My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
58.



Vicky dan Paul tiba di rumah sakit. Kesadaran Vicky sudah pulih. Dia segera membuka pintu dan berlari bahkan saat Paul belum memarkirkan mobilnya dengan benar. Paul berlari menyusul Vicky. Vicky mencari cari Erin. Seorang suster menghampirinya, memberikan ponsel Erin dan berkata "Kami perlu tandatangan anda. Istri anda kritis, harus segera dioperasi." Mata Vicky dan Paul membulat. Vicky segera menandatangani berkas. "Tolong selamatkan istri saya. Hanya dia yang saya punya." Vicky mulai menangis. Paul memanggil kepala rumah sakit. Ternyata rumah sakitnya milik keluarga Jayatama. Paul memastikan Erin harus diselamatkan dan meminta kepala rumah sakit memanggil dokter dokter kompeten untuk menangani Erin.


Vicky terduduk di depan ruang operasi dan menangis. Dia sangat takut kehilangan Erin. Setelah semua perjuangan dia untuk bisa bersama Erin, setelah akhirnya Erin menerimanya dan membalas cintanya, setelah banyak gangguan dari mantan mantan Erin, kenapa hal ini harus terjadi, batin Vicky. Paul menepuk nepuk punggung Vicky. Air mata Paul pun mengalir deras. Ya Tuhan kalau dia ga bisa bareng sama gw ga apa. Yang penting gw bisa liat dia hidup dengan bahagia. Setelah yang Erin lalui karena perbuatannya, Erin layak bahagia kan? Batin Paul.


Ponsel Erin berbunyi. Vicky mengangkatnya. "Sori Rin tadi gw panik jadi ninggalin telpon. Vicky udah dateng belom? Han udah agak tenang nih tadi dia mabok sampe nyayat tangannya Rin." Vicky terdiam. "Rin... Rin... lu jadi kesini?" "Jadi Erin mau kesana tadi Hen?" "Loh Vic? Iya tadi katanya mau nunggu elu dulu. Dia mabok berat manggilin Erin terus. Trus si Han teriak gw dobrak pintu dulu dah berdarah darah tangan dia. Kita lagi siap siap ke rs buat obatin tangan si Han. Takutnya kalian kesini kita pegi." "Oh... jadi Erin mau kesana gara gara Han mabok berat dan luka? Ga kita ga jadi kesana. Kita ketemu di rs Jayatama aja." "Oke Vic."


Paul menatap wajah Vicky yang mengeras. Dia menggertakan giginya menahan amarah. "Kenapa Vic?" "Erin ternyata mau nemuin Han. Dia mabok berat manggilin Erin sampe si Henry panik karena ngamuk dia di kamar. Tadinya Erin mau nunggu gw. Tapi si Han teriak kenceng dan mereka disana panik. Jadi Erin ga nunggu gw. Coba gw ga keluar, Erin ga kan apa apa." Vicky menangis kesal. "Bakal gw hajar si Han. Sampe bikin semua orang ribet dan Erin kecelakaan." geram Vicky. Paul diam. Gw juga pengen hajar si songong itu, tapi kudu ngalah dulu ma si Vic, dengusnya.


Tak lama Han dan Henry sampai di rumah sakit. Vicky langsung menghampiri Han yang pergelangan tangannya dibalut kassa. Vicky langsung menghajar Han tanpa ampun. Paul hanya tersenyum miring melihatnya. "Vic... gila lu Vic kenapa lu?" Henry berteriak teriak. Satpam menghampiri mereka. "Heeeiii..." kata Paul sambil menggelengkan kepalanya. Menyadari siapa yang berbicara satpam itu pun pergi.


"Sini lu Hen." kata Paul memanggil Henry. Paul ingin Vicky menghabisi Han, secara dia juga sebel sama Han. "Lu manggil Erin gegara si Han tadi? Good! Sekarang Erin ada di ruang operasi gara gara kalian!" Henry membelalakan matanya. "Apa? Erin? Ruang operasi? Kenapa???" "Kecelakaan waktu make ojol mau ke tempat lu. Kalian bikin dia panik sampe dia ga nunggu Vicky." Henry terkulai lemas terduduk di lantai.


Paul menarik Vicky. "Udah udah. Jangan sampe mati tangan lu kotor ntar. Kesian Erin butuh elu " Vicky pun menghentikan pukulannya. Paul memanggil petugas IGD. "Obatin nih sampah bawa pergi dari sini." mereka pun bergegas membawa Han.


Vicky bergegas masuk ke ruang VVIP. Paul menyuruh petugas memberikan kamar yang terbaik buat Erin. Erin terbaring lemas dan pucat. Dia belum sadar. Kaki tangannya luka banyak baret. Kepalanya diperban. Pipinya lebam. Vicky menangis melihatnya. Paul pun menangis. "Gw bakal ngerawat dan ngejaga elu sampe sembuh Rin. Segimana elu selalu ngerawat gw." Paul membatin, gw juga mau rawatin Erin. Sakit banget liat Erin kaya gini. Henry masuk dan terbelalak melihat Erin. Henry menangis. Han ga diperbolehkan masuk. Paul dah minta penjaga yang larang Han masuk.


Han yang sudah tersadar, menangis di depan kamar Erin. Gini perasaan Erin waktu dulu gw masuk RS. Ya Tuhan semoga Erin ga apa. Gw cuma mau liat dia bahagia aja udah cukup udah. Gw ga akan melakukan hal bodoh lagi atau maksa dia lagi. Selamatkan Erin ya Tuhan, batinnya.


Vicky memegangi tangan Erin, menciuminya, menaruhnya di pipi Vicky. "Bangun sayang. Gw nungguin lu ini." "Sabar Vic, obatnya kan masih kerja."


Tak lama kemudian Erin membuka mata. "Lu bangun sayang." Vicky menciumi Erin. "Vicky? Gw kenapa tadi?" "Kamu kecelakaan sayang. Tapu ga usah khawatir lu baik baik aja sekarang." Vicky tersenyum sambil mengusap usap tangan Erin. Erin menarik tangannya dengan jengah. "Oh gitu. Udah ada kabar dari Han belum Vic?" "Kabar apa sayang? Dia ada di luar koq."


"Dia kan kecelakaan lagi balapan. Lu gimana sih? Dia dah pulang berarti ya kalo ada di depan? Kenapa dia ga kesini? Boleh tolong panggilin Han?" Vicky menatap mata Erin bingung. Paul tiba tiba masuk ingin melihat Erin. Erin melihatnya dan menjerit. "Mau apa lu disini? Pergi! Gw ga mau liat elu? Vic, kenapa bisa dia disini? Elu yang manggil? Kenapa lu tega Vic? Lu tau kan gimana dia ke gw??!!!" Paul dan Vicky saling menatap bingung. "Mana Han? Gw mau Han!"


Vicky mengalah. Dia menarik Paul ke luar dan membawa Han ke dalam. "Sayang.... kamu bener bener dah pulang. Syukurlah kamu ga apa apa. Gw takut banget denger lu kecelakaan." Erin memeluk erat Han. Han kebingungan. Hati Vicky tersayat sayat memdengarnya.