My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
43.



Paul menangis. Dia begitu terguncang. Dia tidak menyangka Vicky akan menikahi Erin. Paulina memeluk anaknya dengan kasih. "Paul cinta banget sama Erin ma... Paul cuma mau Erin... ga bisa ga ada Erin. "Paul, empat taun ini ga ada Erin juga kan di sebelah kamu." "Iya ma tapi Paul kan masi merasa punya harapan buat bareng sama Erin." "Sekarang udah ngga Paul. Sadarlah. Kamu cuma nyakitin diri kamu, Erin, dan sepupu kamu."


"Jadi setengah taun ini Vicky dan Erin menghilang ternyata merid ya ma? Kenapa bodo banget detektif yang ku sewa ga bisa nemuin mereka." "Mereka baru merid di Thailand Paul. Baru minggu lalu." Jadi pas gw ke rumah Vic mereka belum merid donk, pikir Paul. "Terus selama setengah taun lebih mereka ngilang kemana?"


"Mereka di Penang untuk pengobatan Vicky." "Jauh amat. Emang berobat apa ma?" "Kamu tau kan Vicky rambutnya abis dibotakin dan kurus gitu?" Paul mengangguk. Vicky habis dikemo. Dia kena kanker."


"Kanker??? Trus kalo Vicky mati aku masih punya kesempatan kan ma?" Paulina mengeplak keras kepala anaknya. "Jangan mikir macem macem! Mereka menderita sewaktu kamu kirimkan Vicky keluar negri! Mama telat tau itu! Hokinya kamu mama pulangin Vicky pas kamu dah pacaran sama Erin. Erin juga sangat mencintai Vicky. Dia merawat Vicky sepenuh hati."


"Erin juga cinta sama Vicky ma?" Hati Paul bertambah sakit. "Sepertinya Erin juga menahan rasa cintanya sama Vicky gara gara kamu dulu. Dan mungkin karena kamu sepupu Vicky jadi dia lebih milih pria lain. Tapi ketika tau Vicky sakit, dan dia juga single, dia yang merawat Vicky. Bahkan muntahan dan bekas diarenya Vicky pun Erin yang bersihkan. Kamu tau kan mama Vicky berhenti memberi uang gara gara Vicky ga mau urusin perusahaannya lagi? Erin ga mau sewa maid disana karena harganya mahal dan dia beresin semua sendiri. Padahal Vicky masih mampu bayar tapi Erin tetep kerjain sendiri."


"Segitu care nya ma Erin sama Vicky?" Kalau inget itu mama juga suka kesel. Yang dapetin Erin itu benar benar beruntung. Kamu benar benar bodoh!"


Paul benar benar merasa terguncang. Dia tau kalau Erin mencintai akan sepenuh hati. Liat aja gimana Paul diberi kesempatan berkali kali. Gimana Erin nerima Sony yang biasa aja. Bahkan saat bisnis Sony hancur dia membantu dengan berjualan nasi kuning. Cape cape ke pasar, masak, melayani pelanggan. Sekarang ke Vicky pun begitu kata Mama Paulina. Rasanya Erin paling peduli sama Vicky.


Paul mengambil botol minuman dan menenggaknya sambil merokok. Dia minum berbotol botol. Paul begitu kesal dan marah, dia membanting botol minumannya. Membalikan meja, menonjok kaca, apapun yang ada di depannya dia hancurkan. Dia mengambil kunci mobilnya dan segera pergi.


***


Paul langsung masuk tanpa berkata kata. Dia mencari Erin. Di depan pintu kamar dia melihat Erin yang tertidur. Hanya sebagian badannya tertutup selimut, punggungnya terlihat begitu jelas. Paul terdiam. Dia begitu merindukan mengelus punggung Erin yang mulus itu.


"Erin! Riiin!" panggil Paul. Erin terkaget dan langsung bangun. Tangannya memegang selimut menutupi bagian dadanya. "Paul?" Vicky menarik Paul menjauh. "Mau apa lu? Keluar!" Vicky menutup pintu supaya Erin bisa berpakaian. Paul yang bau minuman berjalan menuju sofa, dia begitu gelisah.


Erin keluar mengenakan kimono. Paul memandang Erin sendu. "Erin... Kamu... betul udah merid?" Erin menatap Vicky. Vicky langsung merangkul Erin."Iya, kami udah merid. Jadi lu ga usah ganggu Erin lagi!" Paul terisak. Dia menangis dan meremas rambutnya dengan frustrasi. "Erin... kena elu ninggalin gw? Gw salah Rin, gw mau berubah. Gw sangat sayang ma elu."


"Paul... gw kudu bilang berapa kali. Gw udah ga bisa bareng lu lagi." "Gw dah pisahin lu dari Sony. Kenapa lu malah bareng Vicky? Ga bareng gw?" Erin menghela nafas. Dia bener bener cape jelasin ke Paul. "Gw tadi bilang apa. Gw ga bisa bareng lu lagi. Lu pisahin gw dari Sony pun gw ga balikan sama lu. Vicky ga ngelamar gw pun gw ga kan balikan sama lu." Paul semakin menangis.


"Tapi gw harus berterima kasih sama lu Paul." Paul mendongak menatap Erin. Vicky pun menatap Erin heran. "Kalau bukan karena lu ninggalin gw, dan misahin gw sama Sony, gw ga kan bisa bareng Vicky sekarang. Gw mencintai Vicky, Paul. Gw bahagia merid sama Vicky. Kalau elu beneran sayang sama gw, harusnya lu seneng liat gw bahagia." Paul menatap Erin dengan linangan air mata.


"Lu tau dari dulu Vicky sayang sama gw. Tapi liat dia selalu ada buat gw. Meskipun gw sama cowo laen, dia selalu ada, dia pengen mastiin gw hepi meski bukan sama dia. Lu kebayang sakitnya dia liat gw sama cowo laen? Lu sadar segimana sayangnya Vicky sama gw? Gimana bisa gw ga mencintai Vicky? Kalau bukan karena kelakuan lu gw udah sama Vicky dari dulu!"


"Beneran ga ada kesempatan buat gw Rin?" "Maaf Paul. Gw dah bilang berkali kali. Gw ga bisa!" Paul menangis keras. "Rin, maafin gw Rin." " Gw akan belajar maafin lu. Jangan mempersulit dengan maksa gw terus!" Paul berjalan dengan gontai ke arah pintu. Dia pergi.


Vicky memeluk Erin. "Makasih sayang." "Makasih buat apa??" "Buat ngebales cinta gw, buat ngerawat gw, buat jadi istri gw." Vicky mencium Erin mesra. "Semoga kali ini Paul ngerti yah. Lama lama gw rekam omongan gw. Cape ngomongnya." Vicky tersenyum geli.