My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
32.



Mata Sony membelalak. "Paul? Paul Jayatama? Orang yang membuat Erin meninggalkan pernikahannya mengancamku? Hahahah... Kau sendiri tidak becus menjaga Erin. Erin meninggalkanmu kan? Bagaimana bisa cewe sebaik Erin kau sakiti sampai sebegitu rupa hah? Oh tapi aku harus berterima kasih. Kalau kamu ga sakiti Erin, mungkin aku tidak bisa bersamanya hari ini."


Gubraaakkk!!! Paul menggebrak meja kencang sekali. "Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Tinggalkan Erin atau kau akan menerima akibatnya!"


"Cih... banyak omong!" kata Sony sambil berlalu pergi dari cafe itu.


Paul membanting cangkir di mejanya dengan kesal. Berani sekali orang brengsek itu, pikirnya. Akan kubuat dia menderita supaya dia berpisah dari Erin! Batin Paul.


Bertahun tahun ini Paul mencari Erin tapi belum menemukannya. Vicky pun bertindak seolah dia tidak tau dimana Erin. Vicky bisa membuat Paul berpikir kalau dia pindah karena muak melihat Paul yang membuatnya kehilangan Erin. Paul tidak pernah tau Vicky kemana. Sampai akhirnya Paul menyewa tenaga profesional untuk mencari Erin. Sangat sulit karena Erin mengganti nomor hpnya dan menutup akun sosmednya. Karena itulah membutuhkan beberapa tahun untuk mencari Erin.


Paul datang ke bengkel dengan kesal. Erin menyambutnya. "Lu dari mana Son koq pegi ga bilang bilang? Tadi ada orang yang motornya cuma mau dimodif sama elu. Bingung gw nyariin lu." "Ada urusan sedikit tadi dear." Sony mengecup pipi Erin.


Malamnya mereka makan berdua karena Henry sedang kencan. "Rin... apa lu bahagia bareng gw?"tanya Sony. "Apaan sih pertanyaan macem apa itu." Jawab Erin sambil mengunyah. "Serius nanya gw Rin. Apa lu hepi bareng gw?" "Son, kalau gw ga hepi sama lu, gw pasti udah pergi. Kenapa sih lu tiba tiba nanya aneh begitu?"


"Rin, gw tuh bukan orang kaya, ga punya apa apa. Apa lu ga tertekan hidup sama gw? Gw ga bisa kasih lu barang barang branded. Ga bisa kasih lu keluar negri. Apa elu ok dengan itu?" Erin menaruh sendok garpunya, dia memegang tangan Sony. "Son, lu kaya baru ketemu siapa gitu ya tiba tiba aneh gini." "Ga ketemu siapa siapa koq Rin." "Apa lu ketemu Han? Dia dulu sempet nanya hal yang sama meski ga separah elu nanyanya." "Mana bisa ketemu Han orang dia udah meninggal."


Erin menghela nafas. "Iya gw pernah pacaran sama orang kaya Son. Tapi bukan berarti harus kaya baru jadi cowo gw. Yang berarti buat gw tuh pasangan gw care sama gw, ga nyakitin gw, that's all."


"Iya sih. Kalo lu sematre itu mana mau pacaran ma gw ya." "Nah lu jawab sendiri kan." "Tapi lu belum jawab gw Rin, apa elu hepi sama gw." Erin menyentuh pipi Sony. "Sayang, gw bahagia sama elu. Gw sayang elu. makanya gw mau jadi istri lu. Udah jangan banyak pikiran, cepet abisin makannya. Yang abis belakangan cuci piring." Erin cepat cepat menghabiskan makanannya supaya Sony yang cuci piring. Sony tertawa melihat kelakuan Erin.


Seminggu berlalu...


Hubungan Erin dan Sony baik baik saja. Mereka masih sibuk dengan persiapan pernikahan. Hari ini mereka fitting baju pengantin untuk pertama kalinya. Saat Erin sedang memakai bajunya, telpon Sony berbunyi.


"Halo Sony. Wah peringatanku diabaikan. Malah fitting baju pengantin. Erin terlihat cantik sih. Tapi sayang gaunnya murahan sekali. Tunggu ya... akan ada kejutan buat orang yang tidak mau mendengarkan aku." telpon langsung ditutup.


Sony kaget. Dia serius, batin Sony. Erin keluar dari fitting room, tersenyum lebar saat menggunakan gaunnya. "Gimana Son, lu suka?" "Ga bagus! Ganti aja gaunnya!" "Loh Son kan waktu itu kamu yang pilihin gaunnya. Koq jadi ga bagus? Ga cocok sama gw nya ya?" Sony mendengus. "Ganti aja! Cari yang bagus!" Erin manyun. Napa sih ni orang ngedadak nyebelin, batinnya.


Paul melihat dari jauh Erin yang menggunakan gaun pengantin. Lu selalu cantik bagi gw Rin. Gw kangen banget sama lu. Gw pengen bisa bareng lu lagi. Batin Paul.


Di tokonya Vic lagi bersantai, Roger nelpon dia. "Hai Vic, gw merid bulan depan. Dateng ya." "Iya tar gw dateng." "Sepi nih ga da lu disini, ngumpul cuma bertiga. Sekarang berdua. Si Paul lagi ada urusan lagi." " Kemana emang si Paul?" "Ke Bali, peresmian hotelnya yang waktu itu." Vicky yang sedang minum kopi tersedak. "Napa lu Vic?" "Gapapa tar gw hubungin lu lagi ya." Vicky langsung menuju bengkel Sony.


Vicky langsung menarik Sony. "Son, gw denger kabar si Paul ada di Bali. Dia ga tau tempat ini sih. Tapi hati hati aja. Kalau bisa ga usah ke tempat keramaian dulu si Erin. Takutnya malah ketemu. Mencegah aja lah." Sony hanya mengangguk.


Erin keluar. "Viiic, dah lama ga liat lu." Erin memeluk Vicky. Vicky merasa tubuhnya dialiri sengatan listrik. "Makan yuk. Gw masak ayam asem manis ma capcay. Lu kan suka asem manis. Yuk." Vicky mengangguk. "Sayang, ayo makan dulu, motor terus yang dipelototin." Sony pun mengikuti Vicky dan Erin untuk makan.


Vicky beberapa hari tidak ke bengkel karena berusaha melupakan Erin. Tapi dia tidak bisa. Hari ini dia tergesa ke bengkel dan entah bagaimana melihat Erin saja membuat hatinya tenang. Vicky baru deg degan kalau dipeluk Erin kaya tadi. Erin seperti candu bagi Vicky.