My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
48.



Vicky kecewa dan cemas. Dia diem aja seharian. "Sayang, kata dokter kan elu ga bole stress. Gw siapin supaya lu bisa berendem air hangat ya. Biar enakan." Vicky menarik Erin supaya duduk di pangkuannya. "Elu emang mood booster gw sayang. Temenin gw berendem ya." Erin mengangguk. Setelah selesai berendam mereka memakan nasi kuning sisa jualan. Sayang kata Erin.


"Vic, awal jualan suka gitu. Orang kan belom tau. Makanya gw juga bikinnya dikit dulu. Yang sabar, semoga besok besok lebih rame." Vicky mengangguk.


Besoknya penjualannya mulai meningkat... lama lama makin meningkat. Mereka bisa menjual 50 porsi per hari. Itupun masih banyak yang datang dan mau membeli. "Sayang, kita udah punya langganan lumayan banyak sampe ngantri gitu. Gimana kalau kita masuk di ruko dagangnya? Di ruko sebelah toko kamu? Kita coba tambah menu dan gw minta satu pegawai."


Vicky mengangguk. Dia memegang Vicky dan menatap istrinya itu. "Terima kasih sayang, saat gw sakit, lu ada disana dan ngurusin gw. Disaat gw bangkrut lu juga yang membantu keuangan kita." "Bantu apa Vic, kita ngerjain bareng kan. Dan udah seharusnya kita saling mendukung kan." Vicky memeluk Erin dan mengecup pipinya. "Gw bener bener beruntung."


Mereka merencanakan resto mereka dengan cermat. Hari pembukaan tiba, cukup banyak yang datang untuk sarapan. Menunya semakin hari semakin bertambah. Turis mancanegara pun ikut makan disana. Erin menambah karyawan dan menambah menu makan siang. Usaha mereka begitu diberkati. Makan malam pun mereka sediakan. Begitu lelah tapi begitu menyenangkan. Usaha dan pengorbanan mereka tidak sia sia. Erin sekarang jarang sekali memasak untuk restoran. Ada karyawan yang khusus memasak. Erin hanya mengawasi saja.


Suatu saat di jam 3 sore, Erin membaca novel sambil santai di resto. Jam segitu biasanya tidak begitu ramai. Ada suara langkah kaki mendekati Erin tapi Erin masih asik dengan novelnya. "Nona, saya minta menu special nona ya. Butter rice." Erin mendongak. Paul berdiri disana. "Paul?" Paul tersenyum dan memeluk Erin erat. Cinta gw sama cewe ini bener bener ga bisa ilang. Sekarang karena begonya gw, gw cuma bisa jadi temennya. Tapi gapapa gitu juga lebih baik daripada ga liat dia sama sekali. Begitu pikir Paul.


Paul duduk di depan Erin. "You look great Erin. Still pretty like always." "Thank you Paul. Elu liburan disini?" "Ngga, gw sekarang pegang yang di Bali sini. Yang disana masalahnya udah beres, jadi Mama tinggal ngontrol aja." "Elu emang hebat ngelola usaha Paul." "Gw masih belajar Rin. Lu jadi buka resto Rin? Cocok banget sama hobi lu ya. Tempat ini mulai terkenal, lu hebat kelolanya." "Ini berawal dari masa sulit sampe bisa kaya gini." Erin menghela nafas.


"Syukurlah kalo begitu. Lu mau minum apa Paul?" "Gw mau minta butter rice nya elu sama jus jeruk aja Rin. Tapi sebentar kita video call dulu." Paul mengeluarkan hpnya dan ada mama Paulina disana. "Hai kalian. Seneng liat kalian bisa akur lagi. Kamu jangan macem macem ya Paul." "Iya ma, Paul tau. Ma, toko Vicky tutup. Supplier ga mau kirim barang. Mama bisa cek itu gara gara siapa? Bisa bikin mereka kirim barang lagi kan ma?" "Vicky! Erin! Dari kapan kaya gini? Mama dah bilang harus kasih tau mama kan?!" "Maaf ma, kami ga mau nyusahin mama. Ini udah setaunan." "Apa??! Setaun??? Kalian makan apa setaun ini? Bukannya bilang sama mama!"


Paulina ngomel ngomel ga brenti. Vicky dan Erin berpandangan dan garuk garuk kepala mereka yang tidak gatal. "Mamaaa... trus solusinya gimana? Jangan ngoceh trus!" Paul berteriak. "Oh iya maaf mama kesel jadi ngoceh. Coba mau ngomong sama mama dari dulu." Mama Erin mangambil telpon lainnya dan berbincang. Lalu telpon ditutup. "Seperti kuduga. Mama kamu Vic yang bikin ini. Mama dah beresin ya. Supplier akan hubungin kamu lagi."


Erin mengusap punggung Vicky yang tampak kesal, lalu melihat hp Paul. "Makasih ma." "Sama sama sayang. Trus hidup kalian gimana selama ini?" "Erin jualan nasi kuning awalnya ma. Kita jualan kaki lima trus laku. Sekarang jadi resto ma." "Wih, anak anak mama hebat. Nanti mama kesana minta menu special ya. Sekarang mama mau meeting dulu. Kita ngobrol lagi ya."


"Makasih ya Paul. Gw siapin dulu ya makanan lu." "Bikin apa Rin?" tanya Vicky. "Butter rice sama jus jeruk." "Gw juga mau!" "Lu kan tadi dah makan siang Vicky!" "Atulah pengeeen." Vicky merajuk. "Iya gw bikinin. Lucu amat muka melasnya." Erin refleks mencium bibir Vicky lalu pergi. Vicky tersenyum senang. Paul memalingkan pandangannya ke sembarang arah canggung.


"Sekarang lu jelasin ke gw. Mau ngapain lu balik kesini lagi. Bukan mau ganggu hubungan gw sama Erin lagi kan??" "Ngga Vic, gw ga kan ganggu lagi. Gw dah janji buat jadi temen Erin aja." "Bagus. Lu ga ganggu lagi, udah punya cewe atau istri emang?" Paul menghela nafas dalam. "Gw bilang mau jadi temen Erin bukan berarti gw bisa lupain dia Vic. Gw dah coba tapi ga bisa cintai cewe lain. Biarin gw cintain Erin dalem hati aja Vic. Gw ga kan ganggu kebahagiaan kalian. Gw liat Erin aja udah cukup." Vicky mengerling tidak suka. "Pegang omongan lu!" Paul mengangguk.