My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
42.



Vicky dan Erin melalui bulan madu mereka dengan sangat bahagia. Mereka pun pulang ke Bali. Besoknya Henry berkunjung. "Kalian tampak beda. Hepi banget dan romantis banget gitu." Vicky dan Erin saling memandang dan tersenyum. Vicky merangkul dan mencium Erin. "Gw sama Erin udah merid Hen." Henry menyemburkan minumannya.


"Udah merid? Kalian merid ga ngasih tau gw? Ga ngundang gw? Gw pikir kalian sahabat gw! Koq kalian kaya gitu sih?" Henry kesal sekali. Erin pindah duduk di sebelah Henry, mengusap ngusap punggungnya. "Hen, kita merid dadakan, beneran ga ngundang siapapun. Kita merid pas lagi liburan itu."


Henry mengangguk angguk. "Iya sih semoga dengan kaya gini Erin bisa lepas dari Paul juga ya. Sini gw pelukin pasangan baru. Selamat yaaa... Henry memeluk dan mencium pipi Erin dan Vicky. Vicky langsung menyusut bekas ciuman Henry. "Geli tau cowo cium cium gitu!" Vicky melotot. Erin tertawa.


"Ini harus dirayain niiih!!! Hayu kita ke resto! Kalian yang rajin bikin anak yah, kasi gw ponakan!" Erin mengerucutkan bibirnya. "Apaan sih lu Hen." Vicky tertawa. "Iyaaa... gw bakal rajin rajin bikinin ponakan buat lu yaaa."


"Rin ayo cepetan ganti baju. Kita pegi makan." Erin mengangguk dan mengganti bajunya dengan mini dress. Tak lupa dipoles make up tipis. Vicky menatapnya lekat. Henry menoyor kepala Vicky. "Hei biasa aja liatnya! Ga usah sampe ngiler gitu!" " Ya gimana Hen, istri gw selalu cantik banget buat gw sih."


***


Di resto.


Vicky selalu merangkul, memeluk dan mencium Erin. Henry protes. "Bikin gw sirik aja lu Vic." "Aduh Hen, gimana gw ga hepi coba. Lu tau sendiri gimana susahnya gw pengen bareng sama Erin. Gw ga mau lepasin dia lagi." "Iya gw tauuu... tapi lu bikin gw siriiik!" "Ga usah sirik lamar aja cewe lu." "Iya tar gw lamar dia. Kalau gw merid kalian harus dateng." "Iya pasti Hen!"


Mereka berbincang sambil sesekali tertawa. Setelah menghabiskan makanannya, mereka tidak segera beranjak, masih mengobrol disana. Tiba tiba terdengar suara yang agak familiar bagi Erin. "Vicky, kamu ternyata disini sayang." Erin menoleh dan wanita itu kaget. "Erin! Kamu juga disini?" Vicky dan Erin ga kalah kaget. Wanita itu melihat tangan Vicky yang melingkar di bahu Erin. Menyadari itu Vicky mengeratkan rangkulannya.


Henry bingung. "Iya mama Paulina saya dah lama disini. Dan Erin sekarang sudah menjafi istri saya." Mama Paulina membelalak kaget. "Kapan kalian menikah? Pasti baru ya. Paul belum cerita kalian menikah. Bahkan dia masih mencari Erin. Aduh Paul!" mama Paulina tepok jidat.


Erin mengajak Paulina duduk. Dan Vicky menjelaskan singkat mengenai Paul, Vicky, dan Erin. Mama Paulina menghela nafas. "Maafin Mama ya Vicky, Erin. Mama ga becus ngajarin si Paul. Mama tau sebenernya Paul maksudnya baik. Cuma emang betul betul keras kepala dan nyusahin semua orang." Vicky dan Erin tersenyum. "Ya udah ma gapapa, yang penting sekarang Vicky udah jadi suami Erin." Trus kenapa rambut kamu kaya gitu Vic? Kamu juga kurusan sekarang?" Vicky menghela nafas dan menceritakan penyakitnya yang sudah sembuh dan bagaimana Erin merawatnya.


Telpon mama Paulina berbunyi. "Iya Paul. Mama udah beres. Ga usah mama udah sama supir." Mama Paulina menutup telponnya. "Mama pulang dulu. Mama juga mau berbicara sama Paul. Dia akan disini beberapa waktu memegang usaha mama disini. Semoga kali ini Paul mau mendengarkan Mama kali ini. Semoga terus berbahagia anak anak Mama." Mama Paulina memeluk Vicky dan Erin.


***


Di rumah Paul di Bali, dia sedang melihat foto fotonya bersama Erin dulu. Dia tersenyum melihatnya. Mama Paulina yang baru datang meletakkan tasnya di sofa. "Senyum senyum liat apa kamu Paul?" "Paul lagi liatin Foto Paul sama Erin dulu Ma." Paulina menghela nafas. "Paul, kamu masih ingat kekacauan yang kamu buat gara gara Thomas dan Vina?" Paul mengerlingkan matanya. "Paul kan udah minta maaf Ma. Paul kan maksudnya baik, dianya yang jahat." "Betul. Tapi kamu ga mau dengerin mama, Erin, dan teman teman kamu. Akibatnya apa? Kamu kehilangan Erin. Mama mendapat malu." Paul menunduk.


"Paul, kalau kamu masih anggep mama ini mamanya kamu, mama minta kali ini aja dengerin mama. Bisa?" "Mama koq gitu sih ngomongnya?" "Bisa ngga?!!" "Iya ma iya gitu amat sih!" "Dengerin mama baik baik. Mama ga mau lagi dapet malu gara gara kelakuan kamu!" "Iya Ma." "Mama minta kamu lupakan Erin dan jangan cari dia lagi."


Paul membelalakan matanya. "Kenapa bilang gitu ma??? Mama kan tau Paul sayang banget sama Erin. Mama juga kan? Mama sampe ikut nyariin Erin. Kenapa sekarang mama bilang gitu?" "Jangan permalukan mama Paul! Erin sekarang sudah menikah!" Paul seperti tersambar petir. Dia begitu linglung, dia terduduk dengan bingung.


"Gimana bisa? Paul udah gagalin merid dia sama Sony. Sony sekarang di bengkel terus ga pernah ketemu Erin lagi. Gimana bisa Erin merid?"


"Kamu bilang apa! Erin mau merid sama siapa yang kamu batalin?? Kamu ngapain Pauuulll???" Paul menggelengkan kepalanya pusing. Paul bilang Sony tinggalin Erin, dia miskin ga kan bisa bahagiain Erin. Dan Sony benar benar batalin pernikahannya. Sampai Erin keluar dari rumah Sony dan tinggal di tempat Vicky." "Pauuulll... kamu benar benar bikin malu mama!!! Kenapa kamu nyusahin Erin terus sih? Apa dosa dia sama kamuuu!!!"


"Ga ada ma. Paul cuma mau menikah sama Erin." "Astaga kamu betul betul keterlaluan!!! Jangan deketin Erin lagi! Kamu emang anak mama tapi bener bener bikin malu. Nyusahin orang terus! Mama ga pernah didik kamu jadi jahat dan egois gitu! Tinggalin Erin! Dia udah menikah!"


"Tapi ma, emang Erin merid sama siapa?" "Vicky." Paul jatuh terduduk. Dia shock. "Paul. Udah empat taunan hubungan kamu sama Erin berakhir. Sekarang saatnya Erin bahagia dan kamu lanjutin hidup kamu."