
Paul, Henry dan Sony pulang dari rumah sakit. Mereka merasa tidak ada gunanya ramai ramai disana, sebaiknya nanti bisa bergantian. Paul sebenarnya pengen disana terus tapi Erin begitu benci melihatnya. Kalau ingat itu Paul rasanya ingin menangis saja. Henry merasa Erin lebih membutuhkan yang lain dari pada dirinya. Sedangkan Sony, dia merasa iri pada Han. Seandainya yang diingat itu dirinya, dia bisa memeluk Erin lagi. Tapi yah sekarang juga lumayan. Erin ga inget gimana Sony nyakitin dia. Apalagi buat Erin, Sony yang paling nyakitin hatinya.
Di rumah sakit, Erin selalu ingin bersama Han. Hati Vicky bergitu sakit, dia merasa dilupakan. Tapi itu memang bukan salah Erin. Erin memang bukan sengaja melupakan Vicky. Tapi melihat cara pandang Erin kepada Han membuatnya sakit. "Rin, gw beli nasgor deket rumah dulu ya, sekalian ambil baju " "Iya Vic, lu juga istirahat aja di rumah padahal. Pasti cape belon pulang kan. Gw ada Han koq gapapa." Erin tersenyum manis. Vicky hanya tersenyum miring dan berkata :"Gapapa tar gw balik lagi." Vicky pun berlalu.
"Han..." Erin menarik Han dan menggelendot manja di pelukan Han. "Kenapa Rin?" "Si Vicky kenapa ya keukeuh amat mo nungguin gw disini." Han menghela nafas. "Mungkin nanti lu bakal tau sendiri jawabannya Rin." "Kenapa ga elu aja kasih tau gw." "Karena gw mau menjalani setiap momen kita bareng dengan bahagia Rin. Gw seneng banget bisa bareng lu lagi kaya gini. Gw sayang banget ma elu Rin." Han mengecup lembut bibir Erin. Erin membalas kecupan Han. Han langsung deg degan bahagia.
"Luka lu masih sakit Han?" "Cuma dikit. Bekas operasi lu gimana?" "Sakiiit.. ini gerak dikit aja sakiiit. Udah disuru ke wc segala. Keburu pipis sebelom sampe wc." Erin manyun. Han mengecek rambutnya gemas. "Biar lu jalannya bisa biasa lagi sayang. Gw ga keberatan gendong lu ke wc. Cuma kata dokter lu kudu latihan jalan." Erin manyunnya tambah panjang. Han mencium Erin lagi dengan gemas. "Kalau kita ga luka gini ga cuma ciuman nih."kata Han tersenyum nakal. "Ganjen..." kata Erin sambil memeluk Han.
Han betul betul merasa senang. Dirinya selalu dipelukin Erin. "Dah ngantuk ya Rin? Gw usapin sampe bobo ya." kata Han sambil menatap Erin sayang. "Tapi lu jangan pergi lagi." "Ngga bakal sayaaang." Han pun usap rambut Erin sambil sesekali menciumnya. Tak lama Erin terlalap. Han pun ikut terlelap. Han memegang tangan Erin sambil tidur. Tak lama pintu kamar dibuka. Vicky tiba. Dia makan nasgor kesukaannya. Berharap Erin melihat dan mengenalinya. Tapi Erin malah tidur. Berpegangan tangan pula. Selesai makan Vicky merebahkan tubuhnya di kasur sebelah Erin dan tidur.
Paginya Erin bangun duluan. Dia melihat Vicky ada di kasur sebelahnya. Kenapa dia peduli bener sama gw, pikir Erin. Sampe udah ada Han pun dia ga mau pulang. Erin meneliti muka Vicky. Dia tampak sedih dan lelah. Sebaiknya gw ga usah bangunin, pikir Erin lagi.
Vicky ternyata hanya berpura pura tidur. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan Han. Apa Erin mau tinggal dengannya? Ingatannya tidak boleh dipaksakan diingat. Tapi masa dia harus tinggal sama si Han? Ga ikhlas gw, pikir Vicky. Vicky pun bangun dan menyapa Erin. "Pagi Rin. Lu keliatan lebih seger." "Iya Vic. Udah pengen pulang. Bosen." "Trus ntar pulang mau ngapain?" "Biasa lah bantuin Han di bengkel." Vicky tersenyum kecut. Dia membuka hpnya mengontak psikolog yang menangani Erin. Ternyata dia ada praktek pagi itu. Vicky akan mengajak Han kesana bersama.
"Han gw mau ngomong sama lu " Han pun mengikuti Vicky keluar. "Gw mau Erin sembuh. Gw akan lakukan yang terbaik buat Erin. Sebentar lagi psikolog Erin datang. Kita akan konsul sebaiknya gimana ketika Erin boleh pulang. Apa yang harus dilakukan supaya ingatannya cepat pulih." kata Vicky. "Ok. Gw juga mau yang terbaik buat Erin. Kita buat kesepakatan. Apapun yang dibilang psikolognya kita akan ikuti. Demi Erin. Kalau Erin terbaiknya di tempat gw, lu kudu terima. Gw pun sebaliknya." Vicky dan Han pun berjabat tangan.
Di ruang konsultasi Vicky dan Han menceritakan semuanya. Mulai dari Paul, Han, dan semuanya. Psikolog itu mendengar dengan seksama dan manggut manggut. "Saya berbicara dengan Erin tapi tampaknya ingatan tentang Vicky hanya saat bermain bersama. Tidak ada ingatan tentang cinta kalian. Erin belum mengingat Vicky. Yang dia ingat Han. Tampaknya Erin sangat menyesali perpisahannya dengan Han dulu. Jadi memorinya memilih Han."
Vicky menghela nafas. "Dok, Erin sudah hampir pulih. Jadi sebaiknya nanti dia pulang kemana dok? Ke rumah kami apa di tempat Han?" psikolog itu tersenyum. "Maafkan saya. Tapi saat ini akan sangat baik kalau Erin tinggal bersama Han..
Vicky mematung. Dia terpana akan keputusan itu. Kenapa harus seperti ini?