
Vicky dan Erin bertambah mesra. Paul hanya bisa menatapnya sendu tapi kemudian dia tersenyum. Erin bahagia, itu yang terpenting. Dia melihat bagaimana Erin selalu menyiapkan makanan dan jus buat Vicky. Dulu lagi pacaran sama Paul ga pernah gitu. Erin bener bener selalu ada buat Vicky. Selalu mendukung dan menyemangatinya. Paul merasa kehilangan harta berharga karena kebodohannya sendiri. Kalau saja dia dulu mendengar perkataan semua orang. Lelaki beruntung yang akan menjadi suami Erin itu dirinya. Dan mereka akan mempunyai anak. Tapi keinginan Erin mempunyai anak pun dihapusnya karena dia tidak mau menyakiti Vicky. Sungguh Vicky amat beruntung.
Hari ini Roger dan Marcel datang. Merek berlima berkumpul dengan bahagia. Terasa seperti keluarga utuh. Marcel mengenalkan pacarnya. Mereka akan segera menikah. Pernikahan akan dilangsungkan di Bali, di hotel milik keluarga Paul. Vicky dan Erin bahagia karena mereka bisa datang tanpa harus lama meninggalkan usaha mereka.
Roger, Marcel dan pacarnya pamit akan ke hotel dulu. Tinggal Erin dan Paul yang ngerumpi disana. Pandangan Paul menerawang. "Lu kenapa?" tanya Erin. "Semua menikah Rin, kecuali gw." Lah ngedate atuh kan gw dah bilang. lu diem aja mana dapet cewe."
"Rin... gw dah bilang... gw ga bisa. Kalau gw maksain gw nyakitin orang Rin. Gw selalu kebayang elu." "Trus tapi kan elu juga pengen merid, mau gimana coba?" "Iya gw tau Rin... itu ga mungkin... gw juga ga tau Rin..." Paul menerawang putus asa. "Yawda Paul. Jalanin aja hidup lu gimana adanya... gw juga bingung..."
Vicky menghampiri Paul dan Erin. "Hei kalian kenapa kaya lagi musuhan gitu?" Paul dan Erin terdiam. Ga mungkin kan mereka ceritain sama Vicky apa yang mereka obrolin tadi. Vicky bingung melihat mereka berdua. "Kenapa sih?"
Akhirnya Erin bicara. "Itu Paul lagi patah hati." "Patah hati? Kenapa? Sama siapa?" "Marcel. Dia sakit ati Marcel mau merid." Erin berlalu sambil ngakak. "Kurang ajar lu Rin, gw masih normal tau. Gw jitak lu!" Paul beranjak mengejar Erin.
Vicky menatap mereka sambil mengeleng gelengkan kepala. Erin berlari dari kejaran Paul. Ketika Paul mendapatkan Erin kepala Erin digecek gecek. Erin ngakak ga brenti sampai mengeluarkan air mata.
Vicky berpikir, mungkin Paul merasa sendirian karena semua temannya sudah menikah. Tapi di sisi lain meskipun sudah mencoba Paul berkata dia tidak dapat melupakan Erin. Vicky sebenernya ga suka ada cowo lain mencintai Erin. Tapi mau gimana, dia pun dulu di posisi Paul. Dan dia tidak bisa mematikan perasaan Paul. Yang penting Erin mencintai dirinya dan Vicky harus menjaga cinta Erin. Toh Paul pun mengerti batas kewajaran sekarang, tidak seperti dulu. Ia bersikap seolah Erin sahabatnya, meski dalam hatinya tidak demikian. Ah... gw belon beresin pembukuan batin Vicky. Dia pun berlalu.
Paul menghela nafas. "Iya gw masih belajar buat itu. Mungkin ini hukuman buat gw yang nyakitin elu terus." "Iiih... udah ah mikirnya gitu terus." Erin merangkul pundal Paul. " Gw pengen ngemil ah. Mau bikin ropang." "Ropang? Apaan?" "Roti panggang. Lu mau? Gw mo bikin skalian buat Vicky juga buat cemilan dia." Vicky lagi, batinnya iri. "Mau lah gw porsinya dobel ya." kata Paul. "Ish... dasar maruk."
Erin di dapur resto membuat ropang untuk Vicky, Paul dan dirinya. Sekalian membuat jus melon. Erin mengantar cemilan buatannya ke toko Vicky. Dia tampak serius sekali di depan komputer. Vicky terlihat ganteng kalau lagi serius gitu. Erin tersipu malu sendiri. Lalu dia memeluk dari belakang dan mencium pipi Vicky. "Sayang, ini roti panggang sama jus melon." Vicky melihat Erin. "Terima kasih sayang."
Erin duduk di pangkuan Vicky sekarang. "Serius amat sayang. Kayanya dari tadi banyak kerjaannya." "Iya ini banyak dateng barang, banyak item baru. Mumet nyatet stoknya. Dulu ga ada barang ya sayang. Sekarang banyak banget sampe pusing." Vicky tertawa. "Iya dulu ga ada barang gara gara gw." "Bukan gara gara elu lah. Itu mah dianya aja cari gara gara. Aneh gw ada seorang ibu mau anaknya menderita gitu. Beneran ga layak dibilang ibu." "Udah ah sayang... ga usah manyun gitu. Gw kan jadi pengen cium." "Ya cium donk niiihhh." Vicky memberikan bibirnya. Erin melumat bibir Vicky dengan penuh sayang.
"Suka ga konek kerja gw kalo gini." Vicky dan Erin tertawa. "Udah ah makan dulu roti sama jusnya. Tar rotinya keburu dingin. Gw juga mo makan ini ma si Paul. Si maruk itu minta dobel." Vicky tertawa. "Lagian lu nawarin dia. Dah tau makannya banyak." "Gw ke resto dulu ya." Erin mencium bibir Vicky lagi. "I love you" "Love you more Rin." Vicky memandang Erin yang menjauh dengan senyuman. Gw cowo palinh beruntung, batinnya. Lalu Vicky meneruskan pekerjaannya lagi.
"Roti buat si maruk dataaang." kata Erin pada Paul. "Lu belon puas gw gecek ya Rin. Pake teriak teriak segala." Erin menaruh piring roti bakar untuk Paul dan dirinya di atas meja. Lalu Erin berlalu sambil ngakak. Dia paling seneng becandain Paul sampe manyun.
Erin kembali lagi ke meja Paul membawa dua gelas jus melon. Tiba tiba jus yang dipegang Erin jatuh di depan Paul. Badan Erin bergetar, mukanya menegang. Bibirnya mengucapkan sesuatu yang Paul tidak dengar. "Rin, lu kenapa Rin? Lu sakit??" Erin masih tidak bergeming. Paul berbalik melihat apa yang dilihat Erin. Ada seorang pria yang berdiri disana. Matanya menatap Erin penuh cinta dan kerinduan. Paul mengerutkan alisnya bingung. Siapa dia?