My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
46.



Sepeninggal Paul, kehidupan Vicky dan Erin lebih tenang. Vicky sedang mengawasi toko dan karyawannya. Erin sedang membuatkan jus untuk Vicky. Tiba tiba Roger dan Marcel datang. Mama Paulina memberikan alamat Vicky kepada mereka, bahkan memberitahu Vicky dan Erin sudah menikah.


Vicky terperanjat dan memeluk temannya senang. "Akhirnya Erin jadi istri lu bro." "Iya yah setelah beribet banget dulu sama Paul." Vicky tersenyum. "Iya gw beruntung. Akhirnya Erin memilih gw. " " Erin mana?" " Di rumah belakang Her ntar lagi juga kesini."


"Vic, ini jusnya." Erin menghampiri Vicky tanpa memperhatikan Roger dan Marcel. Dipikirnya mereka salah satu pelanggan. "Makasih sayang." Vicky mengecup pipi Erin. "Itu... ada yang mau ketemu elu." "Gw?" Ketika melihat Roger dan Marcel Erin memekik dan langsung memeluk mereka erat. "Gw kangen banget sama kaliaaannn" Vicky tersenyum melihat group hug istri dan sahabat sahabatnya.


"Kalian bakal lama disini kan?" "Yah lumayan lah sebulanan kayanya." Jawab Roger. "Asiiik nanti kita jalan jalan ya ke tempat wisata disini kan banyak. Mau clubbing juga banyak. Makanan enak juga banyaaak." "Iya ya kita have fun lagi kaya dulu." Marcel pun semangat. Vicky manyun. "Gw gimanaaa." Erin mencium pipi Vicky. "elu kan harus jaga toko sayang." "Trus lu maen ma mereka doang gitu. Trus clubbing ma cowo cowo disana gitu."


"Buset dah manja ma jealous banget sih lu Vic. Pergi ma kita ini emang napa sih." "Ya ma kalian mending. Clubbing gitu kan banyak cowo gatel." "Kan ada kita jagain Vickyyy." kata Marcel gemas. Erin duduk di pangkuan Vicky. "Kalau malem ya ikut donk kamunya. Kalau kita mainnya pagi atau siang ya titip dulu tokonya sama si Adul sebentar. Masa gw tega gw senang senang lu disini sayang. Gw kan cuma becanda." "Jail kamu yah bikin beteee." Vicky menciumi wajah Erin gemas. "Deuh bikin jealous aja ni dua mahluk."


"Gw laper nih. Kita keluar cari makan yuk." kata Marcel. " Di rumah aja yuk Cel biar nyantai. Kita pesen makanan aja. Ntar sore kita makan diluar dah tutup toko. Trus jalan jalan." "Boleh juga tuh." kata Roger. "Kalian inep dimana sih? Di rumah gw aja dah biar seru!"kata Vicky. "Di hotel Paul sih. Iyalah kita di rumah si Vicky aja yak." Vicky dan Erin mengangguk senang.


Setelah makan Vicky kembali mengawasi toko. Marcel dan Roger ngobrol sama Erin. "Gw seneng akhirnya kalian merid Rin. Vicky merana banget liat lu ma Paul." "Bukan ma Paul doank Vic, ma Han juga sama Sony." "Waduh???" Erin pun menceritakan semuanya. Mata Roger dan Marcel berkaca kaca. "Gw tau Vicky cinta sama lu Rin. Tapi gw baru tau kalau cintanya itu cinta mati." kata Marcel. "Dan kita ga tau dia sakit. Untung ada lu Rin. Kalo ga dia hadepin sendiri sakitnya. Terima kasih ya Rin." kata Roger. "Akhirnya lu hepi juga ya Rin. Kisah cinta lu layak dibikin novel atau sinetron nih." kata Marcel.


Roger merangkul bahu Erin. "Rin gw tau Paul nyebelin banget. Rese sumpah nyusahin amat. Malu gw jadi temennya." "Udahlah Ger, dia juga udah mulai berubah koq." "Yah semoga Rin. Tapi kalo ketemu Sony, lu kenalin gw ya ma dia." "Loh ngobrolin Paul koq jadi ke Sony?" "Iya buat gw dia lebih nyebelin daripada si Paul. Geblek aja sampe nyuruh lu pergi dari hidupnya segala. Pengen gw gebukin tu orang." "Udahlah Ger. Dia udah digebukin Vicky sama Henry juga." "Henry temen si Marco itu?" "Bukan. Ini Henry yang serumah sama Han sama Sony. Beda Henry nya." "oooo..." Sampe bonyok ga Rin?" "Kalo ga ada Henry udah masuk ICU kali tuh si Sony digebukin Vicky." "Biarin aja padahal kenapa dibrentiin. Brengsek gitu. Tapi, Vicky kalo dah marah banget emang serem Rin, kalap dia. Gw aja takut."


Mereka terus mengobrol dengan seru. Ketika hari beranjak malam mereka berempat makan malam diluar, berjalan jalan, dan akhirnya berhenti di satu tempat clubbing. Mereka memesan minuman dan turun ke dance floor. Vicky menempel terus pada Erin, ga ikhlas kalau ada yang deketin Erin. Erin meliuk liukan tubuhnya sambil Vicky memeluknya dari belakang.


"Kenapa pindah Vic?" tanya Marcel. "Ada si Sony, mantan Erin yang rese. Males gw liatnya." "Oooh itu orangnyaaa??? Roger dan Marcel segera menghampiri Sony. Erin menatap Vicky. "Tadi gw ceritain Han sama Sony ma mereka sebelum cerita kita bisa jadian. Tapi koq mereka nyamperin Sony ya Vic. Feeling gw agak ga enak." Vicky tersenyum miring. "Ya lu liat aja yang. Kalo mereka tau ceritanya sih abis tuh si Sony."


Waduh... pikir Erin


"Lu Sony?" tanya Marcel. "Iya. Napa emang?" jawab Sony. "Lu kenal Erin?" tanya Roger. "Erin? Dia tunangan gw." "Tunangan ya? Koq tunangan lu sama cowo laen tuh?" tanya Marcel menunjuk Vicky dan Erin. Mata Sony membelalak. Dia sudah lama tidak melihat Erin, Sony sangat merindukannya. Wajah Sony menjadi sayu ketika melihat Erin.


"Gw mau tanya Son, katanya tunangan ya tapi koq diusir ya. Disuru pergi dari hidup lu. Disuru merid sama orang laen? Tunangan macem apa tuh?" Marcel menatap lekat Sony. "Lu siapa sih?" kata Sony. "Oh kenalan dulu. Gw Roger, dia Marcel. Erin sahabat kesayangan kita berdua. Macem macem sama dia, berarti cari masalah sama kita. Kalau aja Erin cerita dari dulu, lu ga kan bisa minum disini." "Trus mau kalian apa?" tanya Sony. "Mau kita dikit sih. Pengen lu babak belur aja, sama yaaaa... patah kaki gitu atau tangan." Sony terdiam.


Roger dan Marcel suit. Roger yang menang. "Lu nonton aja ya Cel." "Sialan gw juga kan pengen hajar tu mahluk buruk rupa!" Roger menggenggam kerah baju Sony. Lalu menghajar Sony sampai tersungkur. Erin berdiri di depan Roger untuk melindungi Sony. "Rin ngapain lu. Gw ga seneng ada orang jahatin lu. Ga boleh si Vicky yang matiin, gapapa sama gw aja." Erin tetap menghalangi Roger.


Sony yang tersungkur di belakang Erin berkata : "Makasih Rin, gw bahagia banget ternyata lu masih care sama gw. Maafin gw Rin." "Care sama elu? Berasa kebagusan banget lu? Gw cuma ga mau tangan orang orang yang gw sayang kotor gara gara elu." Erin menggandeng Roger dan Marcel keluar. Dia takut mereka berdua masih pengen menghajar Sony. Vicky masih disitu, memandang Sony sinis. "Makasih ya Son. Kebodohan lu jadi berkat buat gw." Vicky pun berlalu mengikuti Erin dan sahabatnya.


Sony terdiam. Hatinya begitu sakit. Mengalahkan sakit bekas pukulan Roger di tubuhnya.