My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
74



Selesai bercinta di tepi kolam, Vicky mengajak Erin mandi. Vicky mengeramasi Erin dan menyabuni Erin. Erin pun gantian mengeramasi dan menyabuni Vicky. Berbagi shower hangat Erin mencium bibir Vicky lembut. "I love you Vic." "Love you more Rin."


Selesai mandi Vicky mengeringkan rambut Erin. Erin tampak mengantuk. "Cape sayang?" "Iyalah hari ini elu ngajakin ml berapa kaliii... sampe lemes ni lutut." Vicky tertawa sama gw juga lemes. Abis kangen banget sama lu Rin. Lama banget ga ml sama lu kan." Vicky menatap Erin sendu. Erin memegang pipi Vicky dan memandangnya lembut. "Makasih sayang buat semuanya. Gw bener bener beruntung punya elu Vic." "Gw juga sangat beruntung punya elu Rin. Please jangan tinggalin gw lagi." "Ga kan ninggalin lu lagi Vic. Maafin gw ya. Lu juga janji jangan tinggalin gw." Vicky mengangguk dan mencium lembut bibir Erin. "Gw bakal selalu ada di sisi lu Rin. Makasih udah jadiin gw lelaki yang paling beruntung. I love you so much Rin." Mereka pun tidur sambil berpelukan.


Paginya Vicky bangun terlebih dahulu. Vicky membuka gorden. Tapi cahaya matahari yang masuk dari tembok kaca itu belum juga membangunkan Erin. Vicky menciumi wajah Erin. Erin menggeliat dan memeluk Vicky. "Yang... lapar." "Sama Vic. Pesen nasi goreng aja yuk yang bikin kenyang." Vicky mengangguk dan memesan sarapan. Setengah jam kemudian pesanannya sampai.


"Makan di tepi kolam yuk." Erin mengangguk. "Pake bikini itemnya sayang " "Makan koq pake bikini?" "Kan udah makan olahraga renang plus plus." Vicky tersenyum nakal. "Vic nakal banget sih... ketagihan trus." "Kangen sayang." Vicky mencium bibir Erin. Mereka sarapan sambil menikmati laut dari ketinggian.


Selesai renang Erin baringan di balon bebek diatas kolam renang. Vicky memandangi istrinya sambil menyesap kopi dan merokok. Lalu Vicky masuk ke kolam dan renang. Erin digulingin dari bebek. Vicky ketawa renang menjauh. Erin ngomel sambil ngejar Vicky. Gitu dapet Erin yang ngomel dihentikan ciuman Vicky. Ciuman itu terus berlanjut dan mereka bercinta lagi di pinggir kolam. Lalu mereka masuk ke dalam dan meneruskan percintaan mereka. Sampai akhirnya mereka berbaring kelelahan di ranjang.


"Vic... minta jatahnya banyak banget." "Kan gw dh bilang kangen sama elu sayang. Lagian view romantis gini pengennya ml trus sama elu." Vicky mencium lembut Erin. "Kita mandi aer anget ya. Biar ga pegel badannya." Erin mengangguk. "Jalan jalan ya Vic." "Iya, dah lama ga jalan jalan. Sekalian makan siang diluar ya. Kata si Paul di deket sini jual baju bagus bagus. Kita beli baju juga ya." Erin mengangguk senang.


Vicky dan Erin melihat lihat pertokoan disana sambil pegangan tangan. Betul betul seperti pasangan yang berbulan madu. Vicky dan Erin memilih milih baju. Mereka berjalan lagi sambil Erin dirangkul Vicky. Mereka berjalan jalan sampai hampir malam. Setelah menaruh belanjaan di mobil, Vicky dan Erin menuju sebuah cafe dengan live music. Musiknya yang asik membuat para tamu bule pun melantai disana. Erin terkagum melihat mereka berdansa dengan sangat baik.


Vicky dan Erin pun melewati malam itu dengan tidur sambil berpelukan. Vicky tersenyum dalam tidurnya. Dia sangat bahagia Erin kembali ke pelukannya.


Paginya setelah mandi dan sarapan Vicky dan Erin pulang ke rumah mereka. Tidak ada karyawan yang tau mereka pulang hari itu. Mereka sengaja ingin mengetes karyawan sparepart dan restonya, meskipun mereka juga mengawasi sesekali lewat cctv. Ternyata mereka bekerja dengan baik. "Rin, kayanya kapan kapan liburan ma karyawan yuk. Seneng senengan aja sama mereka. Sewa villa, tar barbeque." "Boleh tu Vic asik kayanya."


Mereka pun masuk ke rumah dan berbaring di ranjang. Belum lama mereka baringan. Paul teriak depan pintu. "Riiiin..." "Yaaa...." Erin keluar sedang Vicky masih tiduran. "Ini mama abis dari Belgia, gw titip minta dibawain ini, kesukaan elu." Mata Erin membelalak. "Wah, lu masih inget aja Paul. Dah lama banget ga makan ni coklat. Makasih yaaa." Erin berjinjit mencium pipi Paul. Uugh rasanya Paul ingin memeluk Erin.


"Waaah dapet coklat Rin. Bagi donk." "Ga mau ini kan buat gw. Kesukaan gw banget pula. Mana susah dapetnya." "Yaaa pelit sih yang." "Ntar aja dikiiit ya." Vicky manyun. "Paul makan siang bareng yuk ma kita. Tapi delivery aja ya masi cape hehehe. Besok mulai masak deh." "Boleh. Pengen udang rebus Rin, sama kangkung cah, cumi tepung, bawal sambel matah." Erin memegang kening Paul. "Napa Rin?" "Lu gapapa Paul?" "Kenapa apaan?" "Itu makan banyak beneeer." "Hehehe laper Rin." "Ck.. ga kira kira. Kalau lu mau makan apa sayang?" kata Erin menoleh ke Vicky. "Udang asem manis. Udangnya dimasak telung tapi cangkangnya dibuang." "Ahahaha kedoyanan gw itu siii. Beklaaa kita pesen si mr seafood aja ya."


"Gw ke dpn dl ya. Kalo dh dateng makanannya kabarin. Mo cek orderan dulu buat besok." Vicky mencium bibir Erin mesra. Paul salting. Kalau ga gegara si Thomas gw tuh yang diciumin si Erin.


"Sini... sambil nonton aja sinii." Erin menyetel tv dan mengajak Paul nonton. Mereka duduk bersebelahan. Paul terus memandangi Erin. "Paul! Kenapa sih liatin gw gitu amat." "Eh.. maaf Rin.. gw cuma ngelamun." "Ngelamun apaan??" " Kalau bukan gegara si Thomas gw yang dicium lu tadi, gw yang dimasakin lu, disediain makan sama lu, di take care sama elu. Gw kangen lu Rin." Paul seketika merasa sesak mengeluarkan isi hatinya. Erin menghela nafas. "Gw kangen meluk lu Rin..." Erin memeluk Paul dan menepuk pundaknya. Paul menangis. "Paul, lu sebaiknya berhenti kaya gini. Kalau ga kita ga bisa ketemu lagi." Paul terhenyak