My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
38.



Dokter mereka datangi berbeda dengan dokter yang memvonis Vicky hidupnya tak lama lagi. Kening dokter berkerut, lalu dia melepaskan kacamatanya. "Ini masih ada harapan Pak. Jangan putus asa. Tapi betul kata istri Bapak, lebih baik ke Penang. Pengobatan untuk jenis penyakit Bapak disana lebih canggih. Meskipun tetap Bapak harus dioperasi dan di kemo.


Vicky dan Erin berbinar binar semangat. "Kapan kesananya baiknya dok? Nemuin dokter siapa? " "Ini saya buat rekomendasi ya pak. Secepatnya pergi lebih baik. Bapak harus semangat, yakin akan pulih kembali. Kasian kalo istri cantik Bapak ditinggal kan. Digondol orang nanti." Vicky terdiam, Erin tersenyum. "Ok terima kasih dok." Lalu mereka pulang.


Sepanjang jalan Vicky manyun. "Kenapa Vic?" "Itu dokter nyebelin! Dia nyangkanya lu istri gw tapi ngomongnya kaya yang pengen flirting gitu sama elu." "Dia becanda kali Vic."


***


Vicky dan Erin mulai mengurusi keberangkatan ke Penang. Erin juga mengatur makan Vicky seperti yang dokter minta. Banyak sayur tanpa minyak dan selalu ada jus buah. Vicky dan Erin makan sehat terus sekarang. Bye bye butter rice. Vicky merengek minta dimasakin pun Erin ga mau.


Seminggu kemudian


Vicky dan Erin menyewa apartemen di Penang. Setelah bebenah mereka istirahat. Besok Vicky akan mulai pengobatan.


Pengobatan ini akan berlangsung sekitar 6 bulan kata dokternya. Vicky dipersiapkan operasi untuk mengangkat jaringan yang terkena kanker. Dan akan dilakukan kemoterapi supaya sel kankernya mati.


Vicky sudah masuk rumah sakit untuk rawat inap persiapan operasi. Erin menginap untuk menemani Vicky. Vicky terlihat tegang. Erin mengajak Vicky berdoa bersama. Erin mengusap rambut Vicky tersenyum. "Semangat ya. Gw nunggu lu disini." "I love you Rin." Erin tersenyum dan mencium kening Vicky.


Erin cukup lama menunggu diluar ruang operasi. Lalu dokter keluar. "Operasinya sukses. Setelah pulih kita lanjutkan dengan kemo ya." "Terima kasih dok."


Tak lama kemudian suster memanggil. "Ibu Erin." "Ya sus." "Pak Vicky udah bangun bu. Dari setengah sadar manggil manggil ibu terus." "Oh ya siap. Saya ikut ke dalam ya." Erin masuk dan mendapati Vicky yang setengah mengigau. "Eriiinnn... Riiinnn..." "Iya Vic gw disini." "Jangan pergi lagi Rin. Jangan jauh dari gw. Jangan tinggalin gw lagi." "Iya Vic. Gw bakal selalu ada buat lu ya." Vicky terlelap.


Henry menelpon Erin. "Riiin... gw kangen masakan luuu. Nasi kuning yang baru itu ga enak." "Iya nanti pulang gw masakin ya." "Yah masih lama kan. Gimana operasinya Rin?" "Lancar Hen." "Syukurlah. Si Paul nyariin lu lagi btw." "Aduh maaf ya Hen jadi nyusahin elu." "Lah gapapa. Untung dia ga tau rumah Vicky juga ya. Ada bagusnya lu sekarang disana. Take care ya Rin. Tar kakabaran lagi. Istirahat gih." " Thanks Hen. Nite." Erin pun tertidur.


Vicky terbangun karena haus. Tapi ketika melihat Erin tidur dia tidak tega. Untungnya suster masuk untuk mengecek Vicky. Vicky menaruh jarinya di mulut maksudnya supaya jangan berisik, supaya Erin ga kebangun. Eh bangun juga si Erin.


"Lu dah bangun Vic. Haus?" "Iya Rin, haus." Erin mengambilkan minum untuk Vic. "Makasih Rin. Lu tidur lagi aja. Lu pasti cape." "Gapapa Vic, lu pasti ga bisa tidur kan. Gw temenin yah." Erin mengelus pipi Vicky yang pucat. Vicky tersenyum lemah. Erin sungguh tidak tega melihat Vicky seperti ini. Mereka berbincang pelan sejenak, lalu Vicky tidur. Erin pun rebahan dan tertidur.


Ketika Vicky bangun paginya dia meringis. Bekas operasinya cukup sakit. Merana sekali. Kalau berbalik sakit, batuk sakit. Erin menghela nafas iba. "Sabar ya Vic. Biar kita cepet jalan jalan lagi ya." "Iya Rin gapapa sekarang sakit. Gw harus sehat supaya bisa nemenin lu terus. Makasih lu nemenin gw Rin. I love you so much." Erin tersenyum dan mengusap kepala Vicky.


Erin mengurusi Vicky dengan telaten, mengajaknya ngobrol, menyuapinya. Tapi kalau urusan kamar mandi minta ma suster. Malu katanya. Erin tersenyum geli.


Seminggu kemudian Vicky dan Erin sudah di apartemen lagi. Menunggu pemulihan dan kemoterapi. Sebenernya bisa pulang dulu sih. Tapi Vicky berkeras tinggal di Penang dulu. Supaya ga digangguin Paul katanya.


Henry masih rutin nelpon Erin. Dia laporan tiap hari Paul ke bengkel. Berharap ketemu Erin. Sony masih banyak diam di kamar. Sekalinya keluar malah ketemu sama Paul dan mereka berantem.


Erin masak sayur rebusan lagi. "Masakin lu gampang ya Vic ga usah banyak bumbu." Vicky tergelak. "Kalau gw ga sayang ma elu ga sudi Rin makan kaya gitu. Ga ada rasanya. Gw kangen butter rice lu, naskunnya lu, ayam asam manis. Sedih gw kalo inget." "Semangat ya Vic. Elu sembuh gw masakin smua yang lu mau ya." Vicky mengecup pipi Erin.


"Meskipun bekas operasi masih sakit dan makanan kaya kelinci gw bahagia Rin. Ada lu di sebelah gw setiap hari. Tiap ngeliat lu gw yakinin ini bukan mimpi. Hachiw... aduuuhhh..." Kesian Vicky tiap bersin dia nangis bekas operasinya sakit. Erin mencium bibir Vic. "Sabar ya, lu pasti cepet sembuh." Vicky melotot, ga nyangka bakalan dicium Erin.


"Vic... Vic..." Erin menyadarkan Vic. "Udah ga sakit?" "Ngga Rin, dicium lu sakitnya ilang. Minta cium lagi dooong... " Vicky monyong monyong centil minta dicium. Erin tertawa ngakak. "Nanti aja kalau sakit lagi." Vicky langsung manyun. Tega banget sih elu sama gw Rin. Pelit bener." Erin mencium pipi Vicky gemas. "Cepet sembuh ya Vic." "Gw pasti cepet sembuh Rin kalau ada lu di sisi gw." "Iya gw ga kan kemamana."