vic... Vic... lu kenapa Vic minum sebanyak ini ga biasanya?" kata Erin membangunkan Vicky.
Vicky hanya menggeliat. Erin duduk disana menunggu Vicky. Tiba tiba Vicky lari ke toilet dan muntah muntah. Erin menghampiri Vicky. Memijat mijat pundak dan tengkuk Vicky. "Keluar Rin, gw ga mau lu liat gw lagi menjijikan gini." "Gapapa Vic. Gw ambilin bear brand mau? Atau mau teh anget?" tanya Erin. "Teh aja Rin." Erin mengambilkannya. Vicky mencuci mukanya. Erin datang dengan secangkir teh hangat.
"Lu kenapa Vic?" "Gapapa, penat aja Rin." "Lu juga boleh cerita ma gw koq Vic, anytime." "Thanks Rin. Gw gapapa. Cuma penat doank dan pengen minum. Cuma semalem sambil nonton jadi ga nyadar kebanyakan hehehe" "Dasar, bikin orang cemas aja" Vicky ditimpuk bantal. "Cemas ma gw Rin?" "Ya iya atuh emang sama kucing?" Vicky tersenyum. Hatinya sedikit terhibur.