
Erin tertidur di pelukan Han. Mereka bergelung bersama hanya bertutupkan selimut. "I love you so much Rin. Gw pengen bisa selamanya kaya gini sama lu." Han mencium rambut Erin dengan sendu.
Paginya Erin terbangun lebih dulu. Hatinya terasa begitu hangat, sehangat kulit Han yang menempel dengan kulitnya. "Morning sayang." Erin mencium bibir Han lembut. Han membuka matanya sedikit. Lalu membalas ciuman Erin dengan hangat. Lama lama ciuman mereka pun memanas dan mereka mengejar puncak kenikmatan mereka lagi pagi itu.
Han memeluk Erin yang bersandar di dadanya. "Rin, apa lu bahagia bareng sama gw?" "Bahagia banget sayang. Jangan pergi lagi ya." Erin mencium bibir Han. Han mengangguk tapi kemudian menghela nafas berat. Gw harus berusaha mengembalikan ingatan Erin perlahan lahan. Gw harus menepati janji gw, pikirnya. "Rin, mandi yuk. Trus sarapan di resto yang lagi hits itu." Erib mengangguk dan mereka pun mandi bersama.
Han mengirim pesan kepada Vicky. *Gw mo nepatin janji gw buat coba balikin ingetan Erin. Gw mo ke resto Erin sekarang.* Vicky tersenyum. Dia langsung mengumpulkan karyawan resto. Mereka sudah tau kondisi Erin tapi Vicky mewanti wanti supaya jangan sampai mereka salah bicara.
Han dan Erin sampai di resto. Vicky sedang duduk disana. "Hai Vic, keren banget restonya. Punya elu ya?" Vicky hanya tersenyum. "Pilih dulu Rin mau sarapan apa." Erin membolak balik menu. "Ini menunya kesukaan gw semua ya hahaha... gw jadi bingung." "Gw pilihin lu ma Han best seller disini aja ya." Erin mengangguk.
Vicky memanggil waiter. "Selamat pagi bu Erin." Dia mengangguk hormat. "Pagi." Vicky memesankan makanan untuk mereka. "Vic, koq waiternya tau nama gw ya?" "Ya elu dulu sering disini Rin." Erin mengangguk angguk. Masih bingung. Tak lama makanan mereka datang. Ada seporsi butter rice dengan telur setengah matang, nasi kuning, dan nasi uduk pandan.
Erin memilih nasi uduk pandan. "Mirip banget sama bikinan gw ya." Vicky tersenyum. "Resep elu emang Rin." "Koq bisa resep gw?" Vicky hanya tersenyum lagi. "Nanti lu ngerti sendiri Rin." Vicky memakan butter rice nya. "Bole gw coba Vic?" tanya Erin. Vicky menyuapkan butter ricenya untuk Erin. "Kurang gula sedikit. Tapi emang mirip bikinan gw sih." "Itu juga resep lu Rin. Tapi bikinan lu emang lebih enak." Saut Vicky. "Iya, kesukaan lu ya Vic, sama jus jeruk." Vicky melonjak senang. "Lu inget Rin?"
Kepala Erin berdenyut. Erin memegang kepalanya yang sakit. Han dan Vicky kaget dan memegang tangan Erin. "Gapapa. Sakit kepala dikit." Han memberi kode kepada Vicky untuk diam. Satu memori saja sudah menyakitkan buat Erin. Dia tidak ingin terlalu memaksa. Vicky mengangguk. Dia juga tidak tega Erin sakit. Tapi dia senang sekali Erin mengingat sesuatu.
Setelah selesai sarapan Han dan Erin kembali ke bengkel. Mereka bertemu Henry yang sedang memeriksa stok barang. "Gimana sarapannya Rin?" "Bingung Hen menunya kesukaan gw semua. Trus mirip ma bikinan gw. Trus koq tiba tiba keinget butter rice ma jus jeruk itu kesukaan Vicky. Koq gw bisa kepikir gitu ya?" Henry memandang Han yang terdiam mendengar Erin. "Buttee rice lu kesukaan semua Rin. Gw, Han, Vicky, Paul semua suka." Erin hanya terdiam. Semua masih membingungkan.
Erin berlalu ke dapur menyiapkan makan siang. "Han?" "Secepat itu Erin mengingat Vicky ya Hen. Padahal gw baru aja bisa sayang sayangan lagi ma Erin." Henry menghela nafas. "Gimana juga Vicky lakinya Han. Keilangan lu mungkin traumatic buat Erin, dan bikin Erin punya penyesalan mendalam. Tapi dia sama Vicky melewati waktu yang lebih lama dari lu. Mereka lewatin suka duka barengan. Ikatan emosi mereka juga dalam. Lu harus siapin hati lu Han. Karena keliatannya ingetan Erin bakal cepet balik."
Han banyak terdiam hari itu. Erin bingung melihatnya. Han duduk diam di kasurnya. Erin langsung duduk di pangkuan Han. "Sayang kenapa hari ini lu pendiem amat. Ga sakit kan?" Erin memegang kening Han. "Gw gapapa sayang. Cuma lagi banyak pikiran." "Mikirin apa Han? Apa lu mikirin pernikahan kita?" Erin tersenyum manis. Han tersentak.
"Kenapa kaget Han? Apa elu dah ga mau merid sama gw?" Wajah Erin berubah sedih. Han segera memeluk Erin erat. "Ga mungkin gw ga mau merid sama lu sayang. Cuma kondisi ingatan lu belum pulih. Kalau udah pulih seutuhnya baru kita obrolin serius ya." "Kenapa ingetan gw jadi halangan sih Han? Gw ma elu kan saling sayang?" "Gw ga mau lu nyesel merid sama gw setelah ingetan lu balik Rin. Ga semudah itu kita merid sekarang ."
Erin pergi meninggalkan Han. Dia kesal sekali karena merasa ditolak Han. Erin menuju pantai. Ketika Han ingin mengejarnya Henry menahan Han. "Biarin dia sendiri dulu. Dia bingung sama semuanya." Han terdiam.
Matahari sudah hampir tenggelam. Erin masih duduk di pasir melihat gulungan ombak. Tiba tiba Vicky menghampirinya. "Hai Rin. Kenapa lu ngelamun disini? Are you ok?" Erin tersenyum tipis. "Gw bingung sama semua Vic. Ada yang ilang di diri gw. Ada banyak yang gw ga inget tentang 3 taun belakangan. Apa betul gw dah merid sama lu Vic? Gw ga inget sama sekali. Gw ga ngerasa punya cinta sedalam itu sama lu saat ini. Ga ada cincin di jari gw. Ga ada bukti. Kalaupun ada bukti gw tetep ga inget... gw... gw..."
Erin menangis. Vicky merangkul pundak Erin dengan erat. "Erin... sayang... pelan pelan aja ingetnya jangan maksain diri lu. Gw tau ini pasti bikin lu bingung. Kalau elu nanyain cincin..." Vicky mengeluarkan kalungnya. Ada sebuah cincin yang serupa dengan yang dipakai Vicky. "Ini cincin kamu sayang. Suster yang lepas waktu elu dioperasi." Erin terbelalak melihatnya. Dia melihat ukirannya sama dengan cincin di tangan Vicky. Vicky♥️Erin. Erin speechless...
"Gw ga tau harus bilang apa Vic. Gw ga inget sama sekali. Yang gw inget cuma Han. Gw pikir setelah dua balik, dia mau terusin plan merid sama gw. Tapi kayanya dia berubah pikiran. Dia bilang ga mau gw nyesel kalo nanti ternyata ingetan gw balik dan gw dah merid sama dia. Gw pikir dia sayang gw Vic. Tapi dia ga mau merid sama gw." Erin menangis. Vicky memeluk Erin erat. Hatinya sakit mendengar Erin ingin menikah dengan Han.
"Erin..." Han memanggil Erin. Ternyata dia ada disana dan mendengar Erin menceritakan semuanya. "Maafin gw sayang. Gw selalu mencintai lu Rin. Tapi... gw pengen lu inget smuanya dulu. Supaya nanti ga lebih nyakitin buat lu. Ayo kita ke rumah Vicky. Gw pengen lu liat sesuatu."
Mereka pun beranjak ke rumah Vicky. Erin merasa rumah itu agak familiar, tapi belum ingat apapun. Ketika masuk ke dalamnya pun Erin merasa seperti itu. Matanya terbelalak melihat foto foto dirinya dan Vicky terpampang sangat besar di dinding. Foto pernikahan Vicky dan Erin.
Vicky dan Han hanya bisa memandangi Erin. Erin menggeleng geleng tak mengerti. "Gw cuma sayang sama elu Han. Gw nungguin lu balik dari Macau. Kenapa bisa gw merid sama Vicky??? Kenapa kalau emang gw merid sama Vicky gw ga inget? Gw..." Erin merasa kepalanya sakit sekali. Dia pun pingsan. Vicky segera menangkap Erin dan menggendongnya penuh kasih.