
Erin, wanita usia 27an yang masih single. Cukup menarik, tinggi dan langsing. Dia sebenarnya beberapa kali mempunyai pacar. Namun belum ada yang serius mengajaknya menikah. Padahal teman teman seusia sudah menikah semua. Menjadikan pesta pernikahan adalah hal yang mengesalkan buat Erin. Selalu ditanya :"kapan nikahnya?" meski Erin selalu menjawab dengan senyuman hatinya sakit.
Erin yang sebatang kara tinggal di kost dekat kampusnya dulu. Meski Erin sudah menjadi sarjana, namun ia lebih memilih mengerjakan MLM daripada bekerja kantoran. Erin bekerja dengan giat, jam kerjanya tidak kalah dengan jam kantor. Malah seringkali pulangnya lebih malam.
Malam itu Erin yang baru selesai meeting sampai di kostnya jam 10 malam. Langsung disambut teriakan teman teman kos kesayangannya Tiana, Hani, dan Tia. "Oy, baru balik lu? Cepetan mandi jadi pegi kan?" kata Tiana. " Iya iyaaa... gw langsung mandi"
Begitu keluar kamar mandi... "Rin gw pinjem eye liner lu" "Rin gw mo eye shadow lu yang ada gliternya itu donk." Tiana, Hani, Tia semua berdesakan di kamar Erin untuk berdandan cantik.
"Dah pada siap kan? Bentar lagi si Ray jemput dah deket noh." kata Tiana. "Iyeee udeeehhh... si Marco ma Henry langsung kesana katanya. Ketemu disana aja." kata Tia
Saat tiba di tempat dugem Ray menyapa temannya yang bartender. "Gua bikinin minuman buat cewe cewe cantik ini yaaa" kata Fajar si bartender. Erin, Tiana, Hani dan Tia memekik kegirangan. "Terima kasiih" kata mereka. Erin dan Hani mengeluarkan rokok mereka di meja bar. Fajar tersenyum tampan dan menyalakan lighternya untuk Erin. "Thank you" kata Erin. Mereka pun bercanda, tertawa dan menghabiskan isi gelas mereka. Begitu mulai pusing karena minuman mereka pun turun ke dance floor.
Marco dan Henry yang baru datang langsung berbaur dengan mereka di dance floor. Tetiba seorang pria tinggi dan tampan menghampiri Erin. "Hai... gw temenin u dance ya" kata si tampan. "Thank you, tapi gw barengan sama temen temen gw nih" tolak halus Erin. "Gapapa, gw juga ga bawa lu dari temen temen lu koq." katanya sambil tersenyum tampan. Erin berpikir yawda lah ya mumpung dapet dance partner ganteng gini kapan lagi. yang penting dia ga macem macem. Si tampan mengangguk ke arah Ray, Marco, dan Henry seolah meminta izin untuk dance dengan Erin. Mereka mengangguk balik tapi tetap menatap si tampan. Secara mereka memang merasa harus menjaga 4 sekawan cantik ini.
"Gw Paul. Nama lu siapa?" kata si tampan. "Gw Riri". kata Erin. tidak berniat berkenalan lebih jauh. Jadi Erin tidak mau memberikan nama aslinya. Setelah beberapa saat mereka di dance floor Paul berkata :"Ri, gw open table tuh disana. Ada temen temen gw juga. Minum disana yuk" "Ga ah tengkyu, gw masih mau di dance floor ma temen gw" Erin kembali menolak halus. Paul meninggalkan Erin dan teman temannya di dance floor, menghampiri 3 pria yang merupakan sahabatnya, Vicky, Roger, dan Marcel.
"Tumben lu deketin cewe. Gw kira lu cuma doyan cowo." kata Roger ngakak. "Dapet no hpnya ga tuh, ntar nyesel lu. ga bisa dapet nomernya jangan jangan yah." kata Marcel yang juga ngakak. "Cari mati kalian, nanti juga gw dapet nomernya. Dia bakal jadi cewe gw." kata Paul kepedean. "Buseeet baru kenal mo dijadiin cewe lu?" "Biasa juga lu adem aja dideketin cewe cewe? lnsyaf ya lu?" "Kesambet apa sih lu tumben banget ngebet liat cewe?" Roger dan Marcel terus menggoda Paul, si cowo kulkas yang dingin ma cewe. Baru kali ini ada wanita yang bisa menyita perhatiannya. Makanya Roger dan Marcel ngeledekin Paul abis abisan. Sementara Vicky hanya diam dan menyesap minumannya sambil menatap Erin. Kegiatan yang dia lakukan semenjak Erin dan teman temannya datang.